Minggu, 14 Juli 2019

Galaunya Aku dan Kurang Ajar-nya Sal Priadi

Gue adalah tipikal orang yang kesel kalau ada orang yang lagi galau terus malah dengerin lagu sedih tiap malem. Gue tuh mikir ya itu bukannya malah mengiyakan kesedihan lo dan bikin kesedihan itu nambah parah. Ibaratnya nih ya ada api eh malah tu orang siram pake bensin. Kan coba berapa IPK-nya coba tanya.

Itu tadinya, sebelum sebulan ini gue tau ada orang kurang ajar yang namanya Sal Priadi. Gue yang gak galau sama sekali, 0% putus cinta, dan anti perbudakan atas nama cinta ini tiba-tiba OVERLOAD KEGALAUAN ABIS DENGER LIRIK-LIRIKNYA SAL-PRIADI-SI-MANUSIA-YANG-KURANG-AJAR-PAKE-BANGET-SEGEDE-URANUS.

Gue tuh gak paham, ya. Gue pacaran aja kagak, gimana bisa putus cinta. Masa gue tiba-tiba galau tapi gak tau galau sama siapa.

Ini gak bisa masuk di akal gue beneran. Perasaan-perasaan yang meluap ini, yang gak bisa gue kontrol, gak bisa sama sekali gue kalkulasi pake logika apa pun.

Efeknya adalah gue jadi bikin post galau di Instagram, seakan-akan aing punya pacar gitu loh. Sebel. Lalu gue jadi hapus ratusan postingan gue, menghancurkan feed yang sudah gue susun rapi selama tiga tahun. Menyebalkan. Sungguh.

Coba ya, dimana masuk akalnya orang yang gak galau tiba-tiba ikutan sedih cuma karena denger lirik lagu? Ganggu banget.

=====================

Tapi,

Saking tidak tahannya tiba-tiba nangis nginget liriknya lagi (I don't wanna be a sadboi, please), gue akhirnya curhat sama seseorang.

Selama curhat gue haqqul yaqqin akan terlihat bodoh karena kegalauan gue gak beralasan dan sama sekali tanpa masalah. Tapi ternyata jawaban temen gue membuat semuanya lega.

Dia ngingetin gue untuk inget bahwa gue pernah bilang semua perasaan adalah anugerah dari Tuhan (ya, gue sering ngomong ini berulang-ulang dan sering lupa juga). Rasa sedih yang gue alami ini (yang tanpa alasan), telah membuat gue mengenal perasaan yang belum pernah gue alami.

Sekaligus membuat gue (mungkin) tambah dewasa. Gak konyol lagi di khalayak ramai. Mulai (sedikit) kalem dan santuy. Juga malah bikin gue ngeluarin karya-karya yang sebelumnya gak pernah kepikiran.

Bukankah cara terbaik meredakan rasa sakit adalah mengiyakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja?

Jadi, yasudah, kita syukuri saja lagi. Alhamdulillah.

Juga terima kasih untuk Sal, terima kasih.

Lalu mari kita tutup post ini dengan tiga lirik ciptaan dia yang paling bikin gue gak karuan.

Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku agar kau tahu rasanya hampir mati ditikam patah hati. (dari lagu dengan judul NYALA)

Bayangkan betapa cantik dan lucunya gemuruh kecil ini disanding rintik-rintik yang gemas. (dari lagi dengan judul Amin Paling Serius)

Kelak terulang lagi, kau mintaku runtuhkan bumi di atas kepalamu. Dan ku percaya lagi. (dari lagu dengan judul Kultusan)

Kita dan Kata yang Menyakiti

Kalau kau percaya bahwa kata-kata positif membawa dampak baik bagi kehidupan. Apakah berlaku sebaliknya?

Hidup kadang tidak menempatkan kita di tempat yg sukai. Baik dari kejadian-kejadian yang kita benci atau congor-congor orang yang menyakiti hati.

Tapi setiap hal selalu datang bersama alasannya sendiri. Bahwa kata-kata menyakitkan bisa jadi bahan bakar paling efektif agar diri berkembang.

Saat kau belajar sesuatu dan skill-mu biasa-biasa saja, lalu seseorang datang dan bilang, "Bagus kok." Kamu akan merasa puas dan cukup dengan apa yang telah dilakukan. Lalu kemungkinan akan berhenti di sana. Hanya di sana.

Banyak manusia memiliki alasan berkembang karena dianggap payah, dianggap tidak bisa melakukan apa-apa, tidak berbakat, tidak punya kesempatan, lemah, atau dianggap sedang dalam kondisi yang paling tidak kondusif untuk mencapai sesuatu.

Jadi, apa benar kata-kata negatif memang se-negatif itu untuk hidup kita?

Pelaut andal tidak lahir dari laut dengan ombak yang tenang.

Apa yang pahit bagimu juga adalah amanah dan kesempatan dari-Nya untuk kamu agar bisa lewat jalur express dalam naikin level diri jadi manusia yang semanusia-manusianya. Nikmatilah pahit itu dan mari ktia juga ucapkan selamat datang pada kesakitan.

Soalnya kata Bu Dokter, kalau kita menerima bahwa diri kita sedang mengalami kesakitan, sakitnya bakal lebih gak sakit. Yosh!