Tampilkan postingan dengan label about me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about me. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Maret 2021

Let People Assume

Kita sebenernya gak perlu tuh ngejelasin diri kita ke orang lain. Lebih tepatnya kita gak perlu memaksa orang lain memikirkan hal tentang kita seperti apa yang kita mau. Orang selalu mengasumsikan sesuatu berdasarkan apa-apa yang mereka lihat dan rasakan dari yang kita lakukan. 

Capek sih kalau kita harus ngatur gimana semua orang berpikir tentang kita. Pertama, walau kita berargumen sekuat apa pun, hal itu belum tentu berhasil. Kedua, buat apaan juga?

Kadang emang harus nikmatin aja bagaimana bekerja, bagaimana orang lain berasumsi. Jangan sampe asumsi orang mempengaruhi bagaimana kita bersikap. Lagian pun salah, apa ngaruhnya. Kalau pun benar, ya gak apa-apa juga. Kita gak perlu juga jadi manusia sempurna yang bisa segalanya dan terlihat baik selamanya.

So from now on, let people assume and keep being yourself.

Kamis, 07 Maret 2019

Geospasial dan Hobi Nyasarku

Apa yang menjadi salah satu kelemahanku adalah ketidakmampuan mengenali jalan. Aku perlu waktu sampai minimal enam kali melewati sebuah jalan sampai hafal semua belokan. Aku kebingungan bagaimana letak gedung, menghadap mana, dan apa hubungannya dengan lokasi yang pernah aku lewati.

Pernah suatu ketika saat di awal masa kelulusan aku bekerja sebagai enumerator penelitian, mencari dan mendata pusat sampah dan juga rumah pengolahan di Tanggerang.

Entah berapa kali aku kesasar, juga entah . berapa kali aku marah-marah pada diri sendiri tentang seberapa menyebalkannya apa yang aku lakukan. Sampai akhirnya masa-masa itu berakhir dengan sendirinya, aku kecelakaan tunggal. Motorku oleng menabrak pembatas jalan dan aku terguling-guling sampai jalur selokan. Sempurna!

Di lain waktu aku stress luar biasa, aku ingin melarikan diri entah kemana. Lantas ku pacu saja gas motor tanpa lihat arah jalan. Sampai tiba malam aku tersadar di atas ku ada plang besar bertuliskan "Selamat Datang di Banten", aku kaget dan ku putuskan pulang.

Tapi karena tak bisa memahami jalan, aku baru tiba di asrama tepat pukul 6 pagi. Sepanjang malam berputar di tanggerang dan dilanjut menghabiskan dini hari melewati jalan yang sama di Jakarta sampai delapan kali.

Di Thailand dulu, saat teman-teman yang lain memutuskan mengunjungi tempat wisata Madame Tussauds, aku memilih mengantarkan seorang mahasiswa Indonesia ke penginapannya yang entah dimana (kehabisan uang dan kebingungan). Tiba waktu untuk kembali ke hotelku sendiri pukul 11 malam lalu berakhir diturunkan bis kota di tengah malam karena habis jam operasionalnya.

Luntang-luntung di negeri orang. Berjalan kaki tak mengerti kemana arah pulang. Baterai handphone sudah habis dan hanya kemampuan tebak-tebakan yang bisa diandalkan. Betapa kondisi paling ideal untuk menertawakan diri sendiri.

Tapi dari semua kejadian tersesat itu ternyata itu momen paling mengasyikan di hidup ini. Perasaan menghilang dan menjadi bukan siapa-siapa, saat yang tepat untuk memikirkan kembali apa yang kita mau dan butuhkan. Tersesat membuat kita merasa sendirian, lalu sendirian membuat kita lebih punya ruang untuk diskusi dengan diri sendiri.

Maka saat-saat aku merasa sangat stress, aku akan menyasarkan diri entah kemana. Setiap berada di kota atau negara yang aku memiliki kesempatan untuk mendatanginya, akan ku cari juga kesempatan untuk kesasar. Dan caraku mengelola diri sendiri ini dibantu dengan lemahnya kemampuan geospasialku, betapa kombinasi paling pas untuk hilang sama sekali.

Minggu, 07 Oktober 2018

Tentang Memaksimalkan Waktu

Berpindah dunia dari dunia akademis ke dunia karir cukup merubah banyak pola dalam hidup,

Pola tidur, pola makan, pola pikir, dan yang terpenting adalah pola karya. Sebetulnya di tempat kerja saya, kerjaan saya buat karya. Tapi sungguh beda karena banyak batas-batas dan aturan yang menantang saya untuk berpikir lebih, artinya karya yang saya buat tidak sebebas ketika diri ini tidak terikat dengan apa pun.

But that's life. Segala hal tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.

Maka saya mencoba beberapa rekayasa manajemen. Namun seringnya gagal karena bekerja di bidang sosial memang menguras waktu karena kita bermain dalam ranah idealisme. Akhirnya saya coba rekayasa waktu: memotong kebutuhan waktu saya di perjalanan. Biasanya perjalanan untuk pulang dan pergi Bogor-Gondangdia-Bogor adalah 4 jam (atau 1/6 dari waktu saya tiap hari).

Lucu dengan membayangkan bahwa saya tidak mendengar saran orang-orang sekitar bahwa sebetulnya uangnya bisa ditabung dibanding dipakai sewa kamar di Jakarta yang costnya dua kali lipat dibanding di UI dulu.

Saya sepakat uang itu penting, namun bukan tujuan, harta adalah konsekuensi. Juga in syaa Allah saya masih menganggap intensitas menabungan saya cukup (ya walau gak banyak-banyak amat si).

Bagi saya yang terpeting sekarang adalah tidak membiarkan otak dan jiwa saya mengerut karena terlalu banyak mengalah dan melakukan aktivitas rutinan hahaha.

Jadi mari kita lihat keberhasilan cara ini, pun gagal mari kita nikmati saja karena dari gagal juga kita jadi belajar.

Doakan aku ya wankawan.

Jumat, 11 Mei 2018

Pijat

Saat mahasiswa gue menemukan salah satu bakat yang ada pada diri ini, bakat itu adalah mijit. Ditambah kehidupan aktivis kampus yang sering banget nginep di puncak, kehidupan tiap hari di asrama, dan kondisi-kondisi lain yang berhasil mengasah skill gue dalam mijitin orang. Terakhir gue dapat testimoni dari salah seorang Abang Depok yang temen gue juga sih, katanya jari gue kalau lagi mijit berasa jadi batu.

Saking passionatenya gue dalam pijit-memijit ini, waktu kuliah gue sampe nyari buku titik refleksi manusia, belajar beberapa materi biologi terkait, psikologi dengan topik stressor, dan hal-hal sejenis itu. Gue gak paham sih, kadang juga sebenernya malu ya kayaknya pijit bukan skill yang penting-penting amat untuk dipelajari tapi aing sampe segitunya wkwk.

Sebenernya gue sih asik-asik aja ya kalau mijit, kan bantu orang rileks juga dan bantu orang reducing stress. Cuma jadi susah buat gue nyari orang yang mijitin gue, ditambah kan pusing juga masa iya mijitin diri sendiri gimana caranya coba.

Sejak saat itu aku merasa Kagebunshin Naruto itu penting juga ya untuk dipelajari

Kehidupan pijit-memijit gue pun berubah sejak masuk tahap skripsi di kampus, karena pusing ya dan lagi megang beberapa tanggung jawab juga memaksa gue untuk memilih datang ke tukang pijit refleksi.

Itu pertama kalinya dalam hidup gue karena dulu gue takut banget masuk ke tukang pijit refleksi tau-taunya pijit plus-plus kan serem ya... Tapi akhirnya pikiran gue berubah sejak keenakan dipijitin orang. Pikir gue, "Wah gila ini skill abangnya!"

Pasca pijitan pertama gue merasa skill gue gak ada apa-apanya, gue harus banyak belajar.

Al hasil sampai sekarang gue rutin ke tempat pijit yang sama sekitar dua minggu sampai sebulan sekali, buat apa? Buat pijit iya, tapi adalagi yang lain... gue harus mengamati bagaimana cara abang-abang ini mijit.

Di titik mana harus diteken
Teknik menggeserkan ibu jari di badan orang
Cara mengurusi jari-jari tangan dan kaki
Semuanya gue perhatikan secara rutin karena pijit adalah jalan ninjaku.

Mungkin juga abangnya grogi kali ya gue liatin tangannya tiap dipijit, tapi bodo amat pokoknya skill mijit gue gak boleh noob.

Gue sadar sih, gak umum punya passion mijit WKWKKWKWK. But, this is me. Karena gue sedang tidak menempatkan diri gue mengikuti ekspektasi orang lain juga hehehe.

Ke Makassar sama si Ryan
Sekian.

Jumat, 02 Maret 2018

Kayaknya Sebentar Lagi Saya Meninggal

Duh terlalu muda gak sih buat saya nulis tema ini? Saya juga ragu tapi itu bener yang saya rasain sekarang. Saya hanya merasa bahwa sebentar lagi saya meninggal. Entah tepatnya kapan, mungkin hanya beberapa tahun dari sekarang, atau mungkin umur saya gak sampai lewat akhir tahun ini. Bisa jadi juga beberapa mingu dari sekarang atau bahkan gak sampai beberapa hari.

Bukan dari peramal, bahkan saya gak percaya sama sekali sama peramal. Cuma berdasarkan perasaan aja, semacam terkaan singkat yang saya percayai cukup kuat. Walau bisa salah juga, sih.

Mungkin bisa karena sakit, mungkin bisa karena tiba-tiba ketabrak di jalan, atau pas saya bersin tiba-tiba ada mis-mekanisme tubuh yang nyerang jantung, virus yang masuk ke otak, reaksi obat, tiba-tiba ditembak orang (dalam arti sebenarnya, bukan diajak jadian), atau kemungkinan-kemungkinan lain yang sangat-sangat memungkinkan bagi saya.

Ini bukan karena parno abis nonton series film Final Destination, ya. Bahkan film itu terakhir saya tonton waktu kelas 3 SMP. Ini tiba-tiba aja jadi pikiran saya akhir-akhir ini.

Namun perasaan ini gak ngebawa saya ke ketakutan dan menghindari kematian (ya walau tetep takut juga sih) tapi lebih ngebawa saya soal ke pemaknaan hidup. *ceileh**beneran kaya orang tua omongannya*

Bahwa ya segala nikmat yang saya punya sekarang bisa aja tiba-tiba gak saya milki lagi, segala titipan logika otak, kemampuan bernapas, keluarga yang keren, temen-temen yang bikin hidup saya "hidup", pengalaman, kapasitas, rasa kasih sayang, kepedulian yang saya syukuri karena Allah udah baik banget ngasih itu semua ke saya... bisa tiba-tiba Allah ambil lagi gak pake pengumuman dulu ke saya.

Bahwa segala gelar alumni yang saya punya bakal ketutup sama satu gelar:

ALM. MUHAMMAD IMAM NAWAWI SYUJAI

Keren banget gak sih ada gelar depannya gitu? Ya kalian boleh manjangin Alm. di situ jadi Almarhum. Tapi saya lebih suka manjanginnya jadi "Alumni".

Alumni Kehidupan,
bahwa masa saya berjuang di amanah hidup udah selesai. Udah harus buru-buru pergi dan gak bisa diulang lagi. Sama kaya alumni sekolah sama kampus, mana bisa ngulang lagi masa-masa jadi siswa. Paling cuma bisa reunian kalau kangen sama temen. Cuma ya reuniannya sama juga kaya di dunia, ada yang dateng dan bisa nostalgia bareng dan ada yang gak bareng sama kita. Di istilah alumni kehidupan, pilihan barengnya cuma ada dua: bareng di neraka atau bareng di surga, pilihan lainnya ya gak bareng sama sekali.

Terlepas dari perputaran kehidupan akhirat, saya juga mikir nama saya di dunia gimana.
Ini kalau saya meninggal tapi aib saya yang kebuka malah bikin keluarga dan orang-orang deket saya malu gimana ya...
Tapi saya mikir lagi, ah yaudah sih... saya udah meninggal ini jadi buat apa ngurusin eksistensi saya di dunia, di alam kubur mana kedengeran. Lagi pula, selalu menjadi hak Allah untuk diapain aja aib saya, Dia selalu tau yang terbaik kan. Kalau ditutup ya alhamdulillah, kalau dibuka pun alhamdulillah juga mungkin itu hukuman dari Allah buat saya hehehe.

Tapi saya mikir lagi, ini udah sejauh mana sih saya bermanfaat... apa idup saya cuma kebanyakan omong ya... apa kebanyakan pencitraan ya? (huhuhu sedih) tapi yaudahlah sekarang saya bertekad mumpung masih bisa keluar nih napas dari paru-paru saya gak boleh diem! Saya gak bisa main-main lagi! Pokoknya harus serius ya Mam buat menjadi perantara harapan orang-orang sebisa saya! Oke, Mam? OKEEEEE!!!! hehehe

Tapi satu yang saya pelajari dari hidup, bahwa banyak hal yang nyatanya tidak bisa saya kendalikan sesuai kemauan saya.
Lagi semangat-semangatnya eh tiba-tiba gak jadi karena masalah kecil, udah berusaha keras eh ternyata gagal, lagi pengen-pengennya sesuatu dan udah berusaha ngumpulin modal eh ada keperluan lain, lagi sayang-sayangnya sama sekelompok orang eh tiba-tiba ada aja kelakuan yang bikin pisah.

Iya, gak semua hal bisa kita perkirakan akan selamanya ada di sekitar kita.

Tapi itu untungnya gak bikin saya berhenti berharap. Seperti yang suka saya bahas di omongan sebelumnya dan sehari-hari bahwa setiap kegagalan dan ketidakberhasilan menyimpan banyak hal untuk disyukuri. Bahwa kehidupan selalu menyiapkan harapan di tingkat yang lebih tinggi.

Maka saat masalah datang... artinya saya lagi ditantang biar ada di posisi "hidup" yang lebih baik, kan?

Sebenarnya post ini udahan aja sih, tapi karena bahas soal kematian... gak puas ya kalau tanpa ada pesannya. Jadi begini ajadeh, saya akan taruh di sini pesan terakhir saya yang akan selalu saya edit kapan pun saya mau (selagi masih ada kesempatan hidup) syukur-syukur bisa dibaca abis saya meninggal.

Saya mau mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang telah bertemu dengan saya semasa hidup, keberadaan kalian... siapa pun kalian... baik Imam kenal atau pun tidak, baik kalian tau Imam atau pun tidak, percayalah bahwa kalian turut membentuk Imam yang seperti ini. Sesebentar apa pun masa silaturahim kita.

Menjadi ruh yang pernah hidup merupakan sebuah nikmat luar biasa. Menjadi orang yang ceria merupakan usaha yang menyenangkan. Memberikan dampak merupakan kesempatan yang tak bisa tergantikan. Senyuman-seyuman yang terukir dan tetesan-tetesan air mata yang mengalir adalah luapan nikmat dan istigfar yang melesat ke langit.

Hati-hati yang bergetar, jiwa-jiwa yang melayang, logika yang berputar-putar adalah melodi bagi tubuh-tubuh yang masih dapat bergerak. Bukan untuk diam terus-menerus, tapi untuk terus melangkah lagi menebar harapan-harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Jadi, tetaplah hidup sehidup-hidupnya!

Tertanda,
Muhammad Imam Nawawi Syujai
Seorang Alumni dari Kehidupan

Minggu, 04 Februari 2018

Mata-Mata yang Kecewa

Ada saat dimana saya melihat tatapan kekecewaan orang lain pada saya, ya mereka kurang beruntung (atau mungkin bisa dibilang beruntung) telah mengenal saya pada titik ekstrim saya yang lain.

Sebagai informasi awalan, saya hidup dalam dua titik yang bisa dibilang cukup ekstrim. Mungkin gak ujung-ujung banget sih titiknya, cuma ya cara diri saya berubah posisi dari saya yang sekarang ke saya yang lain itu cukup menyebalkan hahaha. Nggak kok ini bukan bipolar, slow. Ini cuma masalah sisa-sisa penolakan saya pada masa lalu yang terkadang muncul kalau saya lagi gak punya pertahanan yang cukup, dan itu bener-bener jarang.

Lanjut cerita. 

Nah dalam satu momen saya pernah lepas kendali dan menghancurkan segala yang saya bangun. Lalu orang-orang yang tadinya terdepan mendukung saya, menjadi mundur satu persatu, ada yang perlahan-lahan dan ada juga yang ngambil langkah seribu lalu membangun dinding setinggi ego manusia. Agak kecewa sebetulnya, seakan mereka gak tau betapa ngos-ngosannya saya selama ini jadi Imam yang baik-baik saja (tapi emang gak tau dan gak perlu tau juga sih wkwkwk). Bagaimana saya melihat kebijaksanaan mereka hancur lebur menjadi puing yang gak ada sisanya.

Tapi lama saya mikir, ini kayak proses seleksi aja sih sebenernya. People come and go. Menahan seseorang tetap menyukai saya akan membuat saya jadi buta lagi dalam mencintai diri sendiri.

Oh iya, ini juga buat saya yakin bahwa tingkat kesiapan seseorang terhadap perbedaan latar belakang hidup itu beragam. Artinya (atau sialnya) mereka gak siap dengan diri saya yang satunya. Ini juga membuat saya jadi beruntung karena gak perlu capek-capek berusaha untuk gak buta sama kekaguman diri sendiri. Merasa agak melatih kebijaksanaan diri kalau emang suatu saat ada temen saya juga yang punya latar belakang yang bikin kaget, saya minimal berusaha untuk gak bikin dia down dan mempertahankan diri dia tetap berharga. 

Buat penutup, saya mau kasih pesan deh buat pembaca. Saya tau kok tiap orang punya dua titik ekstrimnya masing-masing, itu wajar kalau kamu gitu juga. Cuma ya saran saya gimana aja kita berusaha dengan bijak memilih titik ekstrim yang akan sering kita gunakan sebagai definisi "diri saya". Semangat! Jangan baper berlebihan kalau orang lain gak nerima kamu karena kamu ketajong (ini apa ya bahasa indonesianya) sekali dua kali, kekecewaan mereka bukan indikator hilangnya kebahagiaan kamu, ciptakan kebahagiaanmu sendiri biar enak buat balik lagi di titik yang kamu pilih. Pun jangan lupa terus perkuat diri dan perbaiki lagi, masa iya jadi orang yang begini-begini terus. Hehe.

Sabtu, 13 Januari 2018

Post Pertama di 2k18

Seperti biasa, gue suka review setahun ngapain aja. Sebenernya telat sih harusnya pas tanggal 31 Desember 2017 cuma gue kemarin pusing banget ngerjain skripsi ampe gak keurus ini blog. Untung ini blog gak selingkuh soalnya dimana lagi gue bisa curhat panjang-panjang kalau enggak di instagram #lah *ditabokblogsendiri.

Di tahun lalu jelas gue menemukan jati diri gue yang baru, gue makin matang mengenal diri gue. Inget banget hadeh waktu galau di tengah tahun gegara kudu berhenti jadi SPV RK. Ini kegalauan paling gede pada manusia kusabab aing joms jadi gak bisa ngegalauain pacar atawa mantan. Ampe mewek-mewek tiap malem, ampe ke psikolog, ampe bahkan gue gak mampu ikut UAS Matkul di Psikologi padahal kelasnya maen-maen doang :(

Gue gak nyesel sih, gue malah bangga pernah ngelewatin masa kaya gitu. Berasa film soalnya #lah

Sebenernya setelah pekan-pekan itu gue jadi lebih jauh mengenal diri gue, lebih bisa mengendalikan atmosfir mental gue, lebih toleran sama sesuatu hal yang berbeda, dan merasa lebih mudah menyayangi segala hal yang ada di hidup gue. Menyadari melalui tamparan yang keras bahwa gue bukan pusat di dunia ini dan sadar bahwa "hey you, stop being selfish little bastard!" haha. Anyway I wanna say thanks to Allah karena udah nyelamatin gue dari penyakit ujub (cari aja di Youtube ceramahnya aa gym) dan membuat gue punya kesempatan untuk menjadi Imam yang lebih bijaksana bertindak memilih sesuatu dalam hidupnya.

Sebenernya setahun kemarin bukan hanya kejadian di atas sih. Gue juga mengalami dinamika di Salam UI, dimana sebenernya aing berpotensi jadi sekjen tapi alumni pada pengen gue jadi kabid syiar yaudahlah namanya juga amanah ya biar Allah yang menentukan mana yang terbaik buat kita. Lagian di syiar ternyata malah banyak bersyukur gue, gak tau deh kalau ternyata gue jadi sekjen gue bakal kayak apa wkwk. Ketika di syiar gue juga mengalami banyak dinamika, ntar gue ceritain post lain deh.

Intinya tahun 2017 menurut gue tahun dimana gue belajar menyadari bahwa gue gak bisa mengendalikan segala hal walau gue berusaha mati-matian, ada tangan-tangan Allah yang terlibat menggeser-geser peta jalan gue biar gue gak jatoh ke lobang buaya. Namanya juga manusia ya cuma tau yang terbaik versi akalnya sendiri.

Jadi 2017 semacam bulan penerimaan aja sih. Sebenernya setelah itu kan gue jadi better person than before ya dan mulai menata hidup gue, gue jadi merasa lebih hidup aja hahaha. Seneng banget parah.

Oh iya, selanjutnya proker Syiar yang gede-gede banyak banget bejibun, mana gue lagi magang nyambi skripsi ya. Bayangin woy *iya bayangin dulu gue tunggu 5 menit*








udah bayanginnya?

Bayangin aja nih ya gue tiap hari kan ke sekolah ya ngurusin kesehatan mental bocah-bocah SMA di Bogor, terus sorenya langsung caw ke Depok nyiapin Salam... KEMANA KAU PINTU DORAEMON DASAR PENIPU! AAAaaaAaaaaaAAA KENA TIPUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU BAAAAAAARANGGGGGGGGGGG PALLLLSUUUUUUUUU (you sing you lose).

Ditambah lagi skripsi gue barengan sama UI Islamic Bookfair. Parah ini sih sambil nyambi di meja operator panggung sambil revisian skripsi, tapi gue kaget. AAA KAGET! #yeungapagakjelaskampay
Gue kaget ternyata revisinya bisa beres woy padahal tangan gue sibuk banget ngurusin bocah-bocah IBF. Sadar aing kalau ternyata kapasitas kita bukan yang ada di kepala kita tapi apa-apa yang Allah ridhoi #duile. Selama Allah ridho maka semuanya akan menjadi mudah muehehehehe.

Eh adalagi yang gak kalah penting, rupanya berat badan gue naik parah. Dulu yang IMT gue kalau turun dua angka bisa dikategoriin kurang gizi, sekarang kalau IMT gue naik dua angka bisa dikategoriin obesitas wkwkwk. Ya untung kenaikannya masih di IMT normal sih. Tapi gue jadi agak sering olahraga soalnya kan postur gue yang membaik ini jadi kayak jelly kalau ditoel aja berasa toeng-toeng (lo ngerti gak sama kalimat ini? wkwkwk gue pusing gimana ngejelasin yang paling pas).

Btw, setelah pergolakan hidup gue selama 2017 dan peningkatan keilmuan gue soal kesehatan mental, Allah datengin ke gue orang-orang dengan berbagai masalah yang berat-berat. Ada yang depresi, self-harming, cerita keluarganya, amanahnya, sampe gak tau deh berapa orang yang curhat ke gue pengen bunuh diri (bener-bener sampe udah ada yang pernah nyiapin piso, ada yang udah bulak-balik naik atep tapi gak jadi, dll). Mereka tetiba aja gitu cerita... Di sini gue belajar bahwa tiap ilmu yang masuk ke kepala kita itu ada pertanggungjawabannya untuk diamalkan. Artinya membuat gue sadar dengan keputusan gue untuk lanjut S2 tahun depan (dan mungkin lanjut S3) bukan untuk sebuah kesombongan kalau punya gelar, tapi apakah amalan gue udah pantes buat mengimplemetasikan amanah ilmu setinggi itu?

Udah deh, itu tentang 2017 nya gue. Sekarang 2018 dan sepertinya kisahnya akan lebih asik dari tahun-tahun sebelumnya. I'm so excited!

Oh iya, guys. Selamat menjalani hidup yang sehidup-hidupnya di tahun ini!

Kamis, 21 Desember 2017

Semua Orang pada Dasarnya Aneh

Aku menilik pada lantai-lantai yang memantulkan cahaya secara bias, membuat diriku terlihat berbeda di bawah sana. Ya, itulah aku yang aku lihat di pantulan keramik. Berbeda dengan diriku yang aku tahu.

Lalu aku membayangkan semua orang yang aku kenal, aku tak pernah tahu siapa mereka sebenarnya. Serta, teman-temanku, bahkan mungkin orang tuaku sendiri tidak tahu apa yang ku tahu tentang diriku secara menyeluruh. Bahkan... mungkin diriku sendiri tidak mengenal secara lengkap siapa aku. (Rekomendasi untuk pembaca: coba cari teori Johari Window).

Pada dasarnya semua orang berbeda, atau dalam kadar yang lebih liar: aneh. Kita dibangun dengan kondisi berbeda, hal itu menjadikan kita memilki kecenderungan menyukai hal yang berbeda-beda. Namun, kita selalu malu dianggap berbeda, atau dalam kadar yang lebih liar: aneh.

Dan aku memilih untuk menjadi seaneh mungkin yang diriku bisa lakukan, bukan untuk cari perhatian atau membakar sensasi dunia. Sebuah keanehan ya memang diriku ingin berada di sana, mengabaikan definisi "keren", "berwibawa", atau hal-hal berbau pujian lainnya. Sebab aku yakin definsi itu hanya konstruksi sosial. Hanya perlu jadi orang baik, tidak perlu jadi orang keren.

Untuk apa mengikuti kemauan dunia sedang kau tidak bahagia, mengapa harus memenuhi ekspektasi banyak orang sedang bukan itu yang kau inginkan, bersyukurlah dengan warnamu sendiri... sebab dengan berbeda, nada-nada menjadi enak untuk didengar.

Semua orang pada dasarnya memang aneh, namun beberapa tidak pandai menyembunyikannya. Sepertinya yang beberapa itu termasuk aku, sepertinya.

Sabtu, 02 Desember 2017

Ngabisin Jatah Gagal

Kesadaran saya terhadap pentingnya aktivitas mendengarkan baru berlangsung beberapa tahun ini, sebab dari kecil saya tipikal orang yang bawel dan tidak bisa diam. Gatel Pantat istilahnya, padahal pantat saya gak bentol-bentol.

Sejak di kampus saya orang yang selalu berusaha tutup mulut, ya walau mungkin termasuk gak berhasil HAHAHAHA! Saya merasa kepala saya kok ya isinya sayang gitu kalau gak dikeluarin, akhirnya solusinya adalah nulis! hehehe. Tapi jelas banget untuk ngeluarin berbagai kata dan menyusun kalimat baik lisan maupun tulisan harus punya banyak asupan biar apa yang kita keluarin gak kopong-kopong amat.

Makanya saya mulai menikmati membaca dan mendengar, sebab dengan keduanya pengetahuan dan perspektif bisa bertambah, lebih bertambah ketimbang berbicara terus-menerus.

Salah satunya saat sahabat saya yang 'sakit introvert' berhasil saya bikin bawel pas berduaan sama saya (hahaha I found the 'sakit introvert' term at internet and laughed so hard, for your notes: it isn't an illness anyway). Saya gak tau sih kenapa dia bisa sebawel itu, tapi saya suka walau agak capek. Ya mau gimana juga perspektif dari dia adalah hal berharga dan membantu saya dalam memaknai sudut pandang lain dalam beberapa hal.

Sebagai contoh, suatu hari saya pernah gagal dalam sebuah target. Saya jatuh, kecewa dengan diri sendiri, menyalahkan kemampuan saya, sampai gak percaya sama mental sendiri. Duh memang masa-masa labil. So, saya cerita deh ke sahabat saya, dan tau apa yang dia bilang, "Duh pantat gue gatel nih." 

YA ENGGAK LAH WKWKWK

Dia bilang, "Ya baguslah, berarti jatah gagal lo berkurang." Wah menarik nih.

Pokoknya dia percaya betul bahwa manusia itu punya jatah gagal dalam hidup, makin sering kita gagal berarti jatah gagal kita makin berkurang dan sisanya tinggal yang berhasil-hasil gitu. Ya itu bantu saya gak terpuruk-terpuruk amat sih walau saya gak percaya sepenuhnya sama kata-kata dia (maafkan aku sahabatku). Cuma saya mempelajari dalam sudut pandang lain, bahwa kegagalan ya bukan akhir dunia.

Dari dia saya belajar bahwa kegagalan bukan lah kegagalan #hapasih. Kegagalan jika dimaknai baik adalah sebuah proses pembelajaran. Seperi Einstein bilang (walau saya gak tau ini bener apa enggak) bahwa dia bukan gagal 1000 kali, tapi dia menemukan 1000 cara yang tidak berhasil.

Jadi, selamat ngabisin jatah gagal!

Senin, 09 Oktober 2017

Konduktor Rasa Sayang

Saya tipikal orang orang yang meyakini bahwa rasa sayang terlepas dari batas-batas hubungan cinta antar dua orang untuk saling memiliki,

Saya memiliki banyak orang yang saya sayangi, dan kalau boleh jujur kebanyakan laki-laki. Mungkin karena di lingkungan saya sekarang hubungan terlalu dekat antara pria dan wanita adalah hal yang tabu.

Singkat cerita teman saya sedang low mood, hatinya terguncang. Saya sudah ajak dia bicara, kasih kejutan, memberikan obroloan hangat, namun rasanya tidak berpengaruh signifikan terhadap moodnya. Saya sadar bahwa dia memiliki teman dekat yang lain, akhirnya tadi pagi saya ajak dia bertemu dan menceritakan masalah teman saya ini.

Kami sepakat agar dia menemui teman kami siang ini dan memberi kejutan sekedar susu kotak dan puding, lalu pergi begitu saja. Rencana berhasil.

Rasanya teman kami akhirnya berubah moodnya.

Satu sisi saya ingin berkata padanya, "Tadi gue yang nyuruh loooh." Tapi saya sadar, hal itu malah akan menghancurkan rencana yang sudah dilaksanakan.

Saya jadi cuma senyum saja, ala-ala sinetron yang gebetannya jalan berdua sama pacarnya hahaha. Cukup menarik untuk mengelola rasa sayang, bahwa ia tidak harus dimunculkan secara langsung. Jika memang saya sayang, saya harus bisa menahan bahwa sumber rasa bahagianya bukan saya saja.

Hal di atas mungkin gak umum dibaca, hubungan persahabat sedekat itu memang jarang laki-laki tunjukan atau cerita kan, kebanyakan dari kami gengsi dan malu-malu kalau kami saling sayang. Tapi padahal kami juga butuh, malu-malu kucing gitu padahal mah mau.

Satu hal yang saya sadar, ini salah-satu jenis latihan dari ambisi saya di post Overthought and My Bad Ambition.

Terima kasih sudah jadi bahan belajar saya! :D

Minggu, 03 September 2017

Overthought and My Bad Ambition

STOP STOP GUE MAU NGOMONG
kebanyakan denger masalah orang akhir-akhir ini cukup bikin gue panik. It's okay kalau itu hanya berhenti di sesi ketemunya aja, tapi ini jadi berpengaruh di aktivitas gue, in negative term.

Gue jadi suka overthinking.... masalah orang.


Kaya semacam: duh gue bisa bantu dia gak sih sebenernya, omongan gue berdampak bagus gak ya buat hidup dia, eh kalau ternyata dia gagal gimana, yaampun nih orang kok gak berubah-berubah sih kesel, omg gue gagal, dia bisa gak ya, yaampun, aaaaaaaaaah

PADAHAL SIAPA GUE JUGA MIKIR BISA BERHARAP BERPENGARUH DI HIDUP ORANG LAIN

salah... sungguh keliru. Gue jadi sadar lagi kalau poin perubahan atau bahkan hidayah itu bukan urusan manusia yang ngatur, kita cuma berusaha jadi perantara aja. Jadi urusan dia berubah atau enggak pasca ketemuan sama kita biar jadi tantangan buat dia.

Kita bukan poros dunia ini, jadi semua yang terjadi dalam hidup bukan karena elo, Mam. Bukan. Stop overthinking.

Gue boleh aja peduli sama seseorang, tapi lagi-lagi... kunci perubahannya ya di orang itu sendiri. Gue yakin ini bukan penegasian kepedulian di diri gue... ini cuma penambahan realitas dalam kepala.

Ini gue lagi ngomongin apaan sih.

==============
In another side of my brain, gue belajar banyak dari mendengar orang. Rasanya seneng, hangat, dan gue merasa dipeluk (walau bukan secara fisik). Kayaknya sharing tetep jadi hal yang tepat.

Gue bukan hal penting di hidup orang, jadi gak perlu berharap banyak. Karena hal penting dalam hidup dia adalah diri dia, dan gue harus paham itu: bahwa dia penting untuk diselamatkan, oleh dia sendiri.

We can give our hand, dalam fase ini gue akan coba sebijak mungkin paham dan bantuin orang semampu gue. Hidup gak sendiri, dan gue bisa bertahan sampai sekarang pun bukan karena kaki gue sendiri, selalu ada bantuan. Tapi kala bantuan datang keputusannya tetep di gue untuk berdiri atau matahin kaki sendiri.

Terima kasih untuk semua orang yang pernah hadir dalam hidup seorang Imam, kamu berdampak baik buatku.

Rabu, 26 Juli 2017

Sometimes, I hate myself

I'm not really sure with the title I made. I hate for hating myself, but I did.... or "I do".


I already know that I have a very big ego, bigger than my brain.
once it controls my head, I'll lost.

I just bored being a mess.

No, it isn't simple as you say "Just accept yourself"

Accepting myself is accepting my big ego too... and that's hard.

Sometimes I want to being isolated, drop every social thing I have... cause I just feel my existence will hurt people. It's hard.

maybe human being is a big achievement for me, first I need to being human.

Kamis, 02 Maret 2017

Air Mata

Sejak dulu, bocah itu tidak pernah diminta untuk berhenti menangis oleh orangtuanya, ia dibebaskan untuk menghabiskan air matanya sendiri, hingga lelah untuk mengeluarkan kesedihan lagi.

Sejak dulu, anak SMA itu dibebaskan memilih hidupnya. Orangtuanya adalah guru ngaji dan tokoh agama di kampungnya, namun cukup demokratis untuk membiarkan anaknya memilih sendiri cabang-cabang perjalanan yang ditemui.

Sejak dulu, anak kampus itu akan menciptakan tawa pada kawan-kawannya, lalu mengunci kamarnya dan tenggelam dalam kesepian yang mencekam.

Dan hingga kini, ia masih mudah menangis. Dadanya sering sesak, matanya sering bengkak, oleh punggungnya yang merasa berat dengan titipan kepercayaan.

Hingga kini, ia selalu bebas memilih untuk berhenti atau terus berlari. Meski daging koyak di sana-sini. Logika memintanya berhenti sekarang juga, tapi raga lebih senang digerakan oleh hati yang memilih untuk bercinta dengan mental yang tenggelam dalam lelah dan asa.

Hingga kini, ia ingin selalu menumbuhkan harapan pada tiap orang, bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena kita tergelincir bebatuan kecil atau bahkan tertimpa gunung sebesar ibukota. Ia percaya, bahwa Tuhan menciptakan pelukan sebagai teman bagi mereka yang ikhlas mencinta.

dan bagi mereka yang cintanya di dengarkan dengan lantangnya

Kamis, 28 Juli 2016

Kotak Pandora Telah Dibuka

Dalam kisah Yunani yang sangat terkenal bercerita seorang anak wanita diberikan kotak oleh dewa (ini versi yang diceritakan seorang kawan).
Kotak Pandora, sang gadis dilarang untuk membukanya.
Namun karena rasa penasaran yang tidak bisa ditahan, ia membuka kotaknya lalu WUSHH!!! Menyebarlah segala penyakit, penderitaan, dan bencana dari kotak itu.

Jika (ini jika loh ya) cerita ini benar, jika segala masalah di dunia ini berasal dari sebuah kotak titipan pada gadis yang penasaran, maka mungkin semua manusia di dunia akan kesal.
Mungkin kesal pada sang gadis, atau bisa saja kesal pada dewa yang memberikan kotak itu (seakan disengaja bukan?)

=====================================================================

Jika Indonesia tidak pernah punya masalah, bukankah kita jadi tidak perlu berpikir dengan keras mencari solusi untuk negeri yang kepalang acak-kadut ini.

Kita tinggal bermain dan berlari bersama sobat sendiri.

Jika kebobrokan moral tidak pernah ada, bukankah kita tinggal tidur-tiduran saja sambil merencanakan untuk membuang waktu demi sebuah hobi. Berkembang.

Jika masalah tidak pernah ada di dunia, bukankah kita hanya perlu fokus sembahyang dan benar-benar berlomba dalam ibadah karena orang di sekitarmu semuanya sedang fokus beribadah. Tuhan sepertinya akan suka.

Jika penderitaan tidak pernah ada... akankah hal baik dan segala kondisi ideal yang kita bayangkan adalah benar-benar yang diinginkan Tuhan?

Dari yang saya yakini, masalah diciptakan bersama solusi.
Keruwetan diciptakan bersaamaan dengan penyelesaian.
Dan atas-atas ketidakidealan yang kita anggap adalah cara Tuhan agar kita tidak menjadi artefak anti-sosial.

Karena tiap kegelapan yang diciptakan meminta pembawa cahaya untuk membagikan seberkas sinar. Dengan cara seperti inilah manusia bisa menikmati hakikat ibadah yang sesungguhnya.

===========================================
Jangan-jangan kita harus berterima kasih karena kotak pandora telah dibuka,
karena ia menyebarkan penderitaan untuk kita selesaikan.

Karena saat seluruh ketidakidealan menyebar di tanah bumi, ada satu hal yang tertinggal di dalam kotak itu,

dan yang tertinggal itu adalah...


sebuah harapan.



Rabu, 29 Juni 2016

Melawan Monster

Lalu bocah itu mengacungkan laras panjang, tanpa peluru, senjata kosong yang ia gunakan hanya untuk menggertak.

Ia hanya mengulur waktu agar tak disantap monster menyeramkan di depannya, mereka bertatapan. Tegas. Menyembunyikan ketakutan di balik raut.

Lalu keduanya menyerah. Sedetik kemudian sang bocah tersadar dan menyesal menghabiskan waktu berlama-lama. Menunduk, sendu, karena monster yang ia hadapi adalah pantulan cermin atas dirinya.

haha, apa rasanya jika kau ingin melawan monster dan monster itu adalah dirimu sendiri? haha

Jumat, 03 Juni 2016

Membuka Mata dan Mencari Segalanya

Sudah dua hari ada yang berbeda dalam Shubuhku. Sampai sejauh ini, rupanya aku bisa dibangunkan adzan. Merasa angin yang masuk pelan-pelan melalui sela plavon menggiringku mengambil wudhu.

Dingin, dan sepi...

Sudah dua hari tidak ada tepukan membangunkan seorang kawan.

Langkah menuju masjid. Usai shalat aku tersenyum menghadap kiblat...

...lalu menangis perlahan.
Sepi. Seakan banyak orang di hatiku namun lingkungan tak mampu memenuhi kebutuhan.

Akhirnya mereka yang berada dalam hati membuncah keluar, dalam rupa nama, dalam rupa doa dalam isak air yang keluar dari mata.

Air mata itu kini tak ada bedanya dengan embun di kaca masjid, Kawan.


Selasa, 22 Maret 2016

Tentang Berdamai Dengan Diri Sendiri (2)


Beberapa waktu lalu saat saya melihat dashboard blog, saya melihat satu postingan dengan judul "Berdamai Dengan Diri Sendiri." Post ini merupakan tulisan dari teman SMA saya. (jika ingin melihat post-nya silakan klik link ini)

Pada hari itu rasanya saya kurang mengerti dengan rangkaian kata tersebut, hingga beberapa hari yang lalu saya merasakannya sendiri.

Dalam film Insurgent, Tris Prior sang tokoh utama memiliki konflik karena tidak dapat memaafkan dirinya karena telah membunuh temannya, Will. Cerita berlanjut saat ia melakukan Divergent Test, musuh yang dihadapinya bukan sang musuh yang ia kira, ternyata musuhnya adalah cerminan dirinya sendiri.

======================================================

Seorang pria mengetuk pintu dari balik pintu, aku terkejut karena aku sendang menggenggam sesuatu hal yang kupertahakankan selama 12 tahun, sebuah dosa masa lalu yang sulit dilenyapkan sampai sekarang.

Dan pada hari itu tembok rahasia yang sudah ku buat tinggi menjulang selama ini ia runtuhkan dengan langkah kaki melewati pintu. Dia, orang pertama yang mengetahui semua ini. Ruang kecil itu bukan milikku seorang saja kini.

Aku bahkan ingin membunuh diriku sendiri. Rasanya ingin sekali mengeluarkan otak dalam kepala dan menguraikannya agar tidak adalagi yang perlu aku pikirkan. Hanya saja... jalan seperti itu rasanya terlalu instan.

Aku menyadari betul mengapa Tuhan membuatnya kebetulan memasuki ruang kecil rahasiaku. Agar aku melepaskan benda ini... selama-lamanya. Sebab pola melakukan-lalu-kemudian-menyesal sudah aku lakukan berulang kali.

Di hari saat ia secara tidak sengaja menghancurkan tembok yang telah kubuat menjulang, aku resah dan pergi berlari menjauh darinya. Dalam sujud yang panjang, lalu aku menemukan jawaban agar melihat ini sebagai peluang: kesempatan besar melepas jeratan berumur 12 tahun ini.

"Gue tau lo kecewa sama gue. Kita ngobrol, gue mau jelasin semuanya," Pesan singkat yang ku kirim dengan miliyaran pertimbangan.

Tidak ada respon..

hening...

rasanya tubuhku ditarik paksa ke atas, begitu sesak....

 drrttt

"Kecewa kenapa? yuk ngobrol hari Minggu," Balasan singkat. Padat. Dan berhasil membuat badanku terlepas lagi ke bumi.

=============================================================

Hingga di titik ini, ruang itu tidak saya hancurkan, di dalamnya ada saya dan dia sekarang. Tembok yang hancur sudah diperbaiki, bahkan kini dibuatkan pintu khusus jika ia mau masuk bertemu dengan saya.

Terima kasih atas ketidaksengajaannya,

Dan terima kasih juga untuk saya yang telah memaafkan dirinya sendiri.


Depok, 22 Maret 2016.

Jumat, 04 Maret 2016

Kita yang Kurang Sederhana

Suatu hari kamu melihat sepasang sepatu yang sering kamu pakai melangkah di tiap ujung senja, sembari duduk dan kaki berujar lurus.

Sepasang sepatu saling menatap, coklat. Sang kiri rasanya cemburu pada sang kanan yang masih... hmm, lumayan.
Sementara kiri berlubang di satu sisi, entah karena sering diberi kerja lebih banyak atau... memang ukuran kakimu beda antara kanan dan kiri
------------------

"San, aku kok lagi gak enak hati ya..." ucapku
"Cerita," katanya

Ini seperti... hanya tidak enak hati. Tidak ada yang butuh aku ceritakan.

"Cerita apa aja, yang gak nyambung juga gak apa," sambil tersenyum.

Di kepalaku berputar dua juta topik untuk dibahas, "Kenapa ya ada orang yang susah percaya sama kita, padahal kita udah berkorban banyak?" entah mengapa pertanyaan ini yang keluar.

"Kamu salah niat, mam."




...hening



Apa maksudnya? Otakku memberontak mencari makna katanya.

"Kalau niat kamu bener, tujuannya bukan dipercaya orang," lugas.

...hening

"Dulu aku buat buku bukan buat diapresiasi dan kaya dari buku, cuma buat punya karya aja."


Lalu rasanya isi dada ini membuncahkan air terjun, segala gejolak panas sirna ditelan kesadaran dan logika.

----------------------------
Mungkin sebenarnya bukan masalah kita yang terlalu berat, mungkin hanya kita saja yang tidak terlalu sederhana.



Refleksi diri,
thanks, San.

Kamis, 25 Februari 2016

Belajar Dari Angin

Tanganku membentang lebar. Dengan telapak kaki telanjang yang menginjak tepi jembatan penyebrangan.

Getir.

Mengapa rasanya angin mencoba memelukmu... dan memeluk semua orang.
Menghebus pada setiap badan, tak pilih orang dengan ideologi seperti apa.

Hilang. Terbang.

Selangkah saja aku maju, angin akan mencoba menahan badanku membentur tanah. Dan mati.
Ragu? Bahkan aku meragukan aku sedang ragu atau tidak.

Yang jelas aku tidak dapat menyalahkan angin atas kematian bodohku. Menjatuhkan diri sendiri meski angin mencoba memeluk tubuh.

Senin, 25 Januari 2016

Namanya Farras



Namanya Farras,
Dia tadinya di BEM UI bagian aksi dan propaganda, sekarang jadi Ketua II BPM FEB UI.


Awalnya kami gak akrab sampai terpaksa diakrab-akrabin. ((TERPAKSA))

Ya, jadi ceritanya begini...
di asrama Rumah Kepemimpinan ada sistem yang dinamakan Teman Hidup atau biasa disingkat TH, kalau dipanjangin lagi jadinya THahahahaha (enggak, ini becanda)

TH ini adalah sistem memasang-masangkan 2 orang jadi temenan deket gitu.
nah, pada bulan Agustus terjadi perubahan TH, jadi semacam dikasih pasangan yang baru.

*zwip* ganti latar belakang Thailand.
Pas kemaren gue berangkat ke Thailand buat konferensi (ini next post gue cerita deh ya), asrama lagi awal-awal masuk dan masing-masing kami harus kasih kado ke TH yang baru (yang belum tau siapa).
TH baru ini akan diumumin pas Welcoming Night, nah kan gue sama Farras gak ikut tuh, jadi kami nitip kado aja ke anak asrama.

Farras sama gue sebenernya beda tim di Thailand, gue bahas tentang urbanisasi dan dia papernya tentang geothermal... padahal dia anak Ekonomi Islam... (atau mungkin dia mau menjual bumi dengan sistem.... syariah? maybe?)

Nah setelah dua hari di Thailand akhirnya ada pengumuman TH lewat grup whatsapp
...dan
.....ternyata
.......TH baru gue
..............Farras
....................................................................................dosa apa gue alhamdulillah

gue sama Farras langsung tatap-tatapan abis liat pengumuman
untung gak ada backsong dangdut atau apa gitu
selain karena Farras suka dangdut, gue rasa akan bahaya kalau kita tatap-tatapan pake lagu.
(kalau pun harus berlag, gue lebih setuju pake lengsir wengi kali ya)

Ya, sekarang kami berdua TH-an.

Seiring berjalannya waktu Farras ini tipe yang suka gagal so sweet.
Pernah gue seneng dapet buah rahasia di meja belajar dan gue tau itu dari Farras, terus malemnya dia ngaku.... ah yasudahlah dasar cowo.

Tapi dia (kayaknya) cukup mau berusaha sih biar gue sama dia hubungannya gak sebatas terpaksa aja, gue pun mengusahakan banget buat hal serupa.

Farras tipe orang yang supportive dan ngeselin kalau ngasih semangat. Pernah gue buat tulisan kajian dan malu buat nyebarin, kemudian dia yang nyebarin ke mana-mana dan edit memperbaiki, hm... E btw, gue sebel kalau dia ketawa suka ganggu hidup orang. ya gitu deh ketawanya ganggu idup dah kayak penonton talkshow gitu.

Tapi that is him.
Farras akan tetap jadi Farras
orang yang apa adanya dan jujur dalam merasa

(BTW gue lagi muter otak nih Ras biar bisa tukeran kado 500rb tantangannya Bang Bach, doain ya bro dan sama-sama berusaha)

thanks for being childist friend
Foto diambil saat Greetings Night di hotel Thailand (dan banyak orang yang liat)