Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2020

kegaduhan akan berlalu dengan sendirinya

Sebenernya agak iseng aja ngebatasin buka Twitter dan IG akhir-akhir ini. Kerjaan load-nya lagi tinggi-tingginya gitu kan di bulan Ramadhan, ditambah ada hal besar lain yang harus dirawat terus menerus tanpa lelah. Jadi aja kaya, "Duh udahan dah ini kita batesin aja sementara."

Ta pindahin lah itu aplikasi jadi satu folder yang kunamakan "BATASI" pake warna merah. Gak spesial sih, dulu 2018 juga pernah kan uninstall semua medsos 40 hari gitu, detoksifikasi. Bedanya yang sekarang gak ampe di-uninstall, akan tetapi, walau gak dihapus tuh aplikasi, gue menyadari hal lain yang baru.

Medsos ini selalu menawarkan banyak informasi setiap harinya, lengkap satu paket dengan insekuriti hahahaha. Rasanya ada yang kurang kalau gak ada informasi masuk ke kepala dengan cara instan. Gak terlalu sulit sih mengabaikan keinginan ini karena kerja juga kan sibuk banget udah pusing duluan.

Lalu pagi ini iseng lah buka lagi, ada apaan sih sekarang?

Dari semua berita yang menarik, gue sebut satu aja di sini dah. Ada Youtuber (atau entahlah siapa gue gak kenal) ngelelang keperawanannya ampe 2M buat nyumbang ke krisis Covid-19. Tapi pas scroll ternyata udah klarifikasi, sekarang kondisinya warganet lagi ngomentarin klarifikasinya, Bola terus bergulir rupanya.

Nah, ini kalau gue buka dari awal beritanya keluar (dibuka saat masih anget dan belum ada klarifikasi), mungkin gue udah tenggelam amazed, kesel, bingung, atau apa pun lah pada omongan dia. Baca-baca tweet yang viral soal opini masing-masing, mengiya-enggakan berbagai sudut pandang orang, ketawa karena meme-meme nya, dan banyak lagi.

Tapi saat gue kelewetan semua itu, apa yang hilang dari gue? Ternyata gak ada wkwkwk. Hidup masih harus dijalani, bahkan mungkin enak juga gue gak usah buang-buang ekspresi dan emosi ngikutin dari awal sampe akhir.

Hah, akhirnya gue menyadari bahwa kegaduhan akan reda dengan sendirinya. Semua orang memang punya hasrat buat mengutarakan opini, dan medsos provide itu. Juga karena manusia di bumi itu banyak banget, ngumpul di satu tempat dan BOOM, gaduh, akan jadi energy drainer sih buat gue. Melipir gak ikut mainin bola isu mungkin jadi pilihan yang bijak buat sekarang, jadi ketagihan dan gue.

Kita tetap harus hidup di dunia nyata toh. Menikmati dan mensyukuri apa yang di depan mata, yang bisa disentuh, yang bisa dirasa. Umur manusia itu pendek dan unsur dunia itu banyak banget, sebuah ketimpangan yang menjulang sangat.

Gak semua hal harus kita rasakan, gak perlu memaksa untuk mengalami banyak hal, kita hanya perlu memilih dan merasa cukup.

Udah ah, yok kerja lagi yok.

Minggu, 13 Oktober 2019

Ayo Kita Pindah ke Episode yang Lain

Mari kita tutup episode drama ini, agar seperangkat tubuh beserta prosesornya ini dapat menjalankan programnya lebih optimal, mari kita tutup dengan mengucapkan hamdallah,

Alhamdulillah.

Melelahkan juga disusupi virus merah jambu, menghabiskan energi untuk hal-hal yang harusnya bisa dikesampingkan dulu. Tadinya mau bilang hal sia-sia sih, cuma kayaknya gak sia-sia banget. Rasa bahagia yang menggebu pada sesuatu yang abstrak adalah hal yang menarik untuk dialami dalam hidup ini, kita jadi bisa meneliti apa sih yang membuat seseorang melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu.

Hakikatnya, itulah peperangan antara cinta dan ambisi. Sebuah pertarungan tiada akhir dalam hidup.

Cinta menggerakkan manusia untuk melakukan perbaikan, merawat, memberi, dan menjaga. Sedang ambisi hadir dengan bentuk yang halus menyerupai cinta, dengannya manusia merasa berhak untuk memiliki, menuntut, memaksa, dan merusak segalanya termasuk diri sendiri.

Tapi cinta dan ambisi ini tetaplah saudara kembar yang tak bisa dipisahkan keberadaannya, dengan ambisi kita berusaha dan cinta memberikan energi untuk menerima.

Jadi pengalaman menggebu seperti itu pada episode hidup yang sekarang rasanya bisa dicukupkan dulu, mari kita fokus pada apa-apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki, merawat, memberi, dan menjaga sekitar.

Entah suatu saat episode drama ini harus dimulai lagi, ayo persiapkan diri untuk setidaknya tidak terlalu berambisi menjadi aktor utama. Mungkin bisa jadi sutradara atau setidaknya cameraman saja.

Terima kasih.

Minggu, 14 Juli 2019

Galaunya Aku dan Kurang Ajar-nya Sal Priadi

Gue adalah tipikal orang yang kesel kalau ada orang yang lagi galau terus malah dengerin lagu sedih tiap malem. Gue tuh mikir ya itu bukannya malah mengiyakan kesedihan lo dan bikin kesedihan itu nambah parah. Ibaratnya nih ya ada api eh malah tu orang siram pake bensin. Kan coba berapa IPK-nya coba tanya.

Itu tadinya, sebelum sebulan ini gue tau ada orang kurang ajar yang namanya Sal Priadi. Gue yang gak galau sama sekali, 0% putus cinta, dan anti perbudakan atas nama cinta ini tiba-tiba OVERLOAD KEGALAUAN ABIS DENGER LIRIK-LIRIKNYA SAL-PRIADI-SI-MANUSIA-YANG-KURANG-AJAR-PAKE-BANGET-SEGEDE-URANUS.

Gue tuh gak paham, ya. Gue pacaran aja kagak, gimana bisa putus cinta. Masa gue tiba-tiba galau tapi gak tau galau sama siapa.

Ini gak bisa masuk di akal gue beneran. Perasaan-perasaan yang meluap ini, yang gak bisa gue kontrol, gak bisa sama sekali gue kalkulasi pake logika apa pun.

Efeknya adalah gue jadi bikin post galau di Instagram, seakan-akan aing punya pacar gitu loh. Sebel. Lalu gue jadi hapus ratusan postingan gue, menghancurkan feed yang sudah gue susun rapi selama tiga tahun. Menyebalkan. Sungguh.

Coba ya, dimana masuk akalnya orang yang gak galau tiba-tiba ikutan sedih cuma karena denger lirik lagu? Ganggu banget.

=====================

Tapi,

Saking tidak tahannya tiba-tiba nangis nginget liriknya lagi (I don't wanna be a sadboi, please), gue akhirnya curhat sama seseorang.

Selama curhat gue haqqul yaqqin akan terlihat bodoh karena kegalauan gue gak beralasan dan sama sekali tanpa masalah. Tapi ternyata jawaban temen gue membuat semuanya lega.

Dia ngingetin gue untuk inget bahwa gue pernah bilang semua perasaan adalah anugerah dari Tuhan (ya, gue sering ngomong ini berulang-ulang dan sering lupa juga). Rasa sedih yang gue alami ini (yang tanpa alasan), telah membuat gue mengenal perasaan yang belum pernah gue alami.

Sekaligus membuat gue (mungkin) tambah dewasa. Gak konyol lagi di khalayak ramai. Mulai (sedikit) kalem dan santuy. Juga malah bikin gue ngeluarin karya-karya yang sebelumnya gak pernah kepikiran.

Bukankah cara terbaik meredakan rasa sakit adalah mengiyakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja?

Jadi, yasudah, kita syukuri saja lagi. Alhamdulillah.

Juga terima kasih untuk Sal, terima kasih.

Lalu mari kita tutup post ini dengan tiga lirik ciptaan dia yang paling bikin gue gak karuan.

Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku agar kau tahu rasanya hampir mati ditikam patah hati. (dari lagu dengan judul NYALA)

Bayangkan betapa cantik dan lucunya gemuruh kecil ini disanding rintik-rintik yang gemas. (dari lagi dengan judul Amin Paling Serius)

Kelak terulang lagi, kau mintaku runtuhkan bumi di atas kepalamu. Dan ku percaya lagi. (dari lagu dengan judul Kultusan)

Kamis, 30 Mei 2019

Basa-Basi-Budaya-Bangsa


Dalam momen hari raya atau momen kumpul keluarga, seperti lebaran yang sebentar lagi tiba, merupakan momen yang memaksa kita untuk siap-siap ditanya tentang apa saja. Hari yang bisa jadi sangat lama terasa apalagi bagi jomblo-jomblo seperti kita.

Topik-topik yang sering muncul di antaranya
Level satu, seputar pencapaian
“Kerja dimana?”
“Anak tante sih sekarang lagi dapet beasiswa LPDP”
“Gak capek emang naik kereta tiap hari?”
“Loh kok gak nyambung kerjaan sama kuliahnya?”

Level dua, dunia perjombloan
“Kapan nikah?”
“Mana calonnya?”
“Cepet nyusul ya, si (menyebutkan sepupu seumuran) malah udah punya anak sekarang.”
“Ini ada kenalan, mau gak?”

atau sampe level tiga yaitu bahasan random tapi tetap bisa lebih berbahaya
“Ih gemukan ya”
“Naha ih ngahideungan?” (re: kenapa kok nambah item?”)
“Kamu kemarin pilih Jokowi ya?!”

Tapi dibanding marah-marah di medsos soal betapa tidak nyamannya basa-basi tadi untuk disampaikan, atau sampai merasa harus marah-marah dan jadi SJW alias social justice warrior bikin story di Instagram, menuntut ke mahkamah atas tindakan tidak menyenangkan, atau sampe narik diri ke kamar lalu menghindari segala kontak dengan sanak saudara sendiri.

Gimana kalau kita memahami bahwa basa-basi tadi adalah bentuk paling sederhana untuk peduli?
(ya walau kadang pertanyaannya tidak menyenangkan sih) Bisa kah kita setidaknya menyadari bahwa tidak semua orang pernah mendapatkan akses informasi tentang bagaimana mental dan pikiran bekerja?
Dan kita yang paham ini gak boleh tuh sama-sekali merasa jadi orang paling ber-etika.

Mereka adalah keluarga dan teman-teman kita yang mencoba membuka koneksi, sayangnya tidak tahu bagaimana cara memulainya.
Sehingga pertanyaan paling sederhana lah yang muncul di kepala seperti, “Kapan nikah?” yang keluar.
Karena beneram deh jadi gak lucu banget kalau udah setahun gak ketemu, lalu pas ketemu lagi yang dibahas adalah soal program memajukan daerah tertinggal.

Jika kita tiliki budaya negeri lain, kita mungkin tidak akan menemukan pertanyaan serupa, pun yang kita temukan adalah kampung-kampung yang sepi, keluarga-keluarga yang canggung, sampai se-kompleks tingkat bunuh diri yang tinggi karena banyak yang merasa sendiri.

Basa-basi di bangsa ini memang kadang menyakiti hati, tapi ia adalah budaya untuk menghubungkan tali-tali di ruang sosial kita.
Jadi dibanding senyum masam saat menjawab pertanyaan “Kapan nikah?”, ayo kita tertawa dan jawab dengan menyodorkan nomor rekening biar dia ikutan nyumbang untuk tabungan hehe.

Kita sebetulnya bisa menikmati segala basa-basi, sebab rasa tidak nyaman adalah perasaan yang bisa kita kendalikan. Jangan jadi makhluk cengeng yang terbawa opini-opini di Twitter dan Instagram, kamu merdeka untuk menentukan apa yang harusnya kamu rasakan.

dan terakhir, selamat menikmati kebersamaan di hari lebaran!

Kamis, 07 Maret 2019

Geospasial dan Hobi Nyasarku

Apa yang menjadi salah satu kelemahanku adalah ketidakmampuan mengenali jalan. Aku perlu waktu sampai minimal enam kali melewati sebuah jalan sampai hafal semua belokan. Aku kebingungan bagaimana letak gedung, menghadap mana, dan apa hubungannya dengan lokasi yang pernah aku lewati.

Pernah suatu ketika saat di awal masa kelulusan aku bekerja sebagai enumerator penelitian, mencari dan mendata pusat sampah dan juga rumah pengolahan di Tanggerang.

Entah berapa kali aku kesasar, juga entah . berapa kali aku marah-marah pada diri sendiri tentang seberapa menyebalkannya apa yang aku lakukan. Sampai akhirnya masa-masa itu berakhir dengan sendirinya, aku kecelakaan tunggal. Motorku oleng menabrak pembatas jalan dan aku terguling-guling sampai jalur selokan. Sempurna!

Di lain waktu aku stress luar biasa, aku ingin melarikan diri entah kemana. Lantas ku pacu saja gas motor tanpa lihat arah jalan. Sampai tiba malam aku tersadar di atas ku ada plang besar bertuliskan "Selamat Datang di Banten", aku kaget dan ku putuskan pulang.

Tapi karena tak bisa memahami jalan, aku baru tiba di asrama tepat pukul 6 pagi. Sepanjang malam berputar di tanggerang dan dilanjut menghabiskan dini hari melewati jalan yang sama di Jakarta sampai delapan kali.

Di Thailand dulu, saat teman-teman yang lain memutuskan mengunjungi tempat wisata Madame Tussauds, aku memilih mengantarkan seorang mahasiswa Indonesia ke penginapannya yang entah dimana (kehabisan uang dan kebingungan). Tiba waktu untuk kembali ke hotelku sendiri pukul 11 malam lalu berakhir diturunkan bis kota di tengah malam karena habis jam operasionalnya.

Luntang-luntung di negeri orang. Berjalan kaki tak mengerti kemana arah pulang. Baterai handphone sudah habis dan hanya kemampuan tebak-tebakan yang bisa diandalkan. Betapa kondisi paling ideal untuk menertawakan diri sendiri.

Tapi dari semua kejadian tersesat itu ternyata itu momen paling mengasyikan di hidup ini. Perasaan menghilang dan menjadi bukan siapa-siapa, saat yang tepat untuk memikirkan kembali apa yang kita mau dan butuhkan. Tersesat membuat kita merasa sendirian, lalu sendirian membuat kita lebih punya ruang untuk diskusi dengan diri sendiri.

Maka saat-saat aku merasa sangat stress, aku akan menyasarkan diri entah kemana. Setiap berada di kota atau negara yang aku memiliki kesempatan untuk mendatanginya, akan ku cari juga kesempatan untuk kesasar. Dan caraku mengelola diri sendiri ini dibantu dengan lemahnya kemampuan geospasialku, betapa kombinasi paling pas untuk hilang sama sekali.

Jumat, 01 Maret 2019

Salah Satu Saat Dimana Persahabatan Diselesaikan (atau setidaknya dijeda sementara)

Seberapa sering manusia mampu untuk ditinggalkan?

Jarak antara kamu dan sahabatmu kemungkinan akan melebar dimulai sejak akad disahkan: pernikahan.

Pernak-pernik lampu ruang, bunga yang menjulur dari panggung terujung, serta prasmanan yang tersaji dan telah dikelilingi banyak orang. Masa-masa perpisahan dimulai saat itu juga.

Aku sudah sadar sejak makan malam kita mebicarakan para wanita, hal ini akan terjadi. Aku pun sadar bahwa kamu memang akan lebih dulu menggenapkan. Saat itu aku bahagia, sangat, karena ternyata penantianmu akhirnya akan terlaksana. Momen prestatif, pencapaian luar biasa.

Dan pada saat itu secara dramatis (atau mungkin hanya aku yang melebih-lebihkan) banyak hal yang akan berubah.

Keraguan untuk menjadi diri sendiri rasanya akan semakin besar. Khawatir pesan dibaca tidak hanya olehmu, khawatir tidak terlalu diinginkan dan dianggap mengganggu, khawatir membangun jarak terlalu dekat sebab seharusnya memang tidak menjadi yang paling dekat.

Padahal kita tidak kemana-mana sama sekali, kan.

Tak ada tipu-tipu, ini sungguhan seperti merelakan kita untuk tak seperti biasa hahaha. Sebab biasa kita yang sering bercerita tentang hal-hal tidak penting akan digantikan oleh kamu yang bercerita  pada pasanganmu yang tiap hari bertemu.

Kamu yang biasa minta ditemani untuk pergi dan aku yang biasa minta diantar akan menyisakan aku yang sendirian dan kebingungan, canggung luar biasa pada kesepian.

Aku tahu ini hanya soal masa, bahwa selalu ada waktu untuk kita terbiasa dengan perubahan. Pun aku sudah bisa mulai menerima dan mencari tempat lain untuk bisa dipercaya mendengarkan cerita. Entah sahabat atau mungkin saatnya menggenapkan seperti yang telah kau lakukan? Aku diam.


===
Selamat menikmati fase kehidupan selanjutnya, kawan.

Dari aku yang belum berani melangkah dan menentukan.

Minggu, 07 Oktober 2018

Tentang Memaksimalkan Waktu

Berpindah dunia dari dunia akademis ke dunia karir cukup merubah banyak pola dalam hidup,

Pola tidur, pola makan, pola pikir, dan yang terpenting adalah pola karya. Sebetulnya di tempat kerja saya, kerjaan saya buat karya. Tapi sungguh beda karena banyak batas-batas dan aturan yang menantang saya untuk berpikir lebih, artinya karya yang saya buat tidak sebebas ketika diri ini tidak terikat dengan apa pun.

But that's life. Segala hal tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

Maka saya mencoba beberapa rekayasa manajemen. Namun seringnya gagal karena bekerja di bidang sosial memang menguras waktu karena kita bermain dalam ranah idealisme. Akhirnya saya coba rekayasa waktu: memotong kebutuhan waktu saya di perjalanan. Biasanya perjalanan untuk pulang dan pergi Bogor-Gondangdia-Bogor adalah 4 jam (atau 1/6 dari waktu saya tiap hari).

Lucu dengan membayangkan bahwa saya tidak mendengar saran orang-orang sekitar bahwa sebetulnya uangnya bisa ditabung dibanding dipakai sewa kamar di Jakarta yang costnya dua kali lipat dibanding di UI dulu.

Saya sepakat uang itu penting, namun bukan tujuan, harta adalah konsekuensi. Juga in syaa Allah saya masih menganggap intensitas menabungan saya cukup (ya walau gak banyak-banyak amat si).

Bagi saya yang terpeting sekarang adalah tidak membiarkan otak dan jiwa saya mengerut karena terlalu banyak mengalah dan melakukan aktivitas rutinan hahaha.

Jadi mari kita lihat keberhasilan cara ini, pun gagal mari kita nikmati saja karena dari gagal juga kita jadi belajar.

Doakan aku ya wankawan.

Selasa, 18 September 2018

Inferiority Solution

previous post: Inferiority Problem

===========
Saya rasa Allah baik banget loh, gak ngebiarin saya terlalu lama berkutik dengan masalah ini. Saya tahu jelas sebagai seseorang yang kehilangan arah saya harus nanya jalan ke orang, maka saya tanya ke temen-temen saya, saya ceritakan masalah ter-gak jelas ini ke mereka.

Saya sudah mempersiapakan diri untuk berbagai jenis respon, udah pasti banget bakal ada yang bilang, "Yaampun masa lu begitu doang jadi masalah," atau, "Sabar ya, Mam," sambil gak peduli-peduli amat, wajar dan saya memahami bahwa gak semua orang perlu ngurusin saya. Lalu tiba-tiba DORR!

Saya dalam hati: "Lah iya juga, gue kan bukan pusat dunia ini."

Maksud saya, kadang yang bikin kita kerepotan adalah ekspektasi, termasuk ekspektasi kepada diri sendiri. Kita seakan menempatkan diri kita ingin menjadi orang yang penting, berpengaruh bagi lingkungan, bermanfaat.

Tapi padahal yang menjadi poin dari kebermanfaatan bukan lah apa yang orang lain rasakan, atau orang yang kita bantu merasa terbantu. Bukan di sana poinnya.

Poinnya adalah bagaimana cara kita melihat apa yang kita lakukan, apakah kita telah berterima kasih pada diri sendiri dengan apa yang telah diperjuangkan (walau hasilnya tidak sesuai harapan)?

Pernah kita berterima kasih pada diri sendiri karena telah berusaha hingga ada di titik sekarang?

Karena sejatinya apa yang bisa mendefinisikan diri kita bukanlah prestasi kita, bukan kelemahan kita, bukan apa yang telah kita capai, bukan hasil pekerjaan kita, hal-hal lain semacam sama sekali tidak mendefinisikan diri kita. Yang menjadi definisi dari kamu adalah dirimu sendiri.

Serta sejatinya, kita tidak perlu mengalahkan siapa-siapa sebab yang perlu kita kalahkan adalah diri kita sendiri di waktu sebelumnya. Artinya apakah kita telah menjadi pribadi yang semakin baik dibanding diri kira sebelumnya? dan termasuk terlepas dari standar orang lain atau perbandingan dengan orang lain. Sungguh, menjadi versi lebih baik dari diri sendiri sudah lebih dari cukup.

Jadi pertama saya mau berterima kasih pada Allah yang telah sangat baik mengembalikan saya pada jalur original saya, saya mau berterima kasih pada diri sendiri yang tak mau menyerah pada kepayahan saya, dan saya mau berterima kasih pada kalian yang terus mau untuk menjadi diri kalian sendiri serta berlepas diri dari standar semu yang entah siapa pula yang menciptakan.

Terima kasih.

Minggu, 16 September 2018

Inferiority Problem

Pernah gak sih kamu merasa orang lain lebih hebat dari kamu? Membuat kamu merasa hasil perjuanganmu kalah sama bakatnya (atau sama usahanya). Menemukan orang yang lebih cakep dari kamu. Orang yang kamu rasa dia lebih beruntung, lebih hebat, dan membuat kamu seakan hanya sebuah kaki kecoa di pojokan ruangan.

Atau mungkin kamu merasa bahwa bakatmu gak ada apa-apanya. Bahkan apa pula itu bakat. Segala yang kamu lakukan seperti gak maskimal, setengah-setengah, dan gak niat sama sekali. Lalu matamu melihat orang lain yang melakukan hal sama, tapi BOOM hasilnya jauh jauh jauh lebih baik dibanding begadang-begadangnya kamu tiap malem.

Kita semua pernah merasa di titik itu, bahwa boleh saya tebak setiap eksistensi makhluk hidup... pernah merasa inferior. Pun saya, tepatnya sekarang.

Beberapa pekan lalu saya merekrut orang di tempat kerja, secara sengaja saya memilih orang yang punya kompetensi sama kaya saya (dan bahkan dia punya kompetensi lain yang gak saya punya). Diawal saya berharap dia bisa bantu saya, tapi ternyata lebih dari itu. Dia sagat membantu saya daaaan membuat saya merasa inferior. Ini bikin saya pusing, saya merasa bukan apa-apa, dan saya merasa payah banget.

Itu baru satu hal, pasca kehidupan kampus banyak yang berubah. Aktualisasi diri saya jadi seakan kehilangan tempat, benturan realita yang ada di tempat kerja membuat saya gak bebas berekspresi, saya kebingungan saya ada dimana.

dan juga bingung saya mau kemana.

Vlog yang saya buat gak semantap biasanya, kreasi kepala saya dalam membuat video jadi terkurung dalam sebuah kotak. Saya merasa jiwa saya sedang terkikis karena terlalu banyak mengalah.

Inferioritas yang ada dalam kepala saya menciptakan ketakutan, kemalasan, dan rasa mudah menyerah.

Saya sama sekali gak punya masalah baik sama boss saya, rekan ekrja saya, mau pun orang yang saya rekrut. Saya menyadari penuh masalahnya ada di diri saya: saya kehilangan arah mau kemana, dan saya tidak tahu sedang dimana.

Saya tadinya berniat untuk menutup tulisan ini dengan solusi, tapi saya belum punya.

Saya mau teriak.


====================
solved: Inferiority Solution

Sabtu, 21 April 2018

Memaknai Kegagalan

Manusia hidup dengan rencana-rencananya. Kamu bisa saja punya seribu mimpi termasuk satu milyar cara untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Kamu bisa saja berusaha mati-matian sampai tulang-tulang patah untuk berada di satu titik yang kamu inginkan.

Tapi hidup tidak melulu memberi apa yang kamu mau. Piala yang kamu impikan bisa saja tidak bisa kau sentuh di saat itu juga. Tropi yang kamu harapkan untuk kamu genggam akan dipegang oleh orang lain dan menggoreskan luka, banyak maupun sedikit. Bukan karena dia lebih beruntung, biar pun kamu merasa kamu yang paling berusaha, namun perjuangan tidak pernah salah menempatkan seseorang harus berada.

Artinya, usaha dia lebih baik dan terstruktur dibanding milikmu.

atau

Perjuanganmu tidak diperuntukan bagi tempat yang kamu inginkan, tapi ada tempat indah lain di depan yang belum bisa kamu lihat sampai sekarang.

atau keduanya.

Jadi entah mimpi-mimpimu tercapai atau pun tidak, hidup akan memberikan apa yang memang layak bagimu sebagai manusia yang selalu berusaha bahagia. Entah sesuai dengan yang kamu ekspektasikan atau tidak.

Percayalah bahwa mimpi yang lain sedang dipersiapkan, maka kamu juga harus mempersiapkan dirimu sendiri lalu melangkah lagi ke segala tempat yang kau inginkan.

Kamis, 15 Maret 2018

Aku Terima Kau Apa Adanya, Beb.


Seberapa banyak laki-laki yang pernah kalian temui dan dia suka futsal? Saya banyak, banget bahkan. Tapi kalau mau jujur, they aren’t do it because they like it, gak semuanya namun banyak jumlahnya. Mereka melakukannya karena biar bisa fit in sama lingkungan.

Di luar futsal, kita mungkin sering melihat orang melakukan hal yang sebetulnya bukan dirinya amat. Tapi jadi senang karena dengannya kita bisa membaur dengan orang-orang di sekitar kita. Ya, pelakunya diri kita sendiri. Berapa orang yang suka KPOP soalnya lingkaran temennya suka KPOP? Berapa orang yang tiba-tiba suka keluar malem karena temen-temennya suka karokean? Berapa orang yang tiba-tiba pada suka sama puisi abis nonton AADC2? Ya gak tau sih saya juga berapa banyak wkwkwkwk.

Waktu saya jadi supervisor di RK (Never ending flashback, damn!), ekspresi anak-anak lebih terlihat jujur saat mereka main cing benteng, gobak sodor, atau hal-hal lain yang mungkin gak bisa dia lakuin sama temen kampusnya. Beda hal kalau futsal, lebih banyak orang yang terlihat “Yaudah yang lain ikut kan, gue ikut juga deh.” Saya mencoba paham bahwa melelahkan memenuhi ekspektasi orang lain yang bahkan orang lain itu juga ngikutin ekspektasi mayoritas orang. Lingkaran setan banget gak sih.

Kita melipat bendera-bendera keunikan kita karena khawatir dianggap aneh, takut tidak diterima, dan hal-hal lain yang pokoknya bikin kita gak punya temen. Kita mengenyampingkan hal-hal yang sangat menyenangkan bagi kita agar bisa menyenangkan orang lain. Kita senang bisa berbaur dengan mereka.

Dan saya memutuskan untuk keluar dari aktivitas-aktivitas itu sejak lama. Saya tidak ingin menyenangkan orang lain dengan mengenyampingkan hal-hal yang saya suka. Lalu rupanya ketakutan tidak punya teman itu terbukti semu. Saya masih bisa diterima walau berbeda, saya diterima apa-adanya, saya... mendapatkan segalanya. Sejauh yang bisa saya lakukan saya tetep dateng futsal walau saya melipir ke billiyard, iya mereka main futsal terus saya sodok-sodok bola sendirian. Menyenangkan tapi berasa jomblonya haha.

Walau saya akui juga saya belum sepenuhnya bisa lepas dari ngikutin ekspektasi orang lain. Karya-karya saya percampuran antara hal yang saya suka dengan yang orang lain suka (atau costumer suka). Saya riset kecil-kecilan soal sukanya mereka, apa ada saran, apa ada kritik. Tapi kalau ada saran masuk dan itu udha terlalu mengusik kesukaan saya yaudah lah gak deal berarti. Ya fleksibel aja sih ya sebenernya. Love what you do and money will follow.

Ada temen jogging saya, anaknya macho, mukanya cakep, anak masjid, suatu hari pas kita jogging bareng dia sempet serius ekspresinya dan ragu-ragu buat cuma bilang, “Sebenernya gue suka nonton girlband korea.” Oh maaaaaan!!! Saya kira mau jujur apaan! Haha!

Konstruksi sosial masyarakat dunia menurut saya udah berlebihan banget, this sharpest world gonna make us simillar. Lo laki lo harus suka bola, lo preman lo harus suka heavy metal, lo bertato lo gak boleh suka susu rasa stroberi, serta konstruksi sosial lain yang gak harus banget kita ikutin. Dalam termin yang paling negatif ini terjadi loh misal pada remaja dengan rokoknya.

Hal ini pun merambah ke taraf ganteng dan gak ganteng, (disclaimer ini bukan karena saya gak bisa terima saya bukan golongan orang bermuka malaikat yang cerah dan bersinar bagai senja di pagi hari. Lagian mana ada senja di pagi hari, lur!) . Konstruksi sosial kita membentuk bahwa orang ganteng itu tinggi, badan atletis, muka charming, idung mancung, badan putih. Makin memenuhi kriteria tadi maka lo akan dianggap ganteng. Orang-orang lalu berbondong beli sabun pemutih kulit, obat peninggi badan, pergi nguli di gym (ya saya tau sebagian orang ke gym biar sehat, tapi kalau lo mau baca bukunya Budiman Hakim yang bahas soal costumer insight, mayoritas orang ke gym alasannya biar bisa bangga kalau lagi telanjang! OMG!) Jujurlah pada diri sendiri!

Jadilah berbeda dan bangga lah dengan hal itu. Lo wibu kalau wibu jangan karena orang-orang, lo suka sastra jangan karena gebetan lo suka, lo suka ngaji ya jangan ngumpet baca quran di tempat umum. Apa pun hal yang bikin lo nyaman, lakuin aja.

Ya ini juga jangan bikin kita ngelupain hal berbau sosial ya!!! Habluminannas itu adalah hal yang sangat baik gaes. Jangan samain jadi orang yang unik sama jadi ansos atau jadi manusia yang gak peduli sama perbaikan diri haha. Tetep perbaiki diri dan jadi orang yang terbaik yang bisa dicapai.
Kibarkanlah keanehanmu yang selama ini kau lipat di dalam dirimu selama itu baik buat dirimu. Selama itu gak ngerusak ya jalanin aja. Jangan sedih kalau ternyata lo gak menuhin standar orang lain. Bikin aja stadar sendiri! Motor aja punya standar sendiri woy!

Jadi keep on your track, your really track. Your own.

Senin, 12 Maret 2018

Cermin di Barbershop

Versi yang terjadi di kepala

Saya tiba-tiba kepikiran, bahwa bagi saya kegiatan yang paling menarik saat cukur rambut adalah kita bisa berlama-lama menatap diri kita sendiri di depan cermin.

Lurus menyelami bola mata sendiri, mengarungi lautan kehidupan yang pernah dilewati, masuk ke labirin cara berpikir, dan berlarian dalam mimpi dan rencana.

Bercukur merupakan salah satu situasi yang tepat untuk mengenali diri sendiri. Meski tidak bisa bicara karena malu masa ngomong ke bayangan sendiri di depan tukang cukur, tapi tatapan yang kuat dan penuh arti memberi bensin tersendiri bagi jiwa muda yang sedang kehilangan arah ini.

Berpikir merupakan hal yang merdu juga rupanya, ya?


==============================

Versi yang terjadi di ruangan

"Mas Mas kok nangis? Ada yang luka kena gunting?" panik dia

"Eee... enggak ada, Mas. Ini udah ya cukurnya?"

"Udah, Mas." mukanya heran

"Ini ya uangnya, makasih Mas!" Lalu lari menuju motor untuk pulang dan berpikir bulan depan kalau cukur bisa dimana ya...

YA ALLAH BOSQUE, MALU PISAN!!!!!

Jumat, 02 Maret 2018

Kayaknya Sebentar Lagi Saya Meninggal

Duh terlalu muda gak sih buat saya nulis tema ini? Saya juga ragu tapi itu bener yang saya rasain sekarang. Saya hanya merasa bahwa sebentar lagi saya meninggal. Entah tepatnya kapan, mungkin hanya beberapa tahun dari sekarang, atau mungkin umur saya gak sampai lewat akhir tahun ini. Bisa jadi juga beberapa mingu dari sekarang atau bahkan gak sampai beberapa hari.

Bukan dari peramal, bahkan saya gak percaya sama sekali sama peramal. Cuma berdasarkan perasaan aja, semacam terkaan singkat yang saya percayai cukup kuat. Walau bisa salah juga, sih.

Mungkin bisa karena sakit, mungkin bisa karena tiba-tiba ketabrak di jalan, atau pas saya bersin tiba-tiba ada mis-mekanisme tubuh yang nyerang jantung, virus yang masuk ke otak, reaksi obat, tiba-tiba ditembak orang (dalam arti sebenarnya, bukan diajak jadian), atau kemungkinan-kemungkinan lain yang sangat-sangat memungkinkan bagi saya.

Ini bukan karena parno abis nonton series film Final Destination, ya. Bahkan film itu terakhir saya tonton waktu kelas 3 SMP. Ini tiba-tiba aja jadi pikiran saya akhir-akhir ini.

Namun perasaan ini gak ngebawa saya ke ketakutan dan menghindari kematian (ya walau tetep takut juga sih) tapi lebih ngebawa saya soal ke pemaknaan hidup. *ceileh**beneran kaya orang tua omongannya*

Bahwa ya segala nikmat yang saya punya sekarang bisa aja tiba-tiba gak saya milki lagi, segala titipan logika otak, kemampuan bernapas, keluarga yang keren, temen-temen yang bikin hidup saya "hidup", pengalaman, kapasitas, rasa kasih sayang, kepedulian yang saya syukuri karena Allah udah baik banget ngasih itu semua ke saya... bisa tiba-tiba Allah ambil lagi gak pake pengumuman dulu ke saya.

Bahwa segala gelar alumni yang saya punya bakal ketutup sama satu gelar:

ALM. MUHAMMAD IMAM NAWAWI SYUJAI

Keren banget gak sih ada gelar depannya gitu? Ya kalian boleh manjangin Alm. di situ jadi Almarhum. Tapi saya lebih suka manjanginnya jadi "Alumni".

Alumni Kehidupan,
bahwa masa saya berjuang di amanah hidup udah selesai. Udah harus buru-buru pergi dan gak bisa diulang lagi. Sama kaya alumni sekolah sama kampus, mana bisa ngulang lagi masa-masa jadi siswa. Paling cuma bisa reunian kalau kangen sama temen. Cuma ya reuniannya sama juga kaya di dunia, ada yang dateng dan bisa nostalgia bareng dan ada yang gak bareng sama kita. Di istilah alumni kehidupan, pilihan barengnya cuma ada dua: bareng di neraka atau bareng di surga, pilihan lainnya ya gak bareng sama sekali.

Terlepas dari perputaran kehidupan akhirat, saya juga mikir nama saya di dunia gimana.
Ini kalau saya meninggal tapi aib saya yang kebuka malah bikin keluarga dan orang-orang deket saya malu gimana ya...
Tapi saya mikir lagi, ah yaudah sih... saya udah meninggal ini jadi buat apa ngurusin eksistensi saya di dunia, di alam kubur mana kedengeran. Lagi pula, selalu menjadi hak Allah untuk diapain aja aib saya, Dia selalu tau yang terbaik kan. Kalau ditutup ya alhamdulillah, kalau dibuka pun alhamdulillah juga mungkin itu hukuman dari Allah buat saya hehehe.

Tapi saya mikir lagi, ini udah sejauh mana sih saya bermanfaat... apa idup saya cuma kebanyakan omong ya... apa kebanyakan pencitraan ya? (huhuhu sedih) tapi yaudahlah sekarang saya bertekad mumpung masih bisa keluar nih napas dari paru-paru saya gak boleh diem! Saya gak bisa main-main lagi! Pokoknya harus serius ya Mam buat menjadi perantara harapan orang-orang sebisa saya! Oke, Mam? OKEEEEE!!!! hehehe

Tapi satu yang saya pelajari dari hidup, bahwa banyak hal yang nyatanya tidak bisa saya kendalikan sesuai kemauan saya.
Lagi semangat-semangatnya eh tiba-tiba gak jadi karena masalah kecil, udah berusaha keras eh ternyata gagal, lagi pengen-pengennya sesuatu dan udah berusaha ngumpulin modal eh ada keperluan lain, lagi sayang-sayangnya sama sekelompok orang eh tiba-tiba ada aja kelakuan yang bikin pisah.

Iya, gak semua hal bisa kita perkirakan akan selamanya ada di sekitar kita.

Tapi itu untungnya gak bikin saya berhenti berharap. Seperti yang suka saya bahas di omongan sebelumnya dan sehari-hari bahwa setiap kegagalan dan ketidakberhasilan menyimpan banyak hal untuk disyukuri. Bahwa kehidupan selalu menyiapkan harapan di tingkat yang lebih tinggi.

Maka saat masalah datang... artinya saya lagi ditantang biar ada di posisi "hidup" yang lebih baik, kan?

Sebenarnya post ini udahan aja sih, tapi karena bahas soal kematian... gak puas ya kalau tanpa ada pesannya. Jadi begini ajadeh, saya akan taruh di sini pesan terakhir saya yang akan selalu saya edit kapan pun saya mau (selagi masih ada kesempatan hidup) syukur-syukur bisa dibaca abis saya meninggal.

Saya mau mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang telah bertemu dengan saya semasa hidup, keberadaan kalian... siapa pun kalian... baik Imam kenal atau pun tidak, baik kalian tau Imam atau pun tidak, percayalah bahwa kalian turut membentuk Imam yang seperti ini. Sesebentar apa pun masa silaturahim kita.

Menjadi ruh yang pernah hidup merupakan sebuah nikmat luar biasa. Menjadi orang yang ceria merupakan usaha yang menyenangkan. Memberikan dampak merupakan kesempatan yang tak bisa tergantikan. Senyuman-seyuman yang terukir dan tetesan-tetesan air mata yang mengalir adalah luapan nikmat dan istigfar yang melesat ke langit.

Hati-hati yang bergetar, jiwa-jiwa yang melayang, logika yang berputar-putar adalah melodi bagi tubuh-tubuh yang masih dapat bergerak. Bukan untuk diam terus-menerus, tapi untuk terus melangkah lagi menebar harapan-harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Jadi, tetaplah hidup sehidup-hidupnya!

Tertanda,
Muhammad Imam Nawawi Syujai
Seorang Alumni dari Kehidupan

Minggu, 04 Februari 2018

Mata-Mata yang Kecewa

Ada saat dimana saya melihat tatapan kekecewaan orang lain pada saya, ya mereka kurang beruntung (atau mungkin bisa dibilang beruntung) telah mengenal saya pada titik ekstrim saya yang lain.

Sebagai informasi awalan, saya hidup dalam dua titik yang bisa dibilang cukup ekstrim. Mungkin gak ujung-ujung banget sih titiknya, cuma ya cara diri saya berubah posisi dari saya yang sekarang ke saya yang lain itu cukup menyebalkan hahaha. Nggak kok ini bukan bipolar, slow. Ini cuma masalah sisa-sisa penolakan saya pada masa lalu yang terkadang muncul kalau saya lagi gak punya pertahanan yang cukup, dan itu bener-bener jarang.

Lanjut cerita. 

Nah dalam satu momen saya pernah lepas kendali dan menghancurkan segala yang saya bangun. Lalu orang-orang yang tadinya terdepan mendukung saya, menjadi mundur satu persatu, ada yang perlahan-lahan dan ada juga yang ngambil langkah seribu lalu membangun dinding setinggi ego manusia. Agak kecewa sebetulnya, seakan mereka gak tau betapa ngos-ngosannya saya selama ini jadi Imam yang baik-baik saja (tapi emang gak tau dan gak perlu tau juga sih wkwkwk). Bagaimana saya melihat kebijaksanaan mereka hancur lebur menjadi puing yang gak ada sisanya.

Tapi lama saya mikir, ini kayak proses seleksi aja sih sebenernya. People come and go. Menahan seseorang tetap menyukai saya akan membuat saya jadi buta lagi dalam mencintai diri sendiri.

Oh iya, ini juga buat saya yakin bahwa tingkat kesiapan seseorang terhadap perbedaan latar belakang hidup itu beragam. Artinya (atau sialnya) mereka gak siap dengan diri saya yang satunya. Ini juga membuat saya jadi beruntung karena gak perlu capek-capek berusaha untuk gak buta sama kekaguman diri sendiri. Merasa agak melatih kebijaksanaan diri kalau emang suatu saat ada temen saya juga yang punya latar belakang yang bikin kaget, saya minimal berusaha untuk gak bikin dia down dan mempertahankan diri dia tetap berharga. 

Buat penutup, saya mau kasih pesan deh buat pembaca. Saya tau kok tiap orang punya dua titik ekstrimnya masing-masing, itu wajar kalau kamu gitu juga. Cuma ya saran saya gimana aja kita berusaha dengan bijak memilih titik ekstrim yang akan sering kita gunakan sebagai definisi "diri saya". Semangat! Jangan baper berlebihan kalau orang lain gak nerima kamu karena kamu ketajong (ini apa ya bahasa indonesianya) sekali dua kali, kekecewaan mereka bukan indikator hilangnya kebahagiaan kamu, ciptakan kebahagiaanmu sendiri biar enak buat balik lagi di titik yang kamu pilih. Pun jangan lupa terus perkuat diri dan perbaiki lagi, masa iya jadi orang yang begini-begini terus. Hehe.

Sabtu, 13 Januari 2018

Post Pertama di 2k18

Seperti biasa, gue suka review setahun ngapain aja. Sebenernya telat sih harusnya pas tanggal 31 Desember 2017 cuma gue kemarin pusing banget ngerjain skripsi ampe gak keurus ini blog. Untung ini blog gak selingkuh soalnya dimana lagi gue bisa curhat panjang-panjang kalau enggak di instagram #lah *ditabokblogsendiri.

Di tahun lalu jelas gue menemukan jati diri gue yang baru, gue makin matang mengenal diri gue. Inget banget hadeh waktu galau di tengah tahun gegara kudu berhenti jadi SPV RK. Ini kegalauan paling gede pada manusia kusabab aing joms jadi gak bisa ngegalauain pacar atawa mantan. Ampe mewek-mewek tiap malem, ampe ke psikolog, ampe bahkan gue gak mampu ikut UAS Matkul di Psikologi padahal kelasnya maen-maen doang :(

Gue gak nyesel sih, gue malah bangga pernah ngelewatin masa kaya gitu. Berasa film soalnya #lah

Sebenernya setelah pekan-pekan itu gue jadi lebih jauh mengenal diri gue, lebih bisa mengendalikan atmosfir mental gue, lebih toleran sama sesuatu hal yang berbeda, dan merasa lebih mudah menyayangi segala hal yang ada di hidup gue. Menyadari melalui tamparan yang keras bahwa gue bukan pusat di dunia ini dan sadar bahwa "hey you, stop being selfish little bastard!" haha. Anyway I wanna say thanks to Allah karena udah nyelamatin gue dari penyakit ujub (cari aja di Youtube ceramahnya aa gym) dan membuat gue punya kesempatan untuk menjadi Imam yang lebih bijaksana bertindak memilih sesuatu dalam hidupnya.

Sebenernya setahun kemarin bukan hanya kejadian di atas sih. Gue juga mengalami dinamika di Salam UI, dimana sebenernya aing berpotensi jadi sekjen tapi alumni pada pengen gue jadi kabid syiar yaudahlah namanya juga amanah ya biar Allah yang menentukan mana yang terbaik buat kita. Lagian di syiar ternyata malah banyak bersyukur gue, gak tau deh kalau ternyata gue jadi sekjen gue bakal kayak apa wkwk. Ketika di syiar gue juga mengalami banyak dinamika, ntar gue ceritain post lain deh.

Intinya tahun 2017 menurut gue tahun dimana gue belajar menyadari bahwa gue gak bisa mengendalikan segala hal walau gue berusaha mati-matian, ada tangan-tangan Allah yang terlibat menggeser-geser peta jalan gue biar gue gak jatoh ke lobang buaya. Namanya juga manusia ya cuma tau yang terbaik versi akalnya sendiri.

Jadi 2017 semacam bulan penerimaan aja sih. Sebenernya setelah itu kan gue jadi better person than before ya dan mulai menata hidup gue, gue jadi merasa lebih hidup aja hahaha. Seneng banget parah.

Oh iya, selanjutnya proker Syiar yang gede-gede banyak banget bejibun, mana gue lagi magang nyambi skripsi ya. Bayangin woy *iya bayangin dulu gue tunggu 5 menit*








udah bayanginnya?

Bayangin aja nih ya gue tiap hari kan ke sekolah ya ngurusin kesehatan mental bocah-bocah SMA di Bogor, terus sorenya langsung caw ke Depok nyiapin Salam... KEMANA KAU PINTU DORAEMON DASAR PENIPU! AAAaaaAaaaaaAAA KENA TIPUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU BAAAAAAARANGGGGGGGGGGG PALLLLSUUUUUUUUU (you sing you lose).

Ditambah lagi skripsi gue barengan sama UI Islamic Bookfair. Parah ini sih sambil nyambi di meja operator panggung sambil revisian skripsi, tapi gue kaget. AAA KAGET! #yeungapagakjelaskampay
Gue kaget ternyata revisinya bisa beres woy padahal tangan gue sibuk banget ngurusin bocah-bocah IBF. Sadar aing kalau ternyata kapasitas kita bukan yang ada di kepala kita tapi apa-apa yang Allah ridhoi #duile. Selama Allah ridho maka semuanya akan menjadi mudah muehehehehe.

Eh adalagi yang gak kalah penting, rupanya berat badan gue naik parah. Dulu yang IMT gue kalau turun dua angka bisa dikategoriin kurang gizi, sekarang kalau IMT gue naik dua angka bisa dikategoriin obesitas wkwkwk. Ya untung kenaikannya masih di IMT normal sih. Tapi gue jadi agak sering olahraga soalnya kan postur gue yang membaik ini jadi kayak jelly kalau ditoel aja berasa toeng-toeng (lo ngerti gak sama kalimat ini? wkwkwk gue pusing gimana ngejelasin yang paling pas).

Btw, setelah pergolakan hidup gue selama 2017 dan peningkatan keilmuan gue soal kesehatan mental, Allah datengin ke gue orang-orang dengan berbagai masalah yang berat-berat. Ada yang depresi, self-harming, cerita keluarganya, amanahnya, sampe gak tau deh berapa orang yang curhat ke gue pengen bunuh diri (bener-bener sampe udah ada yang pernah nyiapin piso, ada yang udah bulak-balik naik atep tapi gak jadi, dll). Mereka tetiba aja gitu cerita... Di sini gue belajar bahwa tiap ilmu yang masuk ke kepala kita itu ada pertanggungjawabannya untuk diamalkan. Artinya membuat gue sadar dengan keputusan gue untuk lanjut S2 tahun depan (dan mungkin lanjut S3) bukan untuk sebuah kesombongan kalau punya gelar, tapi apakah amalan gue udah pantes buat mengimplemetasikan amanah ilmu setinggi itu?

Udah deh, itu tentang 2017 nya gue. Sekarang 2018 dan sepertinya kisahnya akan lebih asik dari tahun-tahun sebelumnya. I'm so excited!

Oh iya, guys. Selamat menjalani hidup yang sehidup-hidupnya di tahun ini!

Senin, 09 Oktober 2017

Konduktor Rasa Sayang

Saya tipikal orang orang yang meyakini bahwa rasa sayang terlepas dari batas-batas hubungan cinta antar dua orang untuk saling memiliki,

Saya memiliki banyak orang yang saya sayangi, dan kalau boleh jujur kebanyakan laki-laki. Mungkin karena di lingkungan saya sekarang hubungan terlalu dekat antara pria dan wanita adalah hal yang tabu.

Singkat cerita teman saya sedang low mood, hatinya terguncang. Saya sudah ajak dia bicara, kasih kejutan, memberikan obroloan hangat, namun rasanya tidak berpengaruh signifikan terhadap moodnya. Saya sadar bahwa dia memiliki teman dekat yang lain, akhirnya tadi pagi saya ajak dia bertemu dan menceritakan masalah teman saya ini.

Kami sepakat agar dia menemui teman kami siang ini dan memberi kejutan sekedar susu kotak dan puding, lalu pergi begitu saja. Rencana berhasil.

Rasanya teman kami akhirnya berubah moodnya.

Satu sisi saya ingin berkata padanya, "Tadi gue yang nyuruh loooh." Tapi saya sadar, hal itu malah akan menghancurkan rencana yang sudah dilaksanakan.

Saya jadi cuma senyum saja, ala-ala sinetron yang gebetannya jalan berdua sama pacarnya hahaha. Cukup menarik untuk mengelola rasa sayang, bahwa ia tidak harus dimunculkan secara langsung. Jika memang saya sayang, saya harus bisa menahan bahwa sumber rasa bahagianya bukan saya saja.

Hal di atas mungkin gak umum dibaca, hubungan persahabat sedekat itu memang jarang laki-laki tunjukan atau cerita kan, kebanyakan dari kami gengsi dan malu-malu kalau kami saling sayang. Tapi padahal kami juga butuh, malu-malu kucing gitu padahal mah mau.

Satu hal yang saya sadar, ini salah-satu jenis latihan dari ambisi saya di post Overthought and My Bad Ambition.

Terima kasih sudah jadi bahan belajar saya! :D

Minggu, 03 September 2017

Overthought and My Bad Ambition

STOP STOP GUE MAU NGOMONG
kebanyakan denger masalah orang akhir-akhir ini cukup bikin gue panik. It's okay kalau itu hanya berhenti di sesi ketemunya aja, tapi ini jadi berpengaruh di aktivitas gue, in negative term.

Gue jadi suka overthinking.... masalah orang.


Kaya semacam: duh gue bisa bantu dia gak sih sebenernya, omongan gue berdampak bagus gak ya buat hidup dia, eh kalau ternyata dia gagal gimana, yaampun nih orang kok gak berubah-berubah sih kesel, omg gue gagal, dia bisa gak ya, yaampun, aaaaaaaaaah

PADAHAL SIAPA GUE JUGA MIKIR BISA BERHARAP BERPENGARUH DI HIDUP ORANG LAIN

salah... sungguh keliru. Gue jadi sadar lagi kalau poin perubahan atau bahkan hidayah itu bukan urusan manusia yang ngatur, kita cuma berusaha jadi perantara aja. Jadi urusan dia berubah atau enggak pasca ketemuan sama kita biar jadi tantangan buat dia.

Kita bukan poros dunia ini, jadi semua yang terjadi dalam hidup bukan karena elo, Mam. Bukan. Stop overthinking.

Gue boleh aja peduli sama seseorang, tapi lagi-lagi... kunci perubahannya ya di orang itu sendiri. Gue yakin ini bukan penegasian kepedulian di diri gue... ini cuma penambahan realitas dalam kepala.

Ini gue lagi ngomongin apaan sih.

==============
In another side of my brain, gue belajar banyak dari mendengar orang. Rasanya seneng, hangat, dan gue merasa dipeluk (walau bukan secara fisik). Kayaknya sharing tetep jadi hal yang tepat.

Gue bukan hal penting di hidup orang, jadi gak perlu berharap banyak. Karena hal penting dalam hidup dia adalah diri dia, dan gue harus paham itu: bahwa dia penting untuk diselamatkan, oleh dia sendiri.

We can give our hand, dalam fase ini gue akan coba sebijak mungkin paham dan bantuin orang semampu gue. Hidup gak sendiri, dan gue bisa bertahan sampai sekarang pun bukan karena kaki gue sendiri, selalu ada bantuan. Tapi kala bantuan datang keputusannya tetep di gue untuk berdiri atau matahin kaki sendiri.

Terima kasih untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidup seorang Imam, kamu berdampak baik buatku.

Rabu, 26 Juli 2017

Sometimes, I hate myself

I'm not really sure with the title I made. I hate for hating myself, but I did.... or "I do".


I already know that I have a very big ego, bigger than my brain.
once it controls my head, I'll lost.

I just bored being a mess.

No, it isn't simple as you say "Just accept yourself"

Accepting myself is accepting my big ego too... and that's hard.

Sometimes I want to being isolated, drop every social thing I have... cause I just feel my existence will hurt people. It's hard.

maybe human being is a big achievement for me, first I need to being human.

Minggu, 19 Maret 2017

Kamu Bukan Tak Bisa Pulang, Kamu Tak Mau

Tiga hari ini tenggorokan saya sakit, semacam radang atau panas dalam. Alhamdulillahnya gak sampai membatasi mobilitas saya terlalu banyak. Al hasil saya masih bisa kerja dan pergi ke sana-sini, cuma tetap saya merasa semua hal ini (sakit ini) harus segera diselesaikan.

Biasanya jika sakit saya hanya akan tidur lebih banyak dari biasanya, makan lebih banyak dari biasanya, dan minum lebih banyak dari biasanya. Namun sakit ini agak beda, saya mau pulang. Saya mau manja di rumah.

Rencana mau pulang Sabtu untuk mengejar "kesembuhan" mental ini demi mengejar efek pada kesembuhan fisik rupanya harus tertunda sebab ku sudah ada tanggung jawab jadi panitia agenda pembinaan di Puncak sampai hari Minggu.

"Mi, Imam gak pulang ya minggu ini."

Sebuah chat yang rasanya jadi sangat biasa saya kirim pada ibu saya, ayah saya, dan adik saya. Chat itu saya kirim lagi Sabtu kemarin.

Namun ketika menjadi panitia, saya rupanya tidak benar-benar sembuh. Di Hari Minggu (hari ini) seusai amanah saya tadi, saya memutuskan untuk pulang tanpa mengabarkan orang rumah.

Hujan besar di jalan justru membuat saya jadi ingin cepat-cepat sampai, saya pusing, saya khawaitr terjatuh di jalan.

Jadi cerita yang berbeda saat saya sudah tiba di rumah,

rupanya Allah punya alasan mengapa sakit saya tidak menghalangi mobilitas saya. Allah mau saya pulang, lalu melihat sebuah kenyataan: Orang tua saya sedang sakit, keduanya. Saya masuk usai mengucapkan salam, lalu menyalami tangan keduanya, Umi yang masih membereskan piring ditemani suaranya yang habis, dan Bapak yang sedang tertidur di kamar belakang.

Kini hati saya tergores banyak hal, tidak nyaman. Keinginan saya ingin bermanja ria berubah jadi perasaan bersalah yang berat. Mengapa saya selama ini hanya peduli pada diri saya sendiri? menginginkan kedua orang tua saya memperhatikan saya, namun tak pernah mampu membalas dengan perhatian yang setara pada mereka.

Menjelang maghrib Umi berbaring di kasur, saya mencoba memberikan service berupa pijatan-pijatan lembut di kaki, lalu Umi tersenyum. Hal ini menghantarkan kami tenggelam dalam perbincangan kabar dan mimpi, walau lagi-lagi lebih banyak berfokus pada kabar dan mimpiku. Egois kamu mam, egois.

Seusainya saya memutuskan memotong buah-buahan untuk mudah Bapak santap saat bangun nanti, sambil menjadi sarana obrolan yang mengalir di ruang keluarga, Bapak habiskan buahnya satu piring.

Saya tidak bisa menahannya, saya harus masuk ke kamar dan menangis sebanjir-banjirnya. Hati saya terkoyak karena perasaan bersalah. Mengapa saya setidak peduli itu sampai tidak tahu kabar mereka? Sampai tidak menanyakan kabar mereka.

Maka sejatinya, saat kita berada pada jarak dekat dengan keduanya, akan terlihatlah raut penuh perjuangan dan harapan dalam membesarkan saya dan kedua saudari saya. Sedang saya masih saja tidak berjuang maksimal saat jauh dari mereka, dan tidak berusaha kuat untuk pulang demi memberi perhatian semaksimal yang saya bisa. Saya masih egois.

Allah, Ya Rabb, cintailah mereka seperti mereka mencintaiku. Buatlah aku menjadi amal mereka yang tiada berputus, Aamiin.

Apakah Perempuan Juga Kentut?

Ada satu rahasia di dunia ini yang lebih besar dibanding bumi itu berbentuk bulat atau datar,lebih besar dibanding apakah hubungan antara pecel lele dengan pecel, atau sebesar rahasia kapan kamu menjadi miliku. #eaa

Rahasia yang selalu menjadi tanda tanya besar di kepala gue adalah apakah cewek juga kentut atau enggak.

Gue gak tau dan rasanya gak pernah denger temen cewek gue kentut di depan umum. Ya, belasan tahun hal ini cukup menganggu kepala gue. Apalagi sekarang lingkungan gue lingkungan anak-anak rohis yang intensitas ketemu cewekya sangat minim.

But, dari dulu juga begitu walau gue punya temen seperbegoan berjenis kelamin perempuasn, gue gak pernah tau dia kentut atau enggak.

Jadi ada pertanyaan, sebetulnya kentut perempuan itu gak berbunyi atau memang wanita tidak diciptakan untuk kentut?

hhhmmm, komen?