Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juli 2022

Perubahan di Tempat Kerja

Baru-baru ini kantor lagi restrukturisasi personel. Hal itu juga berdampak terhadap tim gua yang pada akhirnya harus dibagi dua. 

Hal tersebut juga membuat gua handle beberapa unit baru dan beberapa orang-orang baru, termasuk sebagian tim yang lama. Artinya juga, gua perlu melepaskan beberapa orang untuk pindah ke divisi lain. Termasuk the person that I rely the most soal kerjaan, tandeman gua yang selama tiga tahun ngembangin unit bareng-bareng. 

Awalnya gua pikir gua bisa dengan mudah membuat semua hal terkendali dan tidak ada yang berubah. Tapi ternyata itu harapan yang salah besar: Perubahan gak pernah terkendali, tapi tetap HARUS terjadi. 

Politik antar divisi, kedekatan personal yang dibangun mulai merenggang, sentimen dan kecemburuan, serta segala hal lain yang gua pikir gua bisa prevent ternyata gak bisa sama sekali. Akhirnya gua sadar bahwa kejadian-kejadian tersebut emang perlu ada.


Penting untuk memahami bahwa perubahan emang harus terjadi. Jujur, adaptasi sama kejadian-kejadian ini sempet bikin gua kewalahan. Gua merasa harus mengendalikan segala hal agar baik-baik saja. Hasilnya gua kecapean sendiri.

Dua hari kemarin gua analisis ulang mana yang jadi tanggung jawab gua dan mana keinginan gua. Ternyata kemarin kecampur tanpa sadar. Sekarang gua mau nata lagi dan sekalian ngebenerin root gua dan tujuan gua. Hope it becomes better.

Minggu, 07 Oktober 2018

Tentang Memaksimalkan Waktu

Berpindah dunia dari dunia akademis ke dunia karir cukup merubah banyak pola dalam hidup,

Pola tidur, pola makan, pola pikir, dan yang terpenting adalah pola karya. Sebetulnya di tempat kerja saya, kerjaan saya buat karya. Tapi sungguh beda karena banyak batas-batas dan aturan yang menantang saya untuk berpikir lebih, artinya karya yang saya buat tidak sebebas ketika diri ini tidak terikat dengan apa pun.

But that's life. Segala hal tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

Maka saya mencoba beberapa rekayasa manajemen. Namun seringnya gagal karena bekerja di bidang sosial memang menguras waktu karena kita bermain dalam ranah idealisme. Akhirnya saya coba rekayasa waktu: memotong kebutuhan waktu saya di perjalanan. Biasanya perjalanan untuk pulang dan pergi Bogor-Gondangdia-Bogor adalah 4 jam (atau 1/6 dari waktu saya tiap hari).

Lucu dengan membayangkan bahwa saya tidak mendengar saran orang-orang sekitar bahwa sebetulnya uangnya bisa ditabung dibanding dipakai sewa kamar di Jakarta yang costnya dua kali lipat dibanding di UI dulu.

Saya sepakat uang itu penting, namun bukan tujuan, harta adalah konsekuensi. Juga in syaa Allah saya masih menganggap intensitas menabungan saya cukup (ya walau gak banyak-banyak amat si).

Bagi saya yang terpeting sekarang adalah tidak membiarkan otak dan jiwa saya mengerut karena terlalu banyak mengalah dan melakukan aktivitas rutinan hahaha.

Jadi mari kita lihat keberhasilan cara ini, pun gagal mari kita nikmati saja karena dari gagal juga kita jadi belajar.

Doakan aku ya wankawan.