Minggu, 18 Juni 2017

Pulang Ramadhan Ini

Ramadhan tahun ini ada tiga orang yang pulang,

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang kerabat pamit pulang ke kampung halaman. Mungkin akan sulit menemuinya lagi karena tugasnya di kampus untuk belajar telah selesai, saatnya dia pulang.

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang kawan yang biasanya masih hilir terlihat sibuk menuntaskan amanah, kini terlihat tak ada. Rumah dekat namun biasanya tak bisa pulang karena kesibukan. Saat ini adalah kesempatan untuk lama berhangat bersama keluarga, saatnya dia pulang.

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang sahabat pulang. Pulang, dijemput ajal. Masanya di dunia telah selesai, saatnya dia pulang.

Dalam putaran waktu yang bisa kita hitung, hari kemenangan itu akan tiba. Kemudian logika bermain dengan iman, "Akankah sampai?"

Waktu pasti sampai, namun yang jadi pertanyaan apakah kita tetap nyata dalam putaran masa atau hilang ditelan bumi karena waktunya tiba?

Terlalu jauh jika kita menanyakan akankah bertemu Ramadhan tahun depan, karena sampai detik ini pun tak ada jaminan kita sampai di akhir bulan.
Karena sampai detik ini pun tak ada jaminan kita masih berpuasa esok hari.
Bahkan sampai detik ini tidak ada jaminan kita masih bisa berbuka sore nanti.

Ajal adalah misteri, dan manusia menjadi objek utama dalam putaran misterinya.
Jika kita sadar, banyak yang ternyata telah mendahului, satu per satu hingga nanti tiba pada giliran diri, siapkah?

Siap tak siap, bahkan sampai hari-hari akhir Ramadhan seperti ini, jika kita perlahan mengevaluasi, kita akan menyesal sendiri.

Tidak cukup hanya menyesal, banyak yang mungkin akan memutuskan untuk memulai kembali ibadahnya, memulai kembali bacaan  Qurannya. Tapi jangan terlalu percaya diri, karena bisa jadi hempasan bismillah yang kita keluarkan nanti bersamaan dengan hembusan nafas yang terakhir.

Niat yang kita teguhkan bisa jadi diikuti ruh yang sebentar lagi akan keluar.

Air mata yang membuncah keluar karena penyesalan bisa jadi segera hilang dan berhenti beriringan dengan detak yang juga berhenti.

Jumat, 02 Juni 2017

Pelangi Itu Sudah Muncul Ya, Ksat?

Sepertinya kepergian sudah mulai menciptakan senyum pada semua orang. Mengajarkan bahwa perpisahan kan tidak semenyedihkan itu. Rupanya hati lebih cepat bisa menerima, serta mental sudah lebih kuat dari sebelumnya.

Mungkin karena pergi, kesadaran itu jadi punya tempat untuk beraktualisasi.
Selama ini ia terpendam di bawah fondasi asrama, lalu disiram oleh air mata, kemudian tumbuh perlahan menyebarkan semerbak alami kesturi.

Tapi jangan bersantai, tumbuhan itu bisa saja mati jika hanya kau lihat keindahannya.

Rawat ia terus dengan kekeluargaan, sirami akarnya dengan amal, beri ia pupuk dengan doa, dan jauhkan ia dari serangga-serangga yang akan merusak manfaat tanaman itu.

Juga biarkan saja serangga yang bermanfaat, yang menyebarkan bibit tanaman kita ke tempat lain, kebaikan kan jangan disimpan untuk kita-kita saja.

=================================

Pelangi itu sudah mulai muncul ya, Ksat?

Bahwa ternyata rasa sakit mengajarkan diri untuk lebih peka akan hangatnya keluarga.

Hanya saja, cukup untuk air matanya. Besok, lusa, dan sampai dua belas bulan lagi... gedung asrama ini jangan terlalu sering merasakan kepergian. Bertahanlah, sambil merawat tanaman indah yang sedang tumbuh karna kehilangan.

Menghangatlah, dalam asrama.
Menghangatlah, dalam robithoh di tiap pagi kita. :)