Minggu, 28 Mei 2017

Petak Umpet

Kita sama-sama tahu bahwa kita menyayangi hal yang sama.

(kehilangan kata-kata di bagian ini)

Maka bicaralah,
Jika kamu ternyata memang peduli pada saya maka bicaralah, jika kamu sudah mulai ingin berdamai bicaralah, atau jika kamu masih marah pada saya maka bicaralah, pipi saya siap untuk kamu tampar, hidung saya siap untuk kamu tinju. Saya ingin tahu bagaimana tensi sebenernya kamu pada saya, maka jangan siksa saya dengan diamnya kamu.

Jangan menghindar seperti ini, saya ingin membuat semua baik tapi tembok yang kamu bangun begitu tinggi. Saya ingin tidak ada apa-apa, tapi mungkin kamu berpikir tidak ada apa-apa artinya tidak berhubungan sama sekali. Itu namanya ada apa-apa.

Jika memang luka itu masih basah ya sampaikan saja, "Kang, saya masih sakit."

Bukan dengan berjuang sendiri menyembuhkan luka dan bilang pada saya bahwa luka itu sudah sembuh. Sembuh di bagian mana jika kamu masih menjauh? Sembuh seperti apa jika masih sesak tiap mengingat kejadian itu?

Jadi saya duduk di sini, masih duduk. Di bukit hijau menghadap kota, jika kamu mau mulai bicara... tempat duduk di sebelah saya masih bisa untuk kamu duduk.

Jadi kalau kamu mau, saya bisa jadi orang yang mendengarkan sakitnya kamu dan menceritakan kondisi lukanya. Saya masih duduk di sini. Segeralah siap untuk bicara, karena yang terluka bukan hanya kamu. Luka punya saya juga masih menganga, namun saya mau berdamai dengan luka saya. Kamu mau saya bantu? oh maaf... kamu bisa bantu saya?

Maka jika kamu mau, silahkan duduk di sebelah saya. Kita susun rencana pengobatan ini agar orang lain tidak ikut terluka seperti kita. Karena maafnya saya tidak bisa saya keluarkan lagi dalam kata-kata, saya ingin minta maaf dengan memperbaiki kesalahan saya: pada kamu dan pada mereka.

Maka bicaralah, sampaikanlah.

Minggu, 14 Mei 2017

Kita akan Terbiasa

Hidup layaknya gerbong kereta, kita masuk berbarengan dan tak tahu siapa yang akan tiba di stasiunnya masing-masing.

Tiada yang berharap sejak awal akan seperti ini, qadarallah, semuanya sudah terjadi. Allah ingin kita segera mencari hikmah dari apa-apa yang kita alami.

Saya tidak meninggalkan kalian, serta kalian tidak pula meninggalkan saya. Tidak ada yang benar-benar berpisah, hanya jarak yang mungkin tidak akan sedekat biasanya. Tidak ada yang benar-benar berpisah, hanya kita dipaksa untuk terbiasa pada perubahan lebih cepat dari yang seharusnya.

Tidak ada yang perlu ditangisi, sebab diri tidak benar-benar pergi. Tidak ada yang perlu ada yang merasa bersalah, sebab apa-apa yang terjadi sekarang benar-benar memberi pelajaran yang banyak bagi saya.

Kita akan terbiasa dengan ketidakadaan, ini hanya soal waktu. Saya akan rindu senyum yang akan segera muncul di wajahmu.

Kita akan terbiasa dengan ketidakadaan, ini hanya soal waktu. Kini saya menanti status "alumni" yang nanti akan kalian dapati.

Kita akan terbiasa dengan ketidakadaan, untuk setidaknya menunjukan rupanya kaki-kaki yang bertahan akan terasa lebih kuat tanpa keberadaan seorang.

Jujur, saya belajar banyak dari kesalahan saya. Terima kasih telah terlibat dalam hal besar di hidup saya.

=====================================================
Pergi bukan berarti melupakan, ia bisa jadi manifestasi dari cinta dan pembuktian. Pergi bukan berarti mengabaikan, ia bisa jadi adalah misi penyelamatan. Kepergian tidak selamanya menyakitkan, ia perlu dinikmati hingga kita nanti sama-sama tersenyum pada langit dan mengerti bahwa tiada kata lain yang dapat dilakukan kecuali penerimaan.

Ingin aku tersenyum denganmu lebih lama lagi, untuk memerhatikan segala tingkah konyolmu pada persimpangan kebimbangan. Ingin aku memarahimu lebih lama lagi, sekedar karena sampah yang lama tak dibuang atau mungkin karena meja belajarmu yang dibiarkan berantakan. Ingin aku bahagia lebih lama lagi, bertepuk tangan pada tiap pencapaian kecil yang kau dapatkan dan meneriakannya pada orang-orang. Ingin aku menangis lebih lama lagi, di dalam kamar nol, sendiri, kemudian keluar dan tersenyum lagi.

Ingin aku bersamamu lebih lama lagi, memegang pundakmu lalu menarik tangismu ke bahuku. Erat dan hangat. Menenangkan serta menyejukan. Hanya saja, ya, semuanya harus berhenti di sini. Kini waktu menghentikan segala ingin yang aku punya. Ingin aku menginginkan lebih banyak lagi, namun kata harus terhenti. Mimpi harus segera diganti. Serta cinta harus segera diuji.

Ada satu ingin yang mungkin masih bisa aku lakukan: “Ingin aku mencintaimu lebih lama lagi.”

Sebab mencintai tidak mengenal jarak dan ruang. Meski kita sudah tak lagi di bawah langit asrama yang sama, meski kita tak bertemu sesering biasanya, meski aku kehilangan keinginan-keinginan yang aku punya, tapi cinta menyatukan kita lebih lama dan selamanya.

Ingin aku mencintaimu lebih lama lagi, Dik.

Dan aku memang akan mencintaimu lebih lama.

=====================================================
Berlarilah, dik. 
Walau daging koyak dan tulang patah.
Hingga si tua kita tersenyum mengingat masa mudanya tidak sia-sia.