Kamis, 21 Desember 2017

Semua Orang pada Dasarnya Aneh

Aku menilik pada lantai-lantai yang memantulkan cahaya secara bias, membuat diriku terlihat berbeda di bawah sana. Ya, itulah aku yang aku lihat di pantulan keramik. Berbeda dengan diriku yang aku tahu.

Lalu aku membayangkan semua orang yang aku kenal, aku tak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. Serta, teman-temanku, bahkan mungkin orang tuaku sendiri tidak tahu apa yang ku tahu tentang diriku secara menyeluruh. Bahkan... mungkin diriku sendiri tidak mengenal secara lengkap siapa aku. (Rekomendasi untuk pembaca: coba cari teori Johari Window).

Pada dasarnya semua orang berbeda, atau dalam kadar yang lebih liar: aneh. Kita dibangun dengan kondisi berbeda, hal itu menjadikan kita memilki kecenderungan menyukai hal yang berbeda-beda. Namun, kita selalu malu dianggap berbeda, atau dalam kadar yang lebih liar: aneh.

Dan aku memilih untuk menjadi seaneh mungkin yang diriku bisa lakukan, bukan untuk cari perhatian atau membakar sensasi dunia. Sebuah keanehan ya memang diriku ingin berada di sana, mengabaikan definisi "keren", "berwibawa", atau hal-hal berbau pujian lainnya. Sebab aku yakin definsi itu hanya konstruksi sosial. Hanya perlu jadi orang baik, tidak perlu jadi orang keren.

Untuk apa mengikuti kemauan dunia sedang kau tidak bahagia, mengapa harus memenuhi ekspektasi banyak orang sedang bukan itu yang kau inginkan, bersyukurlah dengan warnamu sendiri... sebab dengan berbeda, nada-nada menjadi enak untuk didengar.

Semua orang pada dasarnya memang aneh, namun beberapa tidak pandai menyembunyikannya. Sepertinya yang beberapa itu termasuk aku, sepertinya.

Minggu, 03 Desember 2017

Amanah ke Amanah

Harusnya aku sekarang lagi bikin list data dasar buat besok bahan FGD, tapi entah kenapa ada hal yang membuat gusar. Pertanyaan itu muncul tiba-tiba.

Kita adalah manusia yang berjalan di atas amanah-amanah, tugas-tugas yang kita pilih untuk kita selesaikan. Dalam fase itu aku menyadari bahwa amanah bukan hanya tentang jabatan yang tiap tahun berganti, tapi proyek-proyek kita, lomba-lomba yang kita siapkan, skripsi yang kita kerjakan, pekerjaan yang kita tandatangani kontraknya, serta segala tugas yang sudah kita prediksi waktu selesainya juga merupakan amanah.

Kita berjalan dari amanah ke amanah, bertumpuk ia di kaki, tidak pernah hanya satu yang dipijak. Kala amanah selesai, ada amanah yang minta dilanjutkan serta amanah baru yang muncul.

Lantas yang jadi pertanyaan: Bagaimana jika ketika sedang berjalan dalam pijakan, tiba-tiba kita meninggal?

Nafas berhenti kala amanah belum selesai, alih-alih nyelesain tugas mepet deadline, eh umur kita yang pas sama deadline.

Eh hidup juga kan amanah. Jadi terus aja berjalan di atas amanah-amanah, sebab amanah-amanah yang kita pijak... di lapis paling bawah adalah amanah kita pada-Nya tentang hidup kita.

Sabtu, 02 Desember 2017

Ngabisin Jatah Gagal

Kesadaran saya terhadap pentingnya aktivitas mendengarkan baru berlangsung beberapa tahun ini, sebab dari kecil saya tipikal orang yang bawel dan tidak bisa diam. Gatel Pantat istilahnya, padahal pantat saya gak bentol-bentol.

Sejak di kampus saya orang yang selalu berusaha tutup mulut, ya walau mungkin termasuk gak berhasil HAHAHAHA! Saya merasa kepala saya kok ya isinya sayang gitu kalau gak dikeluarin, akhirnya solusinya adalah nulis! hehehe. Tapi jelas banget untuk ngeluarin berbagai kata dan menyusun kalimat baik lisan maupun tulisan harus punya banyak asupan biar apa yang kita keluarin gak kopong-kopong amat.

Makanya saya mulai menikmati membaca dan mendengar, sebab dengan keduanya pengetahuan dan perspektif bisa bertambah, lebih bertambah ketimbang berbicara terus-menerus.

Salah satunya saat sahabat saya yang 'sakit introvert' berhasil saya bikin bawel pas berduaan sama saya (hahaha I found the 'sakit introvert' term at internet and laughed so hard, for your notes: it isn't an illness anyway). Saya gak tau sih kenapa dia bisa sebawel itu, tapi saya suka walau agak capek. Ya mau gimana juga perspektif dari dia adalah hal berharga dan membantu saya dalam memaknai sudut pandang lain dalam beberapa hal.

Sebagai contoh, suatu hari saya pernah gagal dalam sebuah target. Saya jatuh, kecewa dengan diri sendiri, menyalahkan kemampuan saya, sampai gak percaya sama mental sendiri. Duh memang masa-masa labil. So, saya cerita deh ke sahabat saya, dan tau apa yang dia bilang, "Duh pantat gue gatel nih." 

YA ENGGAK LAH WKWKWK

Dia bilang, "Ya baguslah, berarti jatah gagal lo berkurang." Wah menarik nih.

Pokoknya dia percaya betul bahwa manusia itu punya jatah gagal dalam hidup, makin sering kita gagal berarti jatah gagal kita makin berkurang dan sisanya tinggal yang berhasil-hasil gitu. Ya itu bantu saya gak terpuruk-terpuruk amat sih walau saya gak percaya sepenuhnya sama kata-kata dia (maafkan aku sahabatku). Cuma saya mempelajari dalam sudut pandang lain, bahwa kegagalan ya bukan akhir dunia.

Dari dia saya belajar bahwa kegagalan bukan lah kegagalan #hapasih. Kegagalan jika dimaknai baik adalah sebuah proses pembelajaran. Seperi Einstein bilang (walau saya gak tau ini bener apa enggak) bahwa dia bukan gagal 1000 kali, tapi dia menemukan 1000 cara yang tidak berhasil.

Jadi, selamat ngabisin jatah gagal!

Senin, 09 Oktober 2017

Konduktor Rasa Sayang

Saya tipikal orang orang yang meyakini bahwa rasa sayang terlepas dari batas-batas hubungan cinta antar dua orang untuk saling memiliki,

Saya memiliki banyak orang yang saya sayangi, dan kalau boleh jujur kebanyakan laki-laki. Mungkin karena di lingkungan saya sekarang hubungan terlalu dekat antara pria dan wanita adalah hal yang tabu.

Singkat cerita teman saya sedang low mood, hatinya terguncang. Saya sudah ajak dia bicara, kasih kejutan, memberikan obroloan hangat, namun rasanya tidak berpengaruh signifikan terhadap moodnya. Saya sadar bahwa dia memiliki teman dekat yang lain, akhirnya tadi pagi saya ajak dia bertemu dan menceritakan masalah teman saya ini.

Kami sepakat agar dia menemui teman kami siang ini dan memberi kejutan sekedar susu kotak dan puding, lalu pergi begitu saja. Rencana berhasil.

Rasanya teman kami akhirnya berubah moodnya.

Satu sisi saya ingin berkata padanya, "Tadi gue yang nyuruh loooh." Tapi saya sadar, hal itu malah akan menghancurkan rencana yang sudah dilaksanakan.

Saya jadi cuma senyum saja, ala-ala sinetron yang gebetannya jalan berdua sama pacarnya hahaha. Cukup menarik untuk mengelola rasa sayang, bahwa ia tidak harus dimunculkan secara langsung. Jika memang saya sayang, saya harus bisa menahan bahwa sumber rasa bahagianya bukan saya saja.

Hal di atas mungkin gak umum dibaca, hubungan persahabat sedekat itu memang jarang laki-laki tunjukan atau cerita kan, kebanyakan dari kami gengsi dan malu-malu kalau kami saling sayang. Tapi padahal kami juga butuh, malu-malu kucing gitu padahal mah mau.

Satu hal yang saya sadar, ini salah-satu jenis latihan dari ambisi saya di post Overthought and My Bad Ambition.

Terima kasih sudah jadi bahan belajar saya! :D

Minggu, 24 September 2017

Saya hanya baru sadar kalau ternyata teman kita yang mudah "baper" mengajarkan kita untuk lebih cerdas dalam memilih cara bicara.

Tidak sekedar menyampaikan tapi juga membuat kata-kata jadi selicin mungkin sehinga masuk tepat melalui labirin kepalanya tanpa membuat luka.

Duh.

Minggu, 03 September 2017

Overthought and My Bad Ambition

STOP STOP GUE MAU NGOMONG
kebanyakan denger masalah orang akhir-akhir ini cukup bikin gue panik. It's okay kalau itu hanya berhenti di sesi ketemunya aja, tapi ini jadi berpengaruh di aktivitas gue, in negative term.

Gue jadi suka overthinking.... masalah orang.


Kaya semacam: duh gue bisa bantu dia gak sih sebenernya, omongan gue berdampak bagus gak ya buat hidup dia, eh kalau ternyata dia gagal gimana, yaampun nih orang kok gak berubah-berubah sih kesel, omg gue gagal, dia bisa gak ya, yaampun, aaaaaaaaaah

PADAHAL SIAPA GUE JUGA MIKIR BISA BERHARAP BERPENGARUH DI HIDUP ORANG LAIN

salah... sungguh keliru. Gue jadi sadar lagi kalau poin perubahan atau bahkan hidayah itu bukan urusan manusia yang ngatur, kita cuma berusaha jadi perantara aja. Jadi urusan dia berubah atau enggak pasca ketemuan sama kita biar jadi tantangan buat dia.

Kita bukan poros dunia ini, jadi semua yang terjadi dalam hidup bukan karena elo, Mam. Bukan. Stop overthinking.

Gue boleh aja peduli sama seseorang, tapi lagi-lagi... kunci perubahannya ya di orang itu sendiri. Gue yakin ini bukan penegasian kepedulian di diri gue... ini cuma penambahan realitas dalam kepala.

Ini gue lagi ngomongin apaan sih.

==============
In another side of my brain, gue belajar banyak dari mendengar orang. Rasanya seneng, hangat, dan gue merasa dipeluk (walau bukan secara fisik). Kayaknya sharing tetep jadi hal yang tepat.

Gue bukan hal penting di hidup orang, jadi gak perlu berharap banyak. Karena hal penting dalam hidup dia adalah diri dia, dan gue harus paham itu: bahwa dia penting untuk diselamatkan, oleh dia sendiri.

We can give our hand, dalam fase ini gue akan coba sebijak mungkin paham dan bantuin orang semampu gue. Hidup gak sendiri, dan gue bisa bertahan sampai sekarang pun bukan karena kaki gue sendiri, selalu ada bantuan. Tapi kala bantuan datang keputusannya tetep di gue untuk berdiri atau matahin kaki sendiri.

Terima kasih untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidup seorang Imam, kamu berdampak baik buatku.

Senin, 28 Agustus 2017

Tidak Perlu Menjadi Siapa-Siapa

Saya sempat kehilangan sesuatu yang besar bulan lalu, hal itu saya sebut "kasih sayang".

Saya dibenci, dijauhi, dibuka aib diri, serta dihindari dan tidak diinginkan. Saya kira saya sedang menebarkan kasih sayang, ternyata saya keliru, saya hanya ingin dicintai secara egois. Menjadikan pujian orang, pemberian orang, serta perhatian orang sebagai perhiasan bahwa saya adalah sesuatu yang menakjubkan.

Lalu rasanya saya disucikan dengan rasa sakit yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sangat-sangat tidak menyenangkan, merontokan rasa kagum pada diri sendiri dan ingin dipuji seperti mencabut pohon jati raksasa dengan akar yang menghujam pada tanah kering kelontang.

Saya mencoba bersabar, sebab kala itu saya yakin pasti Allah sengaja menyelamatkan saya dengan cara seperti ini.

Kini saya sudah ke luar dalam fase tersebut, penerimaan-penerimaan sudah dilakukan, perdamaian dengan masa lalu telah terjadi, diri telah dimaafkan oleh saya sendiri.

Saya kira saya akan sendirian setelahnya, namun Allah mengembalikan semuanya. Kasih sayang lebih melimpah ruah pada diri, perhatian yang diberikan terasa lebih.... bersih dan menenangkan. Saya seperti sedang melayang... ringan... namun kaki masih menghujam pada tanah, suatu tanda bahwa saya sedang tidak kemana-mana.

Pelajaran mungkin telah didapatkan, bahwa terlalu fokus membuat diri terlihat seperti orang yang baik tidaklah bagus. Cukup jadi orang baik, serta terus berusaha menegasikan unsur negatif dalam diri, tidak menerimanya tanpa memperbaiknya. Sebab kapasitas... tidak akan membohongi dimana diri harus berada.

Kita tidak perlu menjadi siapa-siapa, sebab kita bukanlah siapa-siapa.

Kamis, 03 Agustus 2017

Don't Let Anyone Tell You the Answer

Setiap dari kita hidup dengan masalah yang tidak bisa kita duga, selalu seperti itu.

Baik dalam keadaan siap atau pun tidak, masalah akan tiba. Seakan Tuhan punya rencana dan kejutan untuk kita dalam sekali pemberian.

Kemarin teman saya menangis, dia laki-laki. Saya sudah terbiasa melihat laki-laki menangis sebetulnya, hanya saja masalah dia ketika saya tahu malah tetap membuat saya terkejut. Selalu seperti itu untuk setiap masalah hidup manusia yang diceritakan pada saya.

Terkadang saat mendengar cerita orang lain, otak saya berpikir, "Halah segitu aja masa bingung sih," tapi saya tahu saya harus menyingkirkan pikiran seperti itu. Manusia hidup dan tumbuh di lingkungan yang berbeda-beda, dan tingkat ketegaran pada goncangan, keteguhan untuk hidup, serta toleransi bahkan pada diri sendiri menjadi pengalaman dan tantangan bagi setiap orang.

Mungkin diri saya yang sekarang cukup sering heran pada masa lalu saya sendiri, loh kok bisa saya dulu segalau itu. Lalu saya sadar bahwa saya yang dulu bukan yang sekarang, saya berproses. Saya dibangun dari masalah-masalah saya. Manusia tumbuh karena selalu berhasil melewati masalah-masalahnya.

Maka bisa jadi, masalah yang sama pada dua orang yang berbeda akan memberi dampak berbeda pula. Maka bisa jadi, masalah yang sama akan mendewasakan secara berbeda. Maka bisa jadi, kita hanya belum tahu kalau kita tahu.

Rabu, 26 Juli 2017

Sometimes, I hate myself

I'm not really sure with the title I made. I hate for hating myself, but I did.... or "I do".


I already know that I have a very big ego, bigger than my brain.
once it controls my head, I'll lost.

I just bored being a mess.

No, it isn't simple as you say "Just accept yourself"

Accepting myself is accepting my big ego too... and that's hard.

Sometimes I want to being isolated, drop every social thing I have... cause I just feel my existence will hurt people. It's hard.

maybe human being is a big achievement for me, first I need to being human.

Senin, 17 Juli 2017

Seminggu Kemarin Saya Meninggal Dunia

Gelap, sesak, pengap.

Sakit....


.....sakit .....perih.

Bila saya diberikan waktu lagi saya ingin bersujud lebih lama, biar saya mati saja dalam keadaan menyembah-Nya. 

Minggu lalu teman-teman saya berkumpul di rumah, beberapa sampai menangis berteriak-teriak. Sedang saya hanya kaku dalam kain, di atas meja pendek sebetis, dibaringkan saya di sana.

Esoknya mereka sudah tertawa dalam momen lain, saya bukan poros hidup mereka.

Seminggu lalu Ibu dan Bapak sudah tak bisa tidur dengan nyenyak, adik terus merenung menatap ke luar jendela, dan kakak hanya bisa menenangkan semuanya sambil menahan perasaannya. Tapi beberapa bulan kemudian luka kehilangan akan sembuh.

Minggu lalu banyak yang memposting tentang saya di media sosialnya, memuji karena saya telah hidup dengan memberi dampak baik, meminta maaf, mengupload foto saya yang bagus, serta menceritakan momen-momen berharga yang mereka masing-masing lewatkan bersama saya.

Tapi postingan mereka tidak pernah sama sekali menembus kuburan saya.

Ternyata amalan saya hanya mengikuti waktu, saat waktu berhenti... amalan saya tidak dapat menerobos alam sebab dibangun dengan niat yang tidak benar.

Kakak Beradik - PI Salam UI 20

Ali, penjaga toko yang ditawari bosnya untuk menjalankan taruhan. Bos menantangnya ia bisa bertahan di gunung selama semalam, maka ia akan memberikan imbalan besar. Sebaliknya, jika Ali gagal maka ia harus bekerja tanpa dibayar. Ali menerima taruhannya.

Saat toko tutup, Ali merasa angin malam yang dingin dan membuat ragu tekad akan taruhan yang ia ambil, lalu ia tanyakan pada sahabatnya.

"Kau akan memenangkannya, naik saja ke puncak dan pandang lurus lah ke depan. Aku akan ada di puncak yang satunya dan menyalakan api unggun. Lihatlah apinya, serta rasakan kehangatannya dan ingat kehangatan persahabat kita. Kau akan berhasil melewati malam, tapi aku mau imbalan jika kau berhasil," ucap Aydi.

Ali memenangkan taruhannya, kemudian datang ke rumah sahabatnya untuk memberi imbalan, tapi sahabatnya menolak.

"Aku bukan mau imbalan yang seperti itu. Berjanjilah saat angin dingin kehidupan menghampiriku, kau akan menyalakan api persahabatan kita."


melanjutkan post 6 bulan lalu yang ini

Tanggal 14-16 Juli 2017 PI Salam UI 20 team building sekalian silaturahim ke rumah Didin di Kebumen. Kalau di suruh cerita ngapain aja gue gak sanggup soalnya banyak dan berharga semua, paling poin-poinnya aja ya.

Main ke Goa Jatijajar, sharing di sana. Terus mau liat sunset tapi gak jadi karena jalannya gak manusiawi versi orang Depok, jadinya main di alun-alun sambil sharing lagi. Terus besoknya ke pantai.

Seperti biasa gue senang bereksperimen dengan games yang memainkan perasaan dan soliditas, ini pola baru yang gue namakan "Make Sense"
Konon katanya indera kita akan lebih sensitif jika salah satu indera yang lain dihilangkan atau dinonaktifkan.

Walhasil menurut gue cukup oke sih walau teknik ini perlu banyak gue rombak ke depannya.
mereka berpelukan

kami juga, cuma Oji merusaknya dengan sadar kamera


TAPI personally momen berharga itu bukan yang gue dan panitia rencanain, tapi momen-momen spontan yang bikin pala geleng-geleng.

memaksa Zain agar mirip dengan kera

ciwi-ciwi naik odong-odong

kami juga naik odong-odong. Cuma Said terlalu excited jadi anak muda sehingga bikin kami nabrak mobil. Pulang-pulang Said pingsan di atas pasir, kalau gak inget temen udah aku kubur aja tuh.
Oh iya satu lagi,
Setelah momen ini kami rasa sekarang kami punya atmosfir yang sangat lebih baik dari sebelumnya.
Bahwa beban-beban di pundak bukan lagi main-main dan kami simpan sendiri saja, bahwa ada orang-orang yang sama-sama berjuang. Bahwa diam saja berarti tenggelam dan sulit diselamatkan.

Wafa, Fitri, Riana, Fira, Dini
Zain, Boim, Didin, Oji, Imam, Said
Terima kasih atas enam bulan kemarin dan enam bulan ke depan. Kita masih punya seratus tahun untuk kita jadikan sebuah legenda, sebab waktu hanya bilangan, tapi cinta membuatnya abadi.

Tertanda,
Kang Imam
Kabid Syiar Salam UI 20

Minggu, 18 Juni 2017

Pulang Ramadhan Ini

Ramadhan tahun ini ada tiga orang yang pulang,

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang kerabat pamit pulang ke kampung halaman. Mungkin akan sulit menemuinya lagi karena tugasnya di kampus untuk belajar telah selesai, saatnya dia pulang.

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang kawan yang biasanya masih hilir terlihat sibuk menuntaskan amanah, kini terlihat tak ada. Rumah dekat namun biasanya tak bisa pulang karena kesibukan. Saat ini adalah kesempatan untuk lama berhangat bersama keluarga, saatnya dia pulang.

Ramadhan tahun ini, di beberapa hari yang terakhir, seorang sahabat pulang. Pulang, dijemput ajal. Masanya di dunia telah selesai, saatnya dia pulang.

Dalam putaran waktu yang bisa kita hitung, hari kemenangan itu akan tiba. Kemudian logika bermain dengan iman, "Akankah sampai?"

Waktu pasti sampai, namun yang jadi pertanyaan apakah kita tetap nyata dalam putaran masa atau hilang ditelan bumi karena waktunya tiba?

Terlalu jauh jika kita menanyakan akankah bertemu Ramadhan tahun depan, karena sampai detik ini pun tak ada jaminan kita sampai di akhir bulan.
Karena sampai detik ini pun tak ada jaminan kita masih berpuasa esok hari.
Bahkan sampai detik ini tidak ada jaminan kita masih bisa berbuka sore nanti.

Ajal adalah misteri, dan manusia menjadi objek utama dalam putaran misterinya.
Jika kita sadar, banyak yang ternyata telah mendahului, satu per satu hingga nanti tiba pada giliran diri, siapkah?

Siap tak siap, bahkan sampai hari-hari akhir Ramadhan seperti ini, jika kita perlahan mengevaluasi, kita akan menyesal sendiri.

Tidak cukup hanya menyesal, banyak yang mungkin akan memutuskan untuk memulai kembali ibadahnya, memulai kembali bacaan  Qurannya. Tapi jangan terlalu percaya diri, karena bisa jadi hempasan bismillah yang kita keluarkan nanti bersamaan dengan hembusan nafas yang terakhir.

Niat yang kita teguhkan bisa jadi diikuti ruh yang sebentar lagi akan keluar.

Air mata yang membuncah keluar karena penyesalan bisa jadi segera hilang dan berhenti beriringan dengan detak yang juga berhenti.

Jumat, 02 Juni 2017

Pelangi Itu Sudah Muncul Ya, Ksat?

Sepertinya kepergian sudah mulai menciptakan senyum pada semua orang. Mengajarkan bahwa perpisahan kan tidak semenyedihkan itu. Rupanya hati lebih cepat bisa menerima, serta mental sudah lebih kuat dari sebelumnya.

Mungkin karena pergi, kesadaran itu jadi punya tempat untuk beraktualisasi.
Selama ini ia terpendam di bawah fondasi asrama, lalu disiram oleh air mata, kemudian tumbuh perlahan menyebarkan semerbak alami kesturi.

Tapi jangan bersantai, tumbuhan itu bisa saja mati jika hanya kau lihat keindahannya.

Rawat ia terus dengan kekeluargaan, sirami akarnya dengan amal, beri ia pupuk dengan doa, dan jauhkan ia dari serangga-serangga yang akan merusak manfaat tanaman itu.

Juga biarkan saja serangga yang bermanfaat, yang menyebarkan bibit tanaman kita ke tempat lain, kebaikan kan jangan disimpan untuk kita-kita saja.

=================================

Pelangi itu sudah mulai muncul ya, Ksat?

Bahwa ternyata rasa sakit mengajarkan diri untuk lebih peka akan hangatnya keluarga.

Hanya saja, cukup untuk air matanya. Besok, lusa, dan sampai dua belas bulan lagi... gedung asrama ini jangan terlalu sering merasakan kepergian. Bertahanlah, sambil merawat tanaman indah yang sedang tumbuh karna kehilangan.

Menghangatlah, dalam asrama.
Menghangatlah, dalam robithoh di tiap pagi kita. :) 

Minggu, 28 Mei 2017

Petak Umpet

Kita sama-sama tahu bahwa kita menyayangi hal yang sama.

(kehilangan kata-kata di bagian ini)

Maka bicaralah,
Jika kamu ternyata memang peduli pada saya maka bicaralah, jika kamu sudah mulai ingin berdamai bicaralah, atau jika kamu masih marah pada saya maka bicaralah, pipi saya siap untuk kamu tampar, hidung saya siap untuk kamu tinju. Saya ingin tahu bagaimana tensi sebenernya kamu pada saya, maka jangan siksa saya dengan diamnya kamu.

Jangan menghindar seperti ini, saya ingin membuat semua baik tapi tembok yang kamu bangun begitu tinggi. Saya ingin tidak ada apa-apa, tapi mungkin kamu berpikir tidak ada apa-apa artinya tidak berhubungan sama sekali. Itu namanya ada apa-apa.

Jika memang luka itu masih basah ya sampaikan saja, "Kang, saya masih sakit."

Bukan dengan berjuang sendiri menyembuhkan luka dan bilang pada saya bahwa luka itu sudah sembuh. Sembuh di bagian mana jika kamu masih menjauh? Sembuh seperti apa jika masih sesak tiap mengingat kejadian itu?

Jadi saya duduk di sini, masih duduk. Di bukit hijau menghadap kota, jika kamu mau mulai bicara... tempat duduk di sebelah saya masih bisa untuk kamu duduk.

Jadi kalau kamu mau, saya bisa jadi orang yang mendengarkan sakitnya kamu dan menceritakan kondisi lukanya. Saya masih duduk di sini. Segeralah siap untuk bicara, karena yang terluka bukan hanya kamu. Luka punya saya juga masih menganga, namun saya mau berdamai dengan luka saya. Kamu mau saya bantu? oh maaf... kamu bisa bantu saya?

Maka jika kamu mau, silahkan duduk di sebelah saya. Kita susun rencana pengobatan ini agar orang lain tidak ikut terluka seperti kita. Karena maafnya saya tidak bisa saya keluarkan lagi dalam kata-kata, saya ingin minta maaf dengan memperbaiki kesalahan saya: pada kamu dan pada mereka.

Maka bicaralah, sampaikanlah.

Minggu, 14 Mei 2017

Kita akan Terbiasa

Hidup layaknya gerbong kereta, kita masuk berbarengan dan tak tahu siapa yang akan tiba di stasiunnya masing-masing.

Tiada yang berharap sejak awal akan seperti ini, qadarallah, semuanya sudah terjadi. Allah ingin kita segera mencari hikmah dari apa-apa yang kita alami.

Saya tidak meninggalkan kalian, serta kalian tidak pula meninggalkan saya. Tidak ada yang benar-benar berpisah, hanya jarak yang mungkin tidak akan sedekat biasanya. Tidak ada yang benar-benar berpisah, hanya kita dipaksa untuk terbiasa pada perubahan lebih cepat dari yang seharusnya.

Tidak ada yang perlu ditangisi, sebab diri tidak benar-benar pergi. Tidak ada yang perlu ada yang merasa bersalah, sebab apa-apa yang terjadi sekarang benar-benar memberi pelajaran yang banyak bagi saya.

Kita akan terbiasa dengan ketidakadaan, ini hanya soal waktu. Saya akan rindu senyum yang akan segera muncul di wajahmu.

Kita akan terbiasa dengan ketidakadaan, ini hanya soal waktu. Kini saya menanti status "alumni" yang nanti akan kalian dapati.

Kita akan terbiasa dengan ketidakadaan, untuk setidaknya menunjukan rupanya kaki-kaki yang bertahan akan terasa lebih kuat tanpa keberadaan seorang.

Jujur, saya belajar banyak dari kesalahan saya. Terima kasih telah terlibat dalam hal besar di hidup saya.

=====================================================
Pergi bukan berarti melupakan, ia bisa jadi manifestasi dari cinta dan pembuktian. Pergi bukan berarti mengabaikan, ia bisa jadi adalah misi penyelamatan. Kepergian tidak selamanya menyakitkan, ia perlu dinikmati hingga kita nanti sama-sama tersenyum pada langit dan mengerti bahwa tiada kata lain yang dapat dilakukan kecuali penerimaan.

Ingin aku tersenyum denganmu lebih lama lagi, untuk memerhatikan segala tingkah konyolmu pada persimpangan kebimbangan. Ingin aku memarahimu lebih lama lagi, sekedar karena sampah yang lama tak dibuang atau mungkin karena meja belajarmu yang dibiarkan berantakan. Ingin aku bahagia lebih lama lagi, bertepuk tangan pada tiap pencapaian kecil yang kau dapatkan dan meneriakannya pada orang-orang. Ingin aku menangis lebih lama lagi, di dalam kamar nol, sendiri, kemudian keluar dan tersenyum lagi.

Ingin aku bersamamu lebih lama lagi, memegang pundakmu lalu menarik tangismu ke bahuku. Erat dan hangat. Menenangkan serta menyejukan. Hanya saja, ya, semuanya harus berhenti di sini. Kini waktu menghentikan segala ingin yang aku punya. Ingin aku menginginkan lebih banyak lagi, namun kata harus terhenti. Mimpi harus segera diganti. Serta cinta harus segera diuji.

Ada satu ingin yang mungkin masih bisa aku lakukan: “Ingin aku mencintaimu lebih lama lagi.”

Sebab mencintai tidak mengenal jarak dan ruang. Meski kita sudah tak lagi di bawah langit asrama yang sama, meski kita tak bertemu sesering biasanya, meski aku kehilangan keinginan-keinginan yang aku punya, tapi cinta menyatukan kita lebih lama dan selamanya.

Ingin aku mencintaimu lebih lama lagi, Dik.

Dan aku memang akan mencintaimu lebih lama.

=====================================================
Berlarilah, dik. 
Walau daging koyak dan tulang patah.
Hingga si tua kita tersenyum mengingat masa mudanya tidak sia-sia. 

Kamis, 20 April 2017

Tingkat 5

Jadi ceritanya gue baru ngeh kalau bulan depan Maba UI 2017 bakal masuk kampus buat daftar ulang. Artinya, gue resmi jadi mahasiswa tingkat 5. Level 5 men. Kalo ini game mario bross kayaknya ini di aer nih areanya.

Sebenernya benih-benih baper udah muncul, baper tiap liat temen foto bareng proposal skripsinya, baper ngeliat temen sidang, baper sekedar ditanya "Lo udah sampe mana?"

Cuma akhirnya gue balik lagi ke landasan-landasan yang melatarbelakangi gue perpanjang satu semster. Juga selalu berdoa semoga langkah ini langkah yang baik dan penuh berkah.

Well, siapa pun yang baca ini. Santai aja kalau mau nanya gue udah sampe mana skripsinya, gue gak se insecure itu. Malah seneng jadi terpacu. Mohon bantuannya ya.

jadi..... udah sampe mana, Mam?

Sabtu, 01 April 2017

PPSDMS - Rumah Kepemimpinan : 2 Tahun Bersama

Tulisan ini cuma sebagai refleksi sih, tepat di tanggal ini dua tahun yang lalu (1 April 2015) gue mindahin barang ke asrama PPSDMS untuk pertama kalinya. FYI, gue merupakan peserta Pergantian Antar Waktu yang pertama di angkatan 7.

Satu dan lain kondisi gue merasa iri sih gue gak merasakan 8 bulan pembinaan awal kaya angkatan 7 yang lain. Ya walau seiring berjalannya waktu gue berhasil ngikutin ritme mereka yang gak biasa: atmosfir prestatif yang tinggi, gak mau diem, bacaan yang banyak, serta kehilangan mereka akan orang-orang yang keluar dan gue gantikan, ya waktu itu adalah masa yang cukup gak nyaman.

Beberapa bulan di asrama membuat gue menjadi Imam yang berbeda, Imam yang lebih bentrok sama kedisiplinan, Imam yang sering terpaksa bohongin diri sendiri buat sekedar keliatan keren depan orang, ya semacam itulah. Semuanya betul-betul gak biasa, asrama ini membuat gue nyaman dan tidak nyaman di waktu bersamaan.

Kenal lah gue dengan ustadz Musholi yang gue kagumi, cara dia berpikir dan mendoktrin isi kepala gue buat lebih aware sama keadaan ummat, yang selalu doa di tempat umum "Ya Allah berilah petunjuk pada kaum-kaum ini," tiap gue gak bisa jawab atau bahkan gak ngerti sama apa yang ustadz omongin. Haha.

Lain hal lagi, gue cukup merasakan betapa kerennya anak-anak di luar dan kacrutnya mereka di asrama. Betapa individualisnya mereka, serta betapa bodohnya gue sama mereka sampai lulus pembinaan. Kadang kebegoan-kebegoan kaya gitu bikin gue kangen, bahwa dengan cara yang gak gue sukai, kami bisa berkembang seperti ini.

Kemudian berubahlah perlahan-lahan PPSDMS jadi Rumah Kepemimpinan, ganti nama ganti semangat. Bahwa kami hidup dengan kurikulum yang lebih matang. Sampai akhir pembinaan dibuka tuh pendaftaran supervisor.

Gue gak mau daftar nih awalnya, ya cuma senggolan-senggolan anak asrama berhasil lah mempengaruhi gue buat akhirnya daftar.

Sekarang sudah genap 2 tahun, terus kemana langkah gue selanjutnya? Kita liat nanti ya.

Minggu, 19 Maret 2017

Kamu Bukan Tak Bisa Pulang, Kamu Tak Mau

Tiga hari ini tenggorokan saya sakit, semacam radang atau panas dalam. Alhamdulillahnya gak sampai membatasi mobilitas saya terlalu banyak. Al hasil saya masih bisa kerja dan pergi ke sana-sini, cuma tetap saya merasa semua hal ini (sakit ini) harus segera diselesaikan.

Biasanya jika sakit saya hanya akan tidur lebih banyak dari biasanya, makan lebih banyak dari biasanya, dan minum lebih banyak dari biasanya. Namun sakit ini agak beda, saya mau pulang. Saya mau manja di rumah.

Rencana mau pulang Sabtu untuk mengejar "kesembuhan" mental ini demi mengejar efek pada kesembuhan fisik rupanya harus tertunda sebab ku sudah ada tanggung jawab jadi panitia agenda pembinaan di Puncak sampai hari Minggu.

"Mi, Imam gak pulang ya minggu ini."

Sebuah chat yang rasanya jadi sangat biasa saya kirim pada ibu saya, ayah saya, dan adik saya. Chat itu saya kirim lagi Sabtu kemarin.

Namun ketika menjadi panitia, saya rupanya tidak benar-benar sembuh. Di Hari Minggu (hari ini) seusai amanah saya tadi, saya memutuskan untuk pulang tanpa mengabarkan orang rumah.

Hujan besar di jalan justru membuat saya jadi ingin cepat-cepat sampai, saya pusing, saya khawaitr terjatuh di jalan.

Jadi cerita yang berbeda saat saya sudah tiba di rumah,

rupanya Allah punya alasan mengapa sakit saya tidak menghalangi mobilitas saya. Allah mau saya pulang, lalu melihat sebuah kenyataan: Orang tua saya sedang sakit, keduanya. Saya masuk usai mengucapkan salam, lalu menyalami tangan keduanya, Umi yang masih membereskan piring ditemani suaranya yang habis, dan Bapak yang sedang tertidur di kamar belakang.

Kini hati saya tergores banyak hal, tidak nyaman. Keinginan saya ingin bermanja ria berubah jadi perasaan bersalah yang berat. Mengapa saya selama ini hanya peduli pada diri saya sendiri? menginginkan kedua orang tua saya memperhatikan saya, namun tak pernah mampu membalas dengan perhatian yang setara pada mereka.

Menjelang maghrib Umi berbaring di kasur, saya mencoba memberikan service berupa pijatan-pijatan lembut di kaki, lalu Umi tersenyum. Hal ini menghantarkan kami tenggelam dalam perbincangan kabar dan mimpi, walau lagi-lagi lebih banyak berfokus pada kabar dan mimpiku. Egois kamu mam, egois.

Seusainya saya memutuskan memotong buah-buahan untuk mudah Bapak santap saat bangun nanti, sambil menjadi sarana obrolan yang mengalir di ruang keluarga, Bapak habiskan buahnya satu piring.

Saya tidak bisa menahannya, saya harus masuk ke kamar dan menangis sebanjir-banjirnya. Hati saya terkoyak karena perasaan bersalah. Mengapa saya setidak peduli itu sampai tidak tahu kabar mereka? Sampai tidak menanyakan kabar mereka.

Maka sejatinya, saat kita berada pada jarak dekat dengan keduanya, akan terlihatlah raut penuh perjuangan dan harapan dalam membesarkan saya dan kedua saudari saya. Sedang saya masih saja tidak berjuang maksimal saat jauh dari mereka, dan tidak berusaha kuat untuk pulang demi memberi perhatian semaksimal yang saya bisa. Saya masih egois.

Allah, Ya Rabb, cintailah mereka seperti mereka mencintaiku. Buatlah aku menjadi amal mereka yang tiada berputus, Aamiin.

Apakah Perempuan Juga Kentut?

Ada satu rahasia di dunia ini yang lebih besar dibanding bumi itu berbentuk bulat atau datar,lebih besar dibanding apakah hubungan antara pecel lele dengan pecel, atau sebesar rahasia kapan kamu menjadi miliku. #eaa

Rahasia yang selalu menjadi tanda tanya besar di kepala gue adalah apakah cewek juga kentut atau enggak.

Gue gak tau dan rasanya gak pernah denger temen cewek gue kentut di depan umum. Ya, belasan tahun hal ini cukup menganggu kepala gue. Apalagi sekarang lingkungan gue lingkungan anak-anak rohis yang intensitas ketemu cewekya sangat minim.

But, dari dulu juga begitu walau gue punya temen seperbegoan berjenis kelamin perempuasn, gue gak pernah tau dia kentut atau enggak.

Jadi ada pertanyaan, sebetulnya kentut perempuan itu gak berbunyi atau memang wanita tidak diciptakan untuk kentut?

hhhmmm, komen?

Minggu, 12 Maret 2017

Menjadi Cahaya

Ia yang tercepat dan paling konsisten dibanding segala hal
Ia berani menantang jarak dan waktu
Ia tak terhentikan dan berjalan selalu ke arah yang dituju

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Sebab ia akan selalu menemukan jalan untuk masuk
Melewati celah sekecil apapun itu
Saat kau menutup rapat ruanganmu

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Tak berhenti sampai ia merasa sampai
Sebab ia terus melaju, melaju, dan melaju sampai tiba di tujuan

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Mengatur intensitasku agar manusia nyaman
Entah agar tak terganggu karena silau
Atau tak ketakutan sebab aku tiada

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Sebab ia adalah simbol harapan
Keberadaannya memberikan sebuah isyarat
Bahwa Tuhan masih memberi kesempatan untuk kehidupan

Di dunia ini manusia lekat dengan cahaya
Sebab saat malam datang, cahaya hanya akan bermain di langit
Manusia mendatangkannya melalui aliran listrik
Atau cara apa pun yang membuat mereka tak merasa sendirian

Maka aku ingin belajar menjadi cahaya
Maka aku ingin belajar bersama cahaya

Selamat belajar!

Kamis, 02 Maret 2017

Sariawan

Dalam dua minggu terakhir gue mengalami sebuah gejala penyakit yang sangat tidak mengenakan. Seakan seluruh semesta beserta bintang dan komet menghatam mulut bagian dalem lo: ya, sariawan.

Yang menjadi lebih mengganggu adalah letak sariawannya yang gak cuma satu, tapi tiga!!! Tiga!!!! TIGAAAA!!!! oke oce (lah malah kampanye) *janganlupa nyoblos

YA gaes! letak sariawan yang gue punya ada 3, satu di gusi kanan bagian geraham belakang, satu di gusi gigi seri bagiat atasnya (agak rebutan lahan sama daging bibir, bahkan lahan sariawan pun direbutin dong), dan satu lagi di bawah lidah.

Lengkap sudah dua minggu gue jadi orang yang jauh dari kebawelan hidup.

Jadi gue kesiksa tiap ngomong dan akhirnya gue cuma bisa jawab ngangguk-ngangguk doang sama geleng-geleng.

Tiap marah sama anak asrama gue akan diem seribu bahasa, ngeliatin secara diskriminatif sampe anaknya minta maaf. HUEHEHEHEHEHEHE *maafkan aku dik

Sebetulnya gue kira dengan diemnya gue di dunia nyata akan membuat gue lebih bawel di chat grup. Ya gue gak tau sih secara psikologis berpengaruh atau enggak, tapi ternyata gue menikmati jadi orang kalem. Rasanya gak buang-buang energi. Y G?

Dan gegara banyak diem ini, gue jadi punya waktu lebih banyak buat mikir. Sayangnya, sayangku sayangmu hanyalah sebuah ketabuan. Sayangnya, gue gak berhasil memanfaatkan keluangan waktu berpikir gue dengan baik. Salah satunya gue mikir: "Kenapa Sariawan dibilang Sariawan?"

Seriously gue mikirin ini selama seminggu, segala ilmu cocokologi gue yang udah S3 ini akhirnya berhasil menemukan titik terang.

Sariawan disebut sariawan soalnya dia warnanya putih,
Kalau wananya kuning disebutnya sarimatahari, kalau biru sarilaut, kalau banyak duitnya sarikaya. hehe. udah gitu aja. hehe.

Air Mata

Sejak dulu, bocah itu tidak pernah diminta untuk berhenti menangis oleh orangtuanya, ia dibebaskan untuk menghabiskan air matanya sendiri, hingga lelah untuk mengeluarkan kesedihan lagi.

Sejak dulu, anak SMA itu dibebaskan memilih hidupnya. Orangtuanya adalah guru ngaji dan tokoh agama di kampungnya, namun cukup demokratis untuk membiarkan anaknya memilih sendiri cabang-cabang perjalanan yang ditemui.

Sejak dulu, anak kampus itu akan menciptakan tawa pada kawan-kawannya, lalu mengunci kamarnya dan tenggelam dalam kesepian yang mencekam.

Dan hingga kini, ia masih mudah menangis. Dadanya sering sesak, matanya sering bengkak, oleh punggungnya yang merasa berat dengan titipan kepercayaan.

Hingga kini, ia selalu bebas memilih untuk berhenti atau terus berlari. Meski daging koyak di sana-sini. Logika memintanya berhenti sekarang juga, tapi raga lebih senang digerakan oleh hati yang memilih untuk bercinta dengan mental yang tenggelam dalam lelah dan asa.

Hingga kini, ia ingin selalu menumbuhkan harapan pada tiap orang, bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena kita tergelincir bebatuan kecil atau bahkan tertimpa gunung sebesar ibukota. Ia percaya, bahwa Tuhan menciptakan pelukan sebagai teman bagi mereka yang ikhlas mencinta.

dan bagi mereka yang cintanya di dengarkan dengan lantangnya

Jumat, 13 Januari 2017

Kakak Beradik - Menuju UI yang lebih adem dan Salam yang lebih masuk ke hati #eaa

Hi! wah udah lama gak ngeblog lagi nie

Jadi sekarang gue lagi nambah amanah lagi wk, alhamdulillah kan Nurani dan Tapak Aksara sudah menemukan nahkoda barunya, sekarang ku ingin naik kapal yang baru.

Gue tahun ini gabung ke Salam UI, setelah kemarin jadi calon Ketuanya (terus gak berhasil #hm) alhamdulillah dipercaya jadi pengurus intinya, tepatnya jadi Kepala Bidang Syiar. 

Ya gue yang alay begini ternyata masih bisa masuk Salam ya padahal sholeh juga kagak juga. Gapalah modal niat untuk menjadi pribadi suami yang lebih baik.


By the way, kemarin PI abis team building ke BXchange.

Setelah makan di Solaria, kami langsung main ice skating

(BELAGU GITU PADAHAL BELUM BISA SAMA SEKALI, MAEN SEMBILAN PULUH MENIT SEJAMNYA DIPAKE BUAT JATOH WKWKWK)

seenggaknya asik lah dapet skill baru: jatuh yang benar di atas es.


Sungguh perjuangan yang sangat panjang untuk nyampe ke tengah area

dari kiri ke kanan itu ada Didin, Said, Zain, Oji, Boim, Si Ganteng, Riana, Wafa, Fira, Fitri, Dini.


==========================

Gak tau sih ini semacam ujian lagi, kolaborasi bareng anak fakultas lain yang beragam dan gue RIK satu-satunya. Hm.

Mereka bandel dikit gue sebarin bakteri e.coli satu-satu huahahahhahaha
(gue gak tau kayaknya becandaan ini gak pantas ya.)

========================

yang jelas sungguh menyenangkan rasanya kerja bareng mereka, bersama

Dini yang flat design ekspresinya
Fitri yang kaya mau nangis kalau ngomong
Fira yang udah bacok-bacokan di grup DKV
Wafa yang tukang panik
Riana yang kepala departemen propaganda Salam UI wkwk
Boim yang suka ngirim Nasyid Haroki WKWK
Oji yang semua gerak-gerik orang dicurigain HAHAHHAHAHAHHAHAHAH
Zain yang selalu bikin gue "AHELAH APAAN SIH NIH NIH ORANG"
Said yang bikin gue heran dan bersyukur "HUA NIH ORANG BEDA BANGET SAMA WA, ASIK ASIK"
Didin yang selalu merasa bersalah

=======================
itu kesan sekarang, pasti akan lebih menyenangkan ketika kesan-kesan ini mulai berubah atau terlengkapi perlahan-lahan,

ya selain kita komit lulus bareng-bareng dan nahan gak pada nikah dulu.... gak apa kali ya.
Gak sabar nunggu bulan Desember tahun ini. Menyenangkan! :D

bonus, boyband Salam UI (kurang boim yang masih jatoh di pintu masuk)
bayangkan seberapa keras perjuangan Said