Sabtu, 01 April 2017

PPSDMS - Rumah Kepemimpinan : 2 Tahun Bersama

Tulisan ini cuma sebagai refleksi sih, tepat di tanggal ini dua tahun yang lalu (1 April 2015) gue mindahin barang ke asrama PPSDMS untuk pertama kalinya. FYI, gue merupakan peserta Pergantian Antar Waktu yang pertama di angkatan 7.

Satu dan lain kondisi gue merasa iri sih gue gak merasakan 8 bulan pembinaan awal kaya angkatan 7 yang lain. Ya walau seiring berjalannya waktu gue berhasil ngikutin ritme mereka yang gak biasa: atmosfir prestatif yang tinggi, gak mau diem, bacaan yang banyak, serta kehilangan mereka akan orang-orang yang keluar dan gue gantikan, ya waktu itu adalah masa yang cukup gak nyaman.

Beberapa bulan di asrama membuat gue menjadi Imam yang berbeda, Imam yang lebih bentrok sama kedisiplinan, Imam yang sering terpaksa bohongin diri sendiri buat sekedar keliatan keren depan orang, ya semacam itulah. Semuanya betul-betul gak biasa, asrama ini membuat gue nyaman dan tidak nyaman di waktu bersamaan.

Kenal lah gue dengan ustadz Musholi yang gue kagumi, cara dia berpikir dan mendoktrin isi kepala gue buat lebih aware sama keadaan ummat, yang selalu doa di tempat umum "Ya Allah berilah petunjuk pada kaum-kaum ini," tiap gue gak bisa jawab atau bahkan gak ngerti sama apa yang ustadz omongin. Haha.

Lain hal lagi, gue cukup merasakan betapa kerennya anak-anak di luar dan kacrutnya mereka di asrama. Betapa individualisnya mereka, serta betapa bodohnya gue sama mereka sampai lulus pembinaan. Kadang kebegoan-kebegoan kaya gitu bikin gue kangen, bahwa dengan cara yang gak gue sukai, kami bisa berkembang seperti ini.

Kemudian berubahlah perlahan-lahan PPSDMS jadi Rumah Kepemimpinan, ganti nama ganti semangat. Bahwa kami hidup dengan kurikulum yang lebih matang. Sampai akhir pembinaan dibuka tuh pendaftaran supervisor.

Gue gak mau daftar nih awalnya, ya cuma senggolan-senggolan anak asrama berhasil lah mempengaruhi gue buat akhirnya daftar.

Sekarang sudah genap 2 tahun, terus kemana langkah gue selanjutnya? Kita liat nanti ya.

Minggu, 19 Maret 2017

Kamu Bukan Tak Bisa Pulang, Kamu Tak Mau

Tiga hari ini tenggorokan saya sakit, semacam radang atau panas dalam. Alhamdulillahnya gak sampai membatasi mobilitas saya terlalu banyak. Al hasil saya masih bisa kerja dan pergi ke sana-sini, cuma tetap saya merasa semua hal ini (sakit ini) harus segera diselesaikan.

Biasanya jika sakit saya hanya akan tidur lebih banyak dari biasanya, makan lebih banyak dari biasanya, dan minum lebih banyak dari biasanya. Namun sakit ini agak beda, saya mau pulang. Saya mau manja di rumah.

Rencana mau pulang Sabtu untuk mengejar "kesembuhan" mental ini demi mengejar efek pada kesembuhan fisik rupanya harus tertunda sebab ku sudah ada tanggung jawab jadi panitia agenda pembinaan di Puncak sampai hari Minggu.

"Mi, Imam gak pulang ya minggu ini."

Sebuah chat yang rasanya jadi sangat biasa saya kirim pada ibu saya, ayah saya, dan adik saya. Chat itu saya kirim lagi Sabtu kemarin.

Namun ketika menjadi panitia, saya rupanya tidak benar-benar sembuh. Di Hari Minggu (hari ini) seusai amanah saya tadi, saya memutuskan untuk pulang tanpa mengabarkan orang rumah.

Hujan besar di jalan justru membuat saya jadi ingin cepat-cepat sampai, saya pusing, saya khawaitr terjatuh di jalan.

Jadi cerita yang berbeda saat saya sudah tiba di rumah,

rupanya Allah punya alasan mengapa sakit saya tidak menghalangi mobilitas saya. Allah mau saya pulang, lalu melihat sebuah kenyataan: Orang tua saya sedang sakit, keduanya. Saya masuk usai mengucapkan salam, lalu menyalami tangan keduanya, Umi yang masih membereskan piring ditemani suaranya yang habis, dan Bapak yang sedang tertidur di kamar belakang.

Kini hati saya tergores banyak hal, tidak nyaman. Keinginan saya ingin bermanja ria berubah jadi perasaan bersalah yang berat. Mengapa saya selama ini hanya peduli pada diri saya sendiri? menginginkan kedua orang tua saya memperhatikan saya, namun tak pernah mampu membalas dengan perhatian yang setara pada mereka.

Menjelang maghrib Umi berbaring di kasur, saya mencoba memberikan service berupa pijatan-pijatan lembut di kaki, lalu Umi tersenyum. Hal ini menghantarkan kami tenggelam dalam perbincangan kabar dan mimpi, walau lagi-lagi lebih banyak berfokus pada kabar dan mimpiku. Egois kamu mam, egois.

Seusainya saya memutuskan memotong buah-buahan untuk mudah Bapak santap saat bangun nanti, sambil menjadi sarana obrolan yang mengalir di ruang keluarga, Bapak habiskan buahnya satu piring.

Saya tidak bisa menahannya, saya harus masuk ke kamar dan menangis sebanjir-banjirnya. Hati saya terkoyak karena perasaan bersalah. Mengapa saya setidak peduli itu sampai tidak tahu kabar mereka? Sampai tidak menanyakan kabar mereka.

Maka sejatinya, saat kita berada pada jarak dekat dengan keduanya, akan terlihatlah raut penuh perjuangan dan harapan dalam membesarkan saya dan kedua saudari saya. Sedang saya masih saja tidak berjuang maksimal saat jauh dari mereka, dan tidak berusaha kuat untuk pulang demi memberi perhatian semaksimal yang saya bisa. Saya masih egois.

Allah, Ya Rabb, cintailah mereka seperti mereka mencintaiku. Buatlah aku menjadi amal mereka yang tiada berputus, Aamiin.

Apakah Perempuan Juga Kentut?

Ada satu rahasia di dunia ini yang lebih besar dibanding bumi itu berbentuk bulat atau datar,lebih besar dibanding apakah hubungan antara pecel lele dengan pecel, atau sebesar rahasia kapan kamu menjadi miliku. #eaa

Rahasia yang selalu menjadi tanda tanya besar di kepala gue adalah apakah cewek juga kentut atau enggak.

Gue gak tau dan rasanya gak pernah denger temen cewek gue kentut di depan umum. Ya, belasan tahun hal ini cukup menganggu kepala gue. Apalagi sekarang lingkungan gue lingkungan anak-anak rohis yang intensitas ketemu cewekya sangat minim.

But, dari dulu juga begitu walau gue punya temen seperbegoan berjenis kelamin perempuasn, gue gak pernah tau dia kentut atau enggak.

Jadi ada pertanyaan, sebetulnya kentut perempuan itu gak berbunyi atau memang wanita tidak diciptakan untuk kentut?

hhhmmm, komen?

Minggu, 12 Maret 2017

Menjadi Cahaya

Ia yang tercepat dan paling konsisten dibanding segala hal
Ia berani menantang jarak dan waktu
Ia tak terhentikan dan berjalan selalu ke arah yang dituju

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Sebab ia akan selalu menemukan jalan untuk masuk
Melewati celah sekecil apapun itu
Saat kau menutup rapat ruanganmu

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Tak berhenti sampai ia merasa sampai
Sebab ia terus melaju, melaju, dan melaju sampai tiba di tujuan

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Mengatur intensitasku agar manusia nyaman
Entah agar tak terganggu karena silau
Atau tak ketakutan sebab aku tiada

Aku ingin belajar menjadi cahaya
Sebab ia adalah simbol harapan
Keberadaannya memberikan sebuah isyarat
Bahwa Tuhan masih memberi kesempatan untuk kehidupan

Di dunia ini manusia lekat dengan cahaya
Sebab saat malam datang, cahaya hanya akan bermain di langit
Manusia mendatangkannya melalui aliran listrik
Atau cara apa pun yang membuat mereka tak merasa sendirian

Maka aku ingin belajar menjadi cahaya
Maka aku ingin belajar bersama cahaya

Selamat belajar!