Sabtu, 25 April 2020

Mari Kita Berbicara tentang Aib

Pasti pernah dengar dong kalimat berikut: "Jika dosa mengeluarkan bau, sungguh tak akan ada orang yang mau mendekat kepadaku."

Tapi iya deh, lama saya mikir, sebetulnya setiap manusia itu punya dosa. Dengan porsi yang berbeda-beda kita nutup-nutupin aib kita, sebagian ada yang bangga ngumbar-ngumbar. Ya gak apa juga.

Udah banyak kejadian orang yang keliatannya baik-baik aja tiba-tiba dijauhin dan dijatuhkan karena aibnya kebongkar. Pada akhirnya memang gak ada posisi aman buat manusia kan. Segala hal bisa berbalik begitu aja.

Lewat post ini saya juga mau ngaku kalau saya bukan orang yang putih-putih amat (iya aku tahu aku hitam, tapi yang ini maksudnya akhlakku). Dulu sempet takut banget kalau orang-orang tau aibku, tapi sekarang ada di posisi:

Yaudahlah ya, gimana Allah aja. Kalau emang harus jatuh ya jatuh, kalau memang dikasih kesempatan berbuat baik ya ayo aja!

Masa lalu emang hal paling tricky sih buat manusia, selain aib, ada juga dendam masa lalu, trauma masa lalu, kenangan masa lalu. Kita jadi keiket sama hal-hal yang udah lewat. Kira-kira nih, iketannhya harus dilepasin gak?

Menurut saya sih proporsional aja, selama gak ngeganggu masa depan, the past is still important.

Kadang masa lalu yang disimpan ngasih andil dan energi juga toh buat bertahan hidup hehehe.

Nah pun memang takdirnya harus jatoh, yasudah. Mungkin emang cara kita nebus dosa kali di dunia. Jadi ayudah, yakin aja sama jalannya. Kita memang harus berusaha, merencanakan, dan menyusun strategi, tapi menyiapkan diri untuk skenario terburuk juga penting.

eh btw, emang 'terbutruk' itu apa sih? hahahha

Jangan-jangan hal yang tidak kita sukai, yang menyakiti hati kita, yang bikin kita hancur malah yang 'terbaik' untuk kita? Perspektif aja sih.

Wassalam.

Serangan Balik Nasihat-Nasihat Kita

Pernah ada yang bilang bahwa kita akan diuji dengan nasihat yang kita berikan pada orang lain. Contohnya kalau kita nasihatin orang untuk bersabar, maka bersiaplah untuk dihantam oleh kejadian-kejadian yang menguras hati. Kalau kita menasihati tentang keimanan, bersiaplah untuk diterjang beragam goda. Kalau kita menasihat tentang kekuatan cinta, bersiaplah untuk terombang-ambing dalam ketakutan karena sendirian.

Lalu harus berhenti memberi nasihat? Tentu tiidak dong.

Justru hukum alam seperti ini membuat kita jadi orang yang terus ter-upgrade kualitas dirinya kan. Ibaratnya lagi kendur-kendurnya nih, eh tiba-tiba dapet serangan balik yang tidak diduga-duga. Ini juga membuktikan sih apa sebetulnya kita pantas untuk menasihati tentang suatu hal.

Lagian nih ya, gak bisa tau kita hidup cari aman terus. Diri ini harus selalu ditempatkan di posisi-posisi kritis, karena kreativitas dan solusi brilian seringnya muncul di saat-saat seperti itu.

Hidup cuma sekali boy, jadi selama da kesempatan berilah nasihat.

Selama memberi nasihat, bersiaplah buat dapet serangan balik dari alam.

Selama dapet serangan balik, bersyukurlah soalnya kita berarti masih disayang.

Lagian nih ya, bisa jadi kejadian buruk yang bikin hati lelah itu malah bikin kita deket sama diri sendiri. Lebih bisa paham siapa sih aing? Begitu.

Jadi mari mensyukuri segala kesempatan dalam hidup, yang manis dan yang pahit, semua punya hak yang sama untuk disyukuri. Yoush!