Jumat, 12 Agustus 2016

Menasihati

Sejak menjadi supervisor di Rumah Kepemimpininan, memberi nasihat bagi saya adalah sebuah rutinitas. Bukan jadi Lelaki Maha Benar, tapi saya rasa ketidaksempurnaan dan kesalahan haruslah dikondisikan sebagaimana mestinya.

Dalam proses menasihati ini rupanya bukan sekedar orang yang saya nasihati saja yang jadi objek, tapi diri saya sendiri pun jadi objek. Misal saat menasihati untuk tidak mengantuk dikala dzikir, maka saya diberi ujian mengantuk karena mengerjakan tugas. Saat saya menasihati untuk bangun tahajud mandiri, saya diberikan rasa lelah yang begitu sangat. Saat saya emnasihati utnuk menyempatkan diri membaca Al-Quran di hari-hari, mengapa seakan di hari itu terasa begitu padat?

Saat saya minta adik-adik utnuk menjaga kesehatannya, sakit kepala dan rasa lelah dengan mudah menghigapi diri.

Namun yang saya yakini, ini bukan tanda saya untuk berhenti, tapi ini tanda saya untuk tak sekedar menjadi guru, namun untuk berjuang bersama mereka berkembang bersama-sama.

Terima kasih, Ksatria 8.
Saya banyak belajar dari kalian.

Minggu, 07 Agustus 2016

Manusia dan Labirin Kepalanya

Kita yang biasanya membangun konstruksi persepsi pada apa yang orang-orang lakukan, akan menjadikan kita ditelan oleh pasir hisap pikiran sendiri. Terjebak. Sehalus apa pun ramalan yang kita buat tentang bagaimana otak orang di hadapan kita berfungsi, akan menjadikan kita dikungkung oleh tembok baja pikiran sendiri. Terjebak. Pada hakikat awalnya, pikiran manusia dipengaruhi oleh berbagai fenomena manusia yang berbeda pada tiap insannya. Hal ini menyebabkan pola pikir yang jauh berbeda pula, yang bahkan menjadikan hak kita untuk menilai menjadi sangat minim.

Sebagai contoh, seseorang dalam sebuah permainan berpikir diminta untuk menganalogikan dirinya dengan sebuah benda. Beberapa memilih air. Dalam pikiran saya (atau mungkin pikiranmu juga), orang yang membuat analogi diri dengan air pasti berhubungan dengan ketenangan atau kesejukan. Tidak, beberapa orang bahkan menganalogikan diri dengan air hanya karena pada saat itu dia haus. Iya, hanya karena haus.

Banyak orang di dunia ini yang berpikir sangat rumit hingga jika ia hendak menangkap bola, otaknya berpikir tentang segala kalkulasi hukum fisika, lalu mungkin bolanya lebih dulu menerapkan Hukum Newton I pada wajahnya. Bam! Dalam kondisi lain, orang lain akan berpikir begitu sederhana, seakan semua saraf didesain untuk sistem refleks. Level kerumitan dan kesederhanaan ini jelas berbeda pada tiap orang dan tiap kondisi.

Lantas kita yang tadinya berjalan sendiri-sendiri, seakan punya hak untuk membenci orang yang kita anggap menyebalkan. Bukankah ini rasanya tidak adil? Apa-apa yang orang lakukan dan pikirkan berasal dari segala kondisi apa yang terjadi padanya di masa lalu, yang mungkin tidak mendapatkan pendidikan dan pola asuh seberuntung kamu, ah maaf maksudnya sebetuntung kita.

Segala tendensi yang tercipta rasanya menjadi sangat kriminal jika dilakukan hanya sampai tahap berpikir dan menaksir nilai. Sebagai manusia yang berpikir lebih rumit, akan menjadi lebih baik bagi kita memberikan tutor bagaimana gelombang otak kita berjalan di dalam labirin pikiran. Sampai pada tiap-tiap orang yang kita hampir labeli, harus kita konfirmasi dan kita ajari bagaimana membuatnya berpikir secara tepat menurut kita. Ya, menurut kita.

Bisa jadi pada orang-orang yang kita anggap tidak tepat pola pikirnya, ternyata lebih mantap dalam kondisinya sendiri. Hingga kita terlalu sibuk untuk menilai dan lupa bahwa diri kita sendiri yang seharusnya mendapatkan pelajaran pikiran.