Selasa, 22 November 2016

"Wajah"



Mungkin dulu begini lah yang orangtuaku rasakan saat melihat anak yang sedang ia besarkan tiba-tiba marah, kau ingin membalas marahnya namun kau khawatir menggagalkan segalanya.

Mungkin dulu beginilah rasa saat bapak melihatku tidak mau diatur karena aku sudah merasa besar dan bisa menentukan sendiri apa yang ingin ku lakukan.

Mungkin ini perasaan umi ketika anaknya lebih memilih makan di kantin sekolah dan tidak memakan bekal yang umi siapkan sejak shubuh.

Mungkin ini adalah keheranan bapak melihat anaknya bertengkar dengan saudaranya sendiri.

Apakah ini perasaan umi saat aku bahkan lebih suka menghindari dirinya karena tidak mau mendengar ceramahnya?


Pak, Mi,

Sesyahdu ini rasanya saat aku mengucapkan sayang padamu?

Semerdu ini suara tangisanku saat menceritakan masalahku? semerdu ini rasa percayaku?

Sesakit ini melihat dulu aku jatuh sakit? tak peduli berapa banyak yang akan kau korbankan agar aku sembuh dan bisa berlari lagi.

Sebergetar ini ya? Saat tak sengaja mendengar namamu terselip dalam doa anakmu.

dan....


Sebahagia ini kah dahulu, melihat seorang anak lahir dan berkembang dalam binaan tangan penuh kasih sayang?

Love you,
Umi dan Bapak.
Imam sayang kalian.


Jumat, 12 Agustus 2016

Menasihati

Sejak menjadi supervisor di Rumah Kepemimpininan, memberi nasihat bagi saya adalah sebuah rutinitas. Bukan jadi Lelaki Maha Benar, tapi saya rasa ketidaksempurnaan dan kesalahan haruslah dikondisikan sebagaimana mestinya.

Dalam proses menasihati ini rupanya bukan sekedar orang yang saya nasihati saja yang jadi objek, tapi diri saya sendiri pun jadi objek. Misal saat menasihati untuk tidak mengantuk dikala dzikir, maka saya diberi ujian mengantuk karena mengerjakan tugas. Saat saya menasihati untuk bangun tahajud mandiri, saya diberikan rasa lelah yang begitu sangat. Saat saya emnasihati utnuk menyempatkan diri membaca Al-Quran di hari-hari, mengapa seakan di hari itu terasa begitu padat?

Saat saya minta adik-adik utnuk menjaga kesehatannya, sakit kepala dan rasa lelah dengan mudah menghigapi diri.

Namun yang saya yakini, ini bukan tanda saya untuk berhenti, tapi ini tanda saya untuk tak sekedar menjadi guru, namun untuk berjuang bersama mereka berkembang bersama-sama.

Terima kasih, Ksatria 8.
Saya banyak belajar dari kalian.

Minggu, 07 Agustus 2016

Manusia dan Labirin Kepalanya

Kita yang biasanya membangun konstruksi persepsi pada apa yang orang-orang lakukan, akan menjadikan kita ditelan oleh pasir hisap pikiran sendiri. Terjebak. Sehalus apa pun ramalan yang kita buat tentang bagaimana otak orang di hadapan kita berfungsi, akan menjadikan kita dikungkung oleh tembok baja pikiran sendiri. Terjebak. Pada hakikat awalnya, pikiran manusia dipengaruhi oleh berbagai fenomena manusia yang berbeda pada tiap insannya. Hal ini menyebabkan pola pikir yang jauh berbeda pula, yang bahkan menjadikan hak kita untuk menilai menjadi sangat minim.

Sebagai contoh, seseorang dalam sebuah permainan berpikir diminta untuk menganalogikan dirinya dengan sebuah benda. Beberapa memilih air. Dalam pikiran saya (atau mungkin pikiranmu juga), orang yang membuat analogi diri dengan air pasti berhubungan dengan ketenangan atau kesejukan. Tidak, beberapa orang bahkan menganalogikan diri dengan air hanya karena pada saat itu dia haus. Iya, hanya karena haus.

Banyak orang di dunia ini yang berpikir sangat rumit hingga jika ia hendak menangkap bola, otaknya berpikir tentang segala kalkulasi hukum fisika, lalu mungkin bolanya lebih dulu menerapkan Hukum Newton I pada wajahnya. Bam! Dalam kondisi lain, orang lain akan berpikir begitu sederhana, seakan semua saraf didesain untuk sistem refleks. Level kerumitan dan kesederhanaan ini jelas berbeda pada tiap orang dan tiap kondisi.

Lantas kita yang tadinya berjalan sendiri-sendiri, seakan punya hak untuk membenci orang yang kita anggap menyebalkan. Bukankah ini rasanya tidak adil? Apa-apa yang orang lakukan dan pikirkan berasal dari segala kondisi apa yang terjadi padanya di masa lalu, yang mungkin tidak mendapatkan pendidikan dan pola asuh seberuntung kamu, ah maaf maksudnya sebetuntung kita.

Segala tendensi yang tercipta rasanya menjadi sangat kriminal jika dilakukan hanya sampai tahap berpikir dan menaksir nilai. Sebagai manusia yang berpikir lebih rumit, akan menjadi lebih baik bagi kita memberikan tutor bagaimana gelombang otak kita berjalan di dalam labirin pikiran. Sampai pada tiap-tiap orang yang kita hampir labeli, harus kita konfirmasi dan kita ajari bagaimana membuatnya berpikir secara tepat menurut kita. Ya, menurut kita.

Bisa jadi pada orang-orang yang kita anggap tidak tepat pola pikirnya, ternyata lebih mantap dalam kondisinya sendiri. Hingga kita terlalu sibuk untuk menilai dan lupa bahwa diri kita sendiri yang seharusnya mendapatkan pelajaran pikiran.





Kamis, 28 Juli 2016

Bahagia Hanya Seharga Kembalian Sasa

bukan, ini bukan mau promo akun OA Line. lagi pula gunung promo tinggi menjulang. Oke sepertinya sudah cukup receh untuk bisa memulai pos ini.

Saya lanjut ya, iyalah suka-suka saya emang situ bisa ngelarang?! #ganyelow #padahalmewekjugakalaugakadayangbaca #yaampunhashtagnyapanjangkayawebtoon

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini bukan postingan becandaan sebetulnya, awalnya mau dibuat serius cuma gak dapet izin dari orang tuanya akhirnya cuma bisa backstreet.

Tapi serius, pernah gak sih kita memperhatikan kalau mayoritas orang di dunia mendefinisikan sumber kebahagian pada materi atau status sosial.

Seakan segala yang kaya-kaya, yang berprestasi, yang ganteng-ganteng aja yang bisa bahagia. Sedangkan lo yang segalanya pas-pasan sepertinya lahir bersama dengan penderitaan. Selalu jadi yang tidak diprioritaskan, jadi yang tidak diperhatikan karena kalah kece sama temen sendiri.
Kayaknya rasa iri tuh udah jadi sodara kembar gitu.

Bukan kok, lagian nama lo sama si 'iri' ini gak mirip, masa iya saudara kembar. eh bisa juga sih ya kembar kan bebas ngasih nama... eh gimana ya.... eh...

*skip *skip

Banyak orang mengincar tingginya status sosial agar bisa merasakan kebahagiaan,
Tanpa ia sadar kalau dia punya sumber bahagia sendiri; 5 indera yang kita miliki (ya beberapa kayaknya punya 6 sih)

Tapi serius ya black, serius black #halah

Tapi serius ya, kadang saya pribadi bisa bahagia hanya karena ngeletupin gelembung-gelembung di plastik bekas ngelapisin alat elektronik.

Atau bahagia karena bisa manjat pohon (walau nanti bingung turunnya gimana)

oh men, banyak hal di dunia ini yang bisa dilakukan oleh 5 indera kita.
Lidah misal: pernah seneng gara-gara bisa ngerasain es? atau coba deh minum kopi tapi pake gula merah, bakal aneh sih rasanya.... cuma bikin bahagia kan?
Telinga misal: pernah coba joget pake lagu tulus? absurd sih emang.... tapi bahkan dengan hal sekecil ini bisa bikin bahagia loh.

(kalau gak berani, lakuin pas gak ada orang. Tapi bener penasarankan?)

Agak receh emang, tapi justru rasa bersyukur bisa dimulai dari sini. Hati yang lapang bisa didapat dari hal se-receh ini.

Bukan memberhentikan langah untuk meraih mimpi, tapi lebih meluruskan agar mimpi-mimpi yang kita kejar bukan hanya untuk diakui atau ambisi pribadi.

Karena bakal banyak kecewanya kalau buat gituan doang.
Betapa Allah udah ngasih nikmat yang bahkan gak kita anggap di hari-hari kita.
Jadi gak usahlah itu galau-galau iri lagi karena kalah ganteng sama gue.

gue kece dari lahir udah keren bukan sulap-bukan sihir, gue kece gue kece, dari lahir udah keren. #YouSingYouLose

akhirul kalam, mohon maaf kalau ada salah-salah dari postingan blog ini yang udah gue anggurin berbulan-bulan ini. Blog dianggurin gimana ya btw, jadi ada benjol-benjol bulet ungu gitu,

Kotak Pandora Telah Dibuka

Dalam kisah Yunani yang sangat terkenal bercerita seorang anak wanita diberikan kotak oleh dewa (ini versi yang diceritakan seorang kawan).
Kotak Pandora, sang gadis dilarang untuk membukanya.
Namun karena rasa penasaran yang tidak bisa ditahan, ia membuka kotaknya lalu WUSHH!!! Menyebarlah segala penyakit, penderitaan, dan bencana dari kotak itu.

Jika (ini jika loh ya) cerita ini benar, jika segala masalah di dunia ini berasal dari sebuah kotak titipan pada gadis yang penasaran, maka mungkin semua manusia di dunia akan kesal.
Mungkin kesal pada sang gadis, atau bisa saja kesal pada dewa yang memberikan kotak itu (seakan disengaja bukan?)

=====================================================================

Jika Indonesia tidak pernah punya masalah, bukankah kita jadi tidak perlu berpikir dengan keras mencari solusi untuk negeri yang kepalang acak-kadut ini.

Kita tinggal bermain dan berlari bersama sobat sendiri.

Jika kebobrokan moral tidak pernah ada, bukankah kita tinggal tidur-tiduran saja sambil merencanakan untuk membuang waktu demi sebuah hobi. Berkembang.

Jika masalah tidak pernah ada di dunia, bukankah kita hanya perlu fokus sembahyang dan benar-benar berlomba dalam ibadah karena orang di sekitarmu semuanya sedang fokus beribadah. Tuhan sepertinya akan suka.

Jika penderitaan tidak pernah ada... akankah hal baik dan segala kondisi ideal yang kita bayangkan adalah benar-benar yang diinginkan Tuhan?

Dari yang saya yakini, masalah diciptakan bersama solusi.
Keruwetan diciptakan bersaamaan dengan penyelesaian.
Dan atas-atas ketidakidealan yang kita anggap adalah cara Tuhan agar kita tidak menjadi artefak anti-sosial.

Karena tiap kegelapan yang diciptakan meminta pembawa cahaya untuk membagikan seberkas sinar. Dengan cara seperti inilah manusia bisa menikmati hakikat ibadah yang sesungguhnya.

===========================================
Jangan-jangan kita harus berterima kasih karena kotak pandora telah dibuka,
karena ia menyebarkan penderitaan untuk kita selesaikan.

Karena saat seluruh ketidakidealan menyebar di tanah bumi, ada satu hal yang tertinggal di dalam kotak itu,

dan yang tertinggal itu adalah...


sebuah harapan.



Rabu, 29 Juni 2016

Melawan Monster

Lalu bocah itu mengacungkan laras panjang, tanpa peluru, senjata kosong yang ia gunakan hanya untuk menggertak.

Ia hanya mengulur waktu agar tak disantap monster menyeramkan di depannya, mereka bertatapan. Tegas. Menyembunyikan ketakutan di balik raut.

Lalu keduanya menyerah. Sedetik kemudian sang bocah tersadar dan menyesal menghabiskan waktu berlama-lama. Menunduk, sendu, karena monster yang ia hadapi adalah pantulan cermin atas dirinya.

haha, apa rasanya jika kau ingin melawan monster dan monster itu adalah dirimu sendiri? haha

Saya Bukan Pembina yang Itu

Jajaran Eksekutif Regional 1 (Imam, Fathan, Finna)

Udah mau post ini dari lama, cuma... hmm yaudahlah lah, baca aja ya.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan SMS pemberitahuan bahwa saya diterima menjadi Supervisor RK Regional 1, singkatnya pembina para penerima beasiswa Rumah Kepemimpinan.

Setelah hadirnya pesan singkat itu, saya gak tahan senyum-senyum sendiri, sambil ketakutan sendiri. Soalnya... saya bakal ngurusin 30 anak orang... (iya ini orang semua harusnya).

Berat, berat, berat.

Emang banyak yang nanya alasan saya mau daftar, jawabannya sih simple, panggilan hati. Iya itu aja. #duileh #gakgakpas

Gak tau sih alasan itu cukup atau enggak. Awalnya emang gak jadi daftar gara-gara jauh banget dari sosok "pembina ideal". Banyak yang harus dikejar, terlalu banyak yang harus dikejar. (Kan capek, mending tawaf 7 kali #hapasih)

(EH BTW BINGUNG INI POST MAU DIBAWA SERIUS APA GIMANA) (GAUSAH DEH YA, KAMU AJA YANG AKU BAWA SERIUS #BEDATOPIK #TOPIKSAYABUNDAR #LAHMALAHNYANYI)

Tapi yang jelas, perjalanan saya dari niat mau daftar sampe daftar beneran nganterin saya punya kebiasaan yang baik-baik. Terus saya mikir kenapa gak dilanjut kan?

Salah satu yang jadi perhatian saya, setelah beberapa orang tau saya daftar, beberapa dari mereka menyarankan saya untuk mencontoh sosok yang pernah membina mereka, dengan segala gembar-gembor metode pembinaannya.

Saya, saya adalah diri saya, saya tau saya banyak kurang tapi saya tak perlu menjadi dia. Benarkan? Poin penting dari dia akan saya ambil, tapi gak perlu menjadi dia.

Saya akan jadi diri sendiri, seorang hamba yang menghamba dengan cara seperti ini.


Jumat, 03 Juni 2016

Membuka Mata dan Mencari Segalanya

Sudah dua hari ada yang berbeda dalam Shubuhku. Sampai sejauh ini, rupanya aku bisa dibangunkan adzan. Merasa angin yang masuk pelan-pelan melalui sela plavon menggiringku mengambil wudhu.

Dingin, dan sepi...

Sudah dua hari tidak ada tepukan membangunkan seorang kawan.

Langkah menuju masjid. Usai shalat aku tersenyum menghadap kiblat...

...lalu menangis perlahan.
Sepi. Seakan banyak orang di hatiku namun lingkungan tak mampu memenuhi kebutuhan.

Akhirnya mereka yang berada dalam hati membuncah keluar, dalam rupa nama, dalam rupa doa dalam isak air yang keluar dari mata.

Air mata itu kini tak ada bedanya dengan embun di kaca masjid, Kawan.


Selasa, 22 Maret 2016

Tentang Berdamai Dengan Diri Sendiri (2)


Beberapa waktu lalu saat saya melihat dashboard blog, saya melihat satu postingan dengan judul "Berdamai Dengan Diri Sendiri." Post ini merupakan tulisan dari teman SMA saya. (jika ingin melihat post-nya silakan klik link ini)

Pada hari itu rasanya saya kurang mengerti dengan rangkaian kata tersebut, hingga beberapa hari yang lalu saya merasakannya sendiri.

Dalam film Insurgent, Tris Prior sang tokoh utama memiliki konflik karena tidak dapat memaafkan dirinya karena telah membunuh temannya, Will. Cerita berlanjut saat ia melakukan Divergent Test, musuh yang dihadapinya bukan sang musuh yang ia kira, ternyata musuhnya adalah cerminan dirinya sendiri.

======================================================

Seorang pria mengetuk pintu dari balik pintu, aku terkejut karena aku sendang menggenggam sesuatu hal yang kupertahakankan selama 12 tahun, sebuah dosa masa lalu yang sulit dilenyapkan sampai sekarang.

Dan pada hari itu tembok rahasia yang sudah ku buat tinggi menjulang selama ini ia runtuhkan dengan langkah kaki melewati pintu. Dia, orang pertama yang mengetahui semua ini. Ruang kecil itu bukan milikku seorang saja kini.

Aku bahkan ingin membunuh diriku sendiri. Rasanya ingin sekali mengeluarkan otak dalam kepala dan menguraikannya agar tidak adalagi yang perlu aku pikirkan. Hanya saja... jalan seperti itu rasanya terlalu instan.

Aku menyadari betul mengapa Tuhan membuatnya kebetulan memasuki ruang kecil rahasiaku. Agar aku melepaskan benda ini... selama-lamanya. Sebab pola melakukan-lalu-kemudian-menyesal sudah aku lakukan berulang kali.

Di hari saat ia secara tidak sengaja menghancurkan tembok yang telah kubuat menjulang, aku resah dan pergi berlari menjauh darinya. Dalam sujud yang panjang, lalu aku menemukan jawaban agar melihat ini sebagai peluang: kesempatan besar melepas jeratan berumur 12 tahun ini.

"Gue tau lo kecewa sama gue. Kita ngobrol, gue mau jelasin semuanya," Pesan singkat yang ku kirim dengan miliyaran pertimbangan.

Tidak ada respon..

hening...

rasanya tubuhku ditarik paksa ke atas, begitu sesak....

 drrttt

"Kecewa kenapa? yuk ngobrol hari Minggu," Balasan singkat. Padat. Dan berhasil membuat badanku terlepas lagi ke bumi.

=============================================================

Hingga di titik ini, ruang itu tidak saya hancurkan, di dalamnya ada saya dan dia sekarang. Tembok yang hancur sudah diperbaiki, bahkan kini dibuatkan pintu khusus jika ia mau masuk bertemu dengan saya.

Terima kasih atas ketidaksengajaannya,

Dan terima kasih juga untuk saya yang telah memaafkan dirinya sendiri.


Depok, 22 Maret 2016.

Jumat, 04 Maret 2016

Kita yang Kurang Sederhana

Suatu hari kamu melihat sepasang sepatu yang sering kamu pakai melangkah di tiap ujung senja, sembari duduk dan kaki berujar lurus.

Sepasang sepatu saling menatap, coklat. Sang kiri rasanya cemburu pada sang kanan yang masih... hmm, lumayan.
Sementara kiri berlubang di satu sisi, entah karena sering diberi kerja lebih banyak atau... memang ukuran kakimu beda antara kanan dan kiri
------------------

"San, aku kok lagi gak enak hati ya..." ucapku
"Cerita," katanya

Ini seperti... hanya tidak enak hati. Tidak ada yang butuh aku ceritakan.

"Cerita apa aja, yang gak nyambung juga gak apa," sambil tersenyum.

Di kepalaku berputar dua juta topik untuk dibahas, "Kenapa ya ada orang yang susah percaya sama kita, padahal kita udah berkorban banyak?" entah mengapa pertanyaan ini yang keluar.

"Kamu salah niat, mam."




...hening



Apa maksudnya? Otakku memberontak mencari makna katanya.

"Kalau niat kamu bener, tujuannya bukan dipercaya orang," lugas.

...hening

"Dulu aku buat buku bukan buat diapresiasi dan kaya dari buku, cuma buat punya karya aja."


Lalu rasanya isi dada ini membuncahkan air terjun, segala gejolak panas sirna ditelan kesadaran dan logika.

----------------------------
Mungkin sebenarnya bukan masalah kita yang terlalu berat, mungkin hanya kita saja yang tidak terlalu sederhana.



Refleksi diri,
thanks, San.

Kamis, 25 Februari 2016

Belajar Dari Angin

Tanganku membentang lebar. Dengan telapak kaki telanjang yang menginjak tepi jembatan penyebrangan.

Getir.

Mengapa rasanya angin mencoba memelukmu... dan memeluk semua orang.
Menghebus pada setiap badan, tak pilih orang dengan ideologi seperti apa.

Hilang. Terbang.

Selangkah saja aku maju, angin akan mencoba menahan badanku membentur tanah. Dan mati.
Ragu? Bahkan aku meragukan aku sedang ragu atau tidak.

Yang jelas aku tidak dapat menyalahkan angin atas kematian bodohku. Menjatuhkan diri sendiri meski angin mencoba memeluk tubuh.

Senin, 25 Januari 2016

Namanya Farras



Namanya Farras,
Dia tadinya di BEM UI bagian aksi dan propaganda, sekarang jadi Ketua II BPM FEB UI.


Awalnya kami gak akrab sampai terpaksa diakrab-akrabin. ((TERPAKSA))

Ya, jadi ceritanya begini...
di asrama Rumah Kepemimpinan ada sistem yang dinamakan Teman Hidup atau biasa disingkat TH, kalau dipanjangin lagi jadinya THahahahaha (enggak, ini becanda)

TH ini adalah sistem memasang-masangkan 2 orang jadi temenan deket gitu.
nah, pada bulan Agustus terjadi perubahan TH, jadi semacam dikasih pasangan yang baru.

*zwip* ganti latar belakang Thailand.
Pas kemaren gue berangkat ke Thailand buat konferensi (ini next post gue cerita deh ya), asrama lagi awal-awal masuk dan masing-masing kami harus kasih kado ke TH yang baru (yang belum tau siapa).
TH baru ini akan diumumin pas Welcoming Night, nah kan gue sama Farras gak ikut tuh, jadi kami nitip kado aja ke anak asrama.

Farras sama gue sebenernya beda tim di Thailand, gue bahas tentang urbanisasi dan dia papernya tentang geothermal... padahal dia anak Ekonomi Islam... (atau mungkin dia mau menjual bumi dengan sistem.... syariah? maybe?)

Nah setelah dua hari di Thailand akhirnya ada pengumuman TH lewat grup whatsapp
...dan
.....ternyata
.......TH baru gue
..............Farras
....................................................................................dosa apa gue alhamdulillah

gue sama Farras langsung tatap-tatapan abis liat pengumuman
untung gak ada backsong dangdut atau apa gitu
selain karena Farras suka dangdut, gue rasa akan bahaya kalau kita tatap-tatapan pake lagu.
(kalau pun harus berlag, gue lebih setuju pake lengsir wengi kali ya)

Ya, sekarang kami berdua TH-an.

Seiring berjalannya waktu Farras ini tipe yang suka gagal so sweet.
Pernah gue seneng dapet buah rahasia di meja belajar dan gue tau itu dari Farras, terus malemnya dia ngaku.... ah yasudahlah dasar cowo.

Tapi dia (kayaknya) cukup mau berusaha sih biar gue sama dia hubungannya gak sebatas terpaksa aja, gue pun mengusahakan banget buat hal serupa.

Farras tipe orang yang supportive dan ngeselin kalau ngasih semangat. Pernah gue buat tulisan kajian dan malu buat nyebarin, kemudian dia yang nyebarin ke mana-mana dan edit memperbaiki, hm... E btw, gue sebel kalau dia ketawa suka ganggu hidup orang. ya gitu deh ketawanya ganggu idup dah kayak penonton talkshow gitu.

Tapi that is him.
Farras akan tetap jadi Farras
orang yang apa adanya dan jujur dalam merasa

(BTW gue lagi muter otak nih Ras biar bisa tukeran kado 500rb tantangannya Bang Bach, doain ya bro dan sama-sama berusaha)

thanks for being childist friend
Foto diambil saat Greetings Night di hotel Thailand (dan banyak orang yang liat)

Senin, 18 Januari 2016

Senin, 11 Januari 2016

Matilah beraktivitas, wahai saudara-saudaraku yang hatinya tulus!


Alhamdulillahirabbil’alamiin,
Selamat datang, saudara
Di suatu tempat yang kini kita bisa lantang bersuara.

Tapi berhati-hatilah… karena dengan begitu suara kita dapat terdengar lebih banyak manusia,
Tapi juga berbahagialah, karena suara kita akan menjadi senjata terkuat kita dalam bentuk doa.

Ucapkanlah syukur kepada Allah, bukan, bukan karena pencapaianmu.
Tapi bersyukurlah karena langkahmu masih diletakkan di atas jalan ini.
Mungkin dahulu rasanya mudah,
Mari mulai dari awal…
Pohon yang rendah tidak mendapat angin yang keras kan?
Semakin tinggi pohon itu, maka semakin kencang pula anginnya. Pun posisimu, makin tinggi ia, makin akan ada ‘angin’ yang lebih besar yang akan membuatmu jatuh.

Kau kuat
Tidak
Kau tidak kuat,
Bersujudlah dalam shalat malammu nanti, karena hari ini sebuah beban berat sedang diletakkan di pundakmu.
Temui Allah dalam shalatmu, kita bukan orang yang sempurna.
Tapi Dia yang menguatkan kita, dalam sujudmu kau akan menangis… mempertanyakan kenapa dirimu.
Tapi sejatinya Allah telah memilihmu, Allah telah meletakkan amanah langit di pundakmu.

Teringat suatu kalimat:
Sampaikanlah dakwah, agar saudaramu merasa memiliki dan dimiliki. Jangan tinggalkan yang di belakangmu, tunggulah dengan kesabaran dan keikhlasan. –Hasan Al Banna-
Karena begitulah sejatinya dakwah, aka nada banyak ketidakidealan yang akan kita jumpai.
Sulit? Berat?
Ya
Bersykurlah karena kau dipilhNya berada di jalan ini.
Karena cintaNya ia letakkan amanah langit padamu.
Karena sayangNya padamu, ia berikan alas an kuat agar kau mendekat padaNya, Allah merindukanmu.

Jalan ini adalah jalan yang membuat Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim dilampar ke dalam api. Jalan ini adalah jalan saat Ismail dibentangkan untuk disembelih, dijualnya Yusuf, digergajinya Zakaria, Ayub menderita penyakit, Daud menangis, dan Isa berjalan sendirian.
Jalan ini adalah jalan Rasulullah mendapat berbagai lemparan dan kesakitan.
Tangis, tawa… akan mewarnai perjalanan kita.
Kokohkanlah…
Saling mengokohkan karena kita tidak sekuat itu jika sendiri.
berjalan sendirian memang akan lebih cepat, tapi berjalan bersama akan lebih jauh.

Sembilan belas orang,
Ini bukan tentang 100% semangat yang dibagi 19.
TAPI INI 100% YANG DIKALI 19.
Bismillahirrahmanirrahim, mari kita sertakan Allah dalam langkah kita, duhai saudara.

Ttd.
Muhammad Imam Nawawi Syujai

Saudaramu kini.