Jumat, 30 Oktober 2015

Hilang Jalan

Pernah tidak... merasakan kau punya tujuan tapi tak punya jalan?

ooh. dulu kau punya, kau berlari di atasnya sambil tertawa bahagia...
terkadang juga kau jatuh tersungkur dan menangis sekeras-kerasnya, lalu berlari lagi... sambil menangis.

Namun sekarang jalan itu seperti...
       ...hilang

kau sedang lelah berjalan, kemudian kabut tebal menutupimu, kau terus berjalan lalu
WUSH!

kau jatuh, ternyata jalan yang kau tempuh selama ini jalan menanjak, sekarang sudah sejauh ini... ternyata tinggi juga

kakimu kini patah, kau ingin kembali ke jalan dan melanjutkan mimpi
tapi kau terlalu lemah untuk melompat...
       ...dan mengobati kakimu sendiri.

Minggu, 11 Oktober 2015

Seseorang bertanya mengapa aku bisa bertindak sebebas itu

Tiada alasan aneh, aku hanya ingin mendengar jeritan terpendam orang diam
mereka mudah dipicu oleh kebebasan.

Kamis, 24 September 2015

Mengapa suatu tepukan di punggung bisa begitu berharga?

Dan berhasil membuat kau berlari.

Rabu, 16 September 2015

Kini Kau Ditinggalkan

Mengapa kini ditinggalkan rasanya tidak sesakit yang dibayangkan, rasanya seperti biasa saja. Tidak ada yang berubah dalam hidupmu, hanya sebagian kecil yang hilang, hanya seorang.
Kau bisa hidup seperti biasa, mengerjakan semua yang kau suka dan...
Entahlah, bahkan berekspresi seperti biasa.
Ini seperti menatap semesta saat malam dan kau tidak sadar ada satu bintang yang hilang.

Mengapa kini ditinggalkan rasanya menyenangkan, penciumanmu menghirup harum udara padahal tak ada bunga di sekitar.
Rasanya seperti kau diabaikan oleh hukum gravitasi, kini kau melayang bebas terbang! Kau hanya ingin tertawa, dadamu rasanya tergelitik oleh sesuatu dari dalam. Kau hanya ingin teriak mengeluarkan semua atmosfir gembira, oh bayangkan saja dunia sedang kau genggam!

Namun mengapa kini ditinggalkan rasanya begitu menyakitkan, seakan-akan jantungmu digoreskan oleh sisir besi tajam, sakit. Namun ia ada di dalam, kau tak bisa mengeluarkannya.
Ini seperti cairan pahit dari neraka diteteskan melalui tenggorokanmu, masuk ke dalam paru-paru. Setiap udara seakan berat untuk dihirup. Seperti racun meletup yang dipaksa masuk ke dalam aliran darahmu, masuk ke otak dan kepalamu rasanya seperti dihantam oleh letusan gunung paling besar di kota.


Mengapa kini ditinggalkan rasanya seperti kau kehilangan segalanya, karena orang yang meninggalkanmu ikut membawa hidupmu bersamanya.

Selasa, 15 September 2015

Semua Semesta Mendukung?


Sebenernya buat apa sih kita ada?

Bayangkan kita bangun tidur, sholat shubuh lalu al-ma’tsurat...
Jam masih menunjukan pukul 06.00, oh ya kuliah mulai jam 8 tepat! Mungkin bisa digunakan untuk istirahat menggantikan tidur yang terpakai tadi malam mengerjakan sesuatu yang tertunda, ah mungkin bisa tidur sebentar sekitar 15 sampai 30 menit.
Nyalakan kipas angin dan pindahkan kasur ke lantai, ah terlelap...

OH yaampun jam menunjukan pukul 7.30, kamu harus berangkat sekarang atau dosen tidak mengizinkan tandatanganmu tertulis di daftar presensi.
Tapi kau harus mandi karena sore nanti harus berdiri di ruang seminar, dan malam digunakan rapat. Kau tidak boleh tidak mandi di hari seperti ini.

Kuliah mulai, kau mengantuk dan akhirnya terlelap.
Ada tugas lagi di akhir kelas, minggu depan... baiklah masih lama.

Seminar dimulai, rapat dimulai.
Semuanya terasa salah karena kau dianggap tak maksimal.
Lalu kau merasa bersalah, selesai rapat kau pulang lagi untuk mengunjungi dialog tokoh pukul 8 malam di asrama!
Tidak boleh terlambat karena kau lupa izin dengan sibuknya harimu, baiklah akhirnya kau terlambat 15 menit, sedikit tapi cukup jadi bahan evaluasi oleh supervisor. Kau merasa bersalah.
Selesai di evaluasi akhirnya kau bisa masuk kamar, ah akhirnya masuk kamar.

Pukul 23.00 kau harus menyalakan handphone, bersiaplah akan diprotes setiap orang karena tidak merespon di grup whatsapp, handphone-mu mati kehabisan energi sejak sore.
Grup dibuka, chat dibalas, dan selesai mengurus beratus chat yang masuk ternyata jarum jam melewati angka 12, yaampun sudah lebih dari tengah malam.
oh iya kau harus mengerjakan tugas kuliah!

Pada jam 2:30 kau baru bisa tertidur... bersiaplah karena kau berpikir, “oh yaampun hidupku besok akan mengantuk seharian.”

Begitu saja setiap hari

Seakan semesta mendukung keberadaanmu... tapi kenapa rasanya menolak semua yang kau kerjakan.

tapi semua berhenti terjadi saat jadwal dibuat, waktu direncankan, niat diluruskan, manajemen diperbaiki, dan visi ditegaskan!
Wish Me Luck! :D

Jumat, 21 Agustus 2015

Bakar


Rizki : Sudahlah sayang, tak perlu sibuk ketakutan pada api.
Dina  : Bagaimana tidak? api itu kian besar melahap yang ia bisa!
Rizki : Saat tak ada yang tersisa, api itu akan mati kebingungan, hilang perlahan.
Dina  : Dan itulah kau.

bukankah benar saat rasa itu membara nanti ia akan hilang juga
perlahan menguap dan dilupakan oleh asapnya

Pesona Singa Mengembik

Sebuah Kisah Titik Balik Muhammad Imam Nawawi Syujai
PROLOG
            Ada sebuah fabel menarik tentang singa. Fabel ini saya dapatkan dari kisah-kisah kreatif yang saya baca. Tak perlu memutar pikiran terlalu keras sebab cerpen ini cukup mudah dicerna. Semua cerita saya tulis ulang karena saya lupa dari mana hasil bacanya. Mungkin ini akan menjadi gaya lain dalam penceritaan titik balik hidup.
            Di sebuah pedalaman hutan tropis terdapat seekor bayi singa yang terlelap disamping tubuh induk singa yang telah mati ditembak oleh seorang pemburu. Di balik semak-semak seekor kambing menyaksikan kejadian itu dan merasa iba terhadap bayi singa. Setelah lama mempertimbangkan akhirnya induk kambing memutuskan untuk mengadopsinya, dihidupkan bersama seekor anak kandungnya.
            Waktu lama berlalu, sang singa hidup layaknya kambing hutan, lincah. Singa benar-benar hidup, makan, dan berkomunikasi layaknya seekor kambing, bahkan ia mengembik layaknya kambing. Hingga pada suatu hari kelompok kambing ini diserang oleh seorang serigala, semua kambing panik termasuk anak singa. Serigala berhasil menangkap anak kandung induk kambing dan siap menerkamnya. Kepanikan ini membuat induk kambing menyuruh singa untuk menyerang balik dan menyelamatkan anak kandungnya, namun singa ketakutan seperti kambing. Setelah suasana semakin mencengkam akhirnya singa memberanikan diri untuk berlari ke arah serigala. Serigala melihat ada singa yang berlari ke arahnya dan ia ketakutan, kakinya gentar agak mundur. Beberapa saat kemudian yang terjadi adalah sebuah suasana awkward, singa itu berlari sambil mengembik! Serigala telah merasakan ada yang janggal, ia sudah tidak ketakutan dan memberikan aungan pada singa sehingga singa ketakutan. Serigala mendapatkan anak kambing.
            Kejadian ini menyebabkan singa dikeluarkan dari gerombolan, ia sudah tidak dianggap bagian dari gerombolan kambing. Akhirnya singa berjalan sendiri, membawa kesedihan. Suatu hari ada seekor singa dewasa yang melihatnya sendirian, sehingga ia memutuskan untuk mendekatinya. Singa melihat ada singa dewasa yang mendatanginya, ia ketakutan karena takut dimakan. Ketakutan ini menyebabkan singa lari dan singa dewasa kebingungan akhirnya terjadi kegiatan kejar-kejaran.
Beberapa Minggu Kemudian
akhirnya anak singa diasuh oleh singa dewasa dan akhirnya bisa menjadi singa yang sesungguhnya.

                                                                                                                       
Sebuah Telaga
           Jika diamati, banyak orang di hidup ini yang tinggal di ‘kandang kambing’, semuanya merasa dirinya rendah, tidak tahu potensi diri yang dimilikinya, dan terjebak dalam kesibukkan yang tidak ada maknanya. Inilah saya dahulu, merasa hidup tidak begitu hidup. Berjalan dan beperilaku sebagai ‘kambing’ di lingkungan yang sangat mendukung ke-‘kambing’-an itu. Tidak ada yang menarik, karena sewaktu itu sulit untuk mengaum, bahkan tahu cara mengaum yang benar pun tidak.
           Hingga pada Maret tahun ini saya berkesempatan mendatangi suatu telaga kehidupan, dikatakan telaga karena saya merasa ini memang nyaman bagai telaga. Namun izinkan saya menggantinya sementara. Hingga pada awal tahun ini saya berkesempatan mendatangi suatu ‘kandang singa’. Ya, benar. Rumah Kepemimpinan PPSDMS sudah bagaikan tempat yang berisikan ‘singa-singa’ besar. Mereka semua, para peserta pembinaan SDM strategis cukup menakutkan dengan segala kekuatannya masing-masing, menakutkan dalam hal yang menakjubkan.
           Sejak menjadi Peserta Antar Waktu atau sederhananya peserta yang menggantikan, saya cukup kesulitan belajar ‘mengaum’, ditambah alumni dari program pembinaan ini telah mencapai ratusan angkanya. Ini sebetulnya menjadi beban tersendiri, ah beban? Bukan, tantangan. Pada dasarnya ketika saya memasuki asrama ini, cukup banyak kebiasaan yang harus saya lakukan. Pertama, tidak ada ruang privasi karena ada 29 pasang mata yang melihat tingkah asli kita, itu artinya lambat laut sifat buruk saya bisa dilihat orang (hey guys, but i’m happy about that, saya jadi bisa evaluasi diri saya menimialisasi keburukan itu). Kedua, jadwal yang padat cukup membuat saya kebingungan mengganti jadwal harian saya berkali-kali, bahkan kini dalam satu minggu saya bisa revisi jadwal tiga kali. Ketiga, asrama ini ditempati 30 orang yang memiliki sejarah hidup yang berbeda-beda, ini artinya mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Saya sampai bisa menemukan teman hidup (real best friends, yes friend with s) dan sekaligus menemukan orang yang paling mengesalkan yang pernah saya temui di hidup saya. Semuanya ada.
           Politik dan pemikiran. Terhitung sudah empat bulan saya dibina di asrama ini, banyak hal yang telah... emm. Mengubah cara saya berpikir. Saya bukanlah orang normal yang terlihat normal, maksud saya saya cukup aneh dalam berpikir dan berbicara, tapi mereka bisa menerima itu, sungguh suatu harta berharga. Lalu ini menjadi suatu tantangan, tinggal di sekitar orang dengan mental pemimpin membuat saya harus selalu memutar otak saya untuk dapat menyampaikan apa pikiran saya dengan efektif, karena kalau tidak semua hasil pemikiran saya akan patah begitu saja. Ini adalah suatu sensasi luar biasa, saya jadi sering buka berita dan mempelajari ilmu yang multidisiplin agar dapat berbincang dengan orang-orang di sini. Asik.
           Kerohanian? Bagian ini akan sangat menggelikan. Di asrama yang diisi dengan pembinaan berbasis Islam ini ternyata mengandung segala macam pemikiran mengerikkan tentang agama di kepala pesertanya. Saya pernah berbdebat dengan salah satu peserta tentang konsep tuhan, dan itu terjadi di asrama ini. Semua itu terjadi untuk memperkuat landasan keislaman sebetulnya. Sering suatu saat di kamar saya muncul ide-ide dan celetukan-celetukan yang cenderung liberal (dalam arti perusakan agama) dan kemudian di susul dengan istigfar salah satu peserta dan diikuti yang lain, lucu, bagaimana semua keliberan ini dapat berakhir dengan satu istigfar saja, betapa kental nuansa keislaman di sini. Pada akhirnya kita tidak membiarkan pemikiran liberal itu, tapi tetap berpikiran terbuka. Rumah Kepemimpinan PPSDMS membuat saya berusaha untuk selalu moderat dan terus menguatkan landasan agama.
           Lanjut ke poin prestasi, jelas tulisan “Tulis prestasi bulan ini ya” yang muncul di grup whatsapp kami tiap bulan cukup mengintimidasi mental saya. Gila, bagaimana mungkin mereka dengan kesibukan yang banyak bisa mengisi list di grup itu tiap bulan? Atmosfir prestasi di sini cukup kuat dan membuat saya engap-engapan. Tapi tak apa, ini adalah suatu tantangan lain agar saya bisa ‘mengaum’. Hingga perlahan setelah jadwal saya sudah cukup rapi saya bisa menulist kolom itu meski sedikit demi sedikit. Yang jelas saya harus akselerasi lebih cepat lagi.
           Hingga akhirnya kekeluargaan di sini, entahlah cukup unik program ini mengumpulkan 30 orang selama dua tahun. Meski baru bergabung dan mereka telah bersama selalu satu tahun, saya sudah merasa menjadi bagian dari mereka. Mereka (semua) begitu perhatian, inilah mungkin kenapa kami tidak butuh perhatian pacar (karena memang sejatinya kami tidak mau pacaran). Saya sangat puas dengan dinamika kekeluargaan di asrama. Bahkan singa-singa jantan ini, yang biasa disebut Ksatria UI,  harus bersama mengurusi urusan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, menyikat kamar mandi, mencuci, membangunkan, dan segala macam kegiatan rumah tangga lainnya, ini semua dilaksanakan setiap hari. Lalu perbedaan karakter mereka mengajarkan saya untuk terus ramah dalam situasi apapun, untuk selalu perhatian, dan untuk selalu memberi. AH I LOVE YOU ALL GUYS FROM MOON TO SUN.

           Di antara semua kondisi yang ada, kekhawatiran tetap menyelimuti saya. Apakah saya sebetulnya ‘singa’ yang baru menemukan ‘kandang’-nya, atau sebetulnya memang sejatinya saya adalah ‘kambing’ yang kebetulan masuk kandang singa? Entahlah. Teh Enung, Manajer Regional kami pernah mengatakan sesuatu kepada saya, Bang Rifqi, dan Bang Nuzul. Kami bertiga adalah Peserta Antar Waktu yang masuk bersama-sama. Kata Teh Enung, “Mungkin kami dari Eksekutif bisa salah atau keliru memilih kalian,” sebetulnya kalimat itu cukup mengenai pusat hati saya, “tapi Allah telah menunjukan jalan untuk kalian ada di sini,” Yaampun, peluru yang seakan tadi masuk ke pusat hati saya seakan berubah menjadi gumpalan air yang menyejukan mengalir ke seluruh tubuh. Ya, saya telah membulatkan tekad. Saya tidak peduli apakah saya ‘kambing’ atau ‘singa’, yang jelas di sini saya akan terus belajar ‘mengaum’, ‘mengaum’ dengan sangat hingga akhirnya saya bisa membuat ‘singa’ lain, kambing, sapi, katak, ikan, dan semua orang bisa ‘mengaum’ menyebarkan manfaat pada Indonesia yang akan lebih baik dan bermartabat. Soon, really soon. 

Rabu, 03 Juni 2015

Merancang Mimpi (done)

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wa barakatuh!!!!!
Woaaa akhirnya ngepost lagi...
I’m so excited... mungkin blog ini udah lama nungguin gue buat ngepost sesuatu, udah berapa bulan nih...
Kalau saya tunda lagi mungkin judul post-nya “First Baby, new generation of my familly” atau “Rasanya mandiin bocah lima tahun” atau lagi “Saat ASI Ekslusif disandingkan dengan Badan Ekslusif Mahasiswa” #ApaanDah
--------------------------------------------------
Warming up lagi nih nulis.
Terlalu banyak hal menarik yang terlewat buat diceritain, banyaaaaaak banget. beberapa bulan ini begitu menegangkan.
Well kabar baiknya adalah di post kali ini gue akan meneruskan post yang waktu itu agak bersambung.
Tepatnya post yang berjudul “Posting Tengah Malam

Jadi ada kabar apa?
Hehehe waktu itu gue lagi tes PPSDMS, daaaan gagal tetot padahal udah sampai tahap terakhir. Kemudian sekarang diterima di PPSDMS Regional I Jakarta Ksatria 7, kok bisa?
Alhamdulillah dapat kesempatan lagi unuk tes ulang setelah delapan bulan. Semacam menggantikan...
Gimana rasanya di asrama? Cerita nanti deh ya... too much to tell :D

Wassalamu’alaykum!