Kamis, 02 Maret 2017

Sariawan

Dalam dua minggu terakhir gue mengalami sebuah gejala penyakit yang sangat tidak mengenakan. Seakan seluruh semesta beserta bintang dan komet menghatam mulut bagian dalem lo: ya, sariawan.

Yang menjadi lebih mengganggu adalah letak sariawannya yang gak cuma satu, tapi tiga!!! Tiga!!!! TIGAAAA!!!! oke oce (lah malah kampanye) *janganlupa nyoblos

YA gaes! letak sariawan yang gue punya ada 3, satu di gusi kanan bagian geraham belakang, satu di gusi gigi seri bagiat atasnya (agak rebutan lahan sama daging bibir, bahkan lahan sariawan pun direbutin dong), dan satu lagi di bawah lidah.

Lengkap sudah dua minggu gue jadi orang yang jauh dari kebawelan hidup.

Jadi gue kesiksa tiap ngomong dan akhirnya gue cuma bisa jawab ngangguk-ngangguk doang sama geleng-geleng.

Tiap marah sama anak asrama gue akan diem seribu bahasa, ngeliatin secara diskriminatif sampe anaknya minta maaf. HUEHEHEHEHEHEHE *maafkan aku dik

Sebetulnya gue kira dengan diemnya gue di dunia nyata akan membuat gue lebih bawel di chat grup. Ya gue gak tau sih secara psikologis berpengaruh atau enggak, tapi ternyata gue menikmati jadi orang kalem. Rasanya gak buang-buang energi. Y G?

Dan gegara banyak diem ini, gue jadi punya waktu lebih banyak buat mikir. Sayangnya, sayangku sayangmu hanyalah sebuah ketabuan. Sayangnya, gue gak berhasil memanfaatkan keluangan waktu berpikir gue dengan baik. Salah satunya gue mikir: "Kenapa Sariawan dibilang Sariawan?"

Seriously gue mikirin ini selama seminggu, segala ilmu cocokologi gue yang udah S3 ini akhirnya berhasil menemukan titik terang.

Sariawan disebut sariawan soalnya dia warnanya putih,
Kalau wananya kuning disebutnya sarimatahari, kalau biru sarilaut, kalau banyak duitnya sarikaya. hehe. udah gitu aja. hehe.

Air Mata

Sejak dulu, bocah itu tidak pernah diminta untuk berhenti menangis oleh orangtuanya, ia dibebaskan untuk menghabiskan air matanya sendiri, hingga lelah untuk mengeluarkan kesedihan lagi.

Sejak dulu, anak SMA itu dibebaskan memilih hidupnya. Orangtuanya adalah guru ngaji dan tokoh agama di kampungnya, namun cukup demokratis untuk membiarkan anaknya memilih sendiri cabang-cabang perjalanan yang ditemui.

Sejak dulu, anak kampus itu akan menciptakan tawa pada kawan-kawannya, lalu mengunci kamarnya dan tenggelam dalam kesepian yang mencekam.

Dan hingga kini, ia masih mudah menangis. Dadanya sering sesak, matanya sering bengkak, oleh punggungnya yang merasa berat dengan titipan kepercayaan.

Hingga kini, ia selalu bebas memilih untuk berhenti atau terus berlari. Meski daging koyak di sana-sini. Logika memintanya berhenti sekarang juga, tapi raga lebih senang digerakan oleh hati yang memilih untuk bercinta dengan mental yang tenggelam dalam lelah dan asa.

Hingga kini, ia ingin selalu menumbuhkan harapan pada tiap orang, bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena kita tergelincir bebatuan kecil atau bahkan tertimpa gunung sebesar ibukota. Ia percaya, bahwa Tuhan menciptakan pelukan sebagai teman bagi mereka yang ikhlas mencinta.

dan bagi mereka yang cintanya di dengarkan dengan lantangnya

Jumat, 13 Januari 2017

Kakak Beradik - Menuju UI yang lebih adem dan Salam yang lebih masuk ke hati #eaa

Hi! wah udah lama gak ngeblog lagi nie

Jadi sekarang gue lagi nambah amanah lagi wk, alhamdulillah kan Nurani dan Tapak Aksara sudah menemukan nahkoda barunya, sekarang ku ingin naik kapal yang baru.

Gue tahun ini gabung ke Salam UI, setelah kemarin jadi calon Ketuanya (terus gak berhasil #hm) alhamdulillah dipercaya jadi pengurus intinya, tepatnya jadi Kepala Bidang Syiar. 

Ya gue yang alay begini ternyata masih bisa masuk Salam ya padahal sholeh juga kagak juga. Gapalah modal niat untuk menjadi pribadi suami yang lebih baik.


By the way, kemarin PI abis team building ke BXchange.

Setelah makan di Solaria, kami langsung main ice skating

(BELAGU GITU PADAHAL BELUM BISA SAMA SEKALI, MAEN SEMBILAN PULUH MENIT SEJAMNYA DIPAKE BUAT JATOH WKWKWK)

seenggaknya asik lah dapet skill baru: jatuh yang benar di atas es.


Sungguh perjuangan yang sangat panjang untuk nyampe ke tengah area

dari kiri ke kanan itu ada Didin, Said, Zain, Oji, Boim, Si Ganteng, Riana, Wafa, Fira, Fitri, Dini.


==========================

Gak tau sih ini semacam ujian lagi, kolaborasi bareng anak fakultas lain yang beragam dan gue RIK satu-satunya. Hm.

Mereka bandel dikit gue sebarin bakteri e.coli satu-satu huahahahhahaha
(gue gak tau kayaknya becandaan ini gak pantas ya.)

========================

yang jelas sungguh menyenangkan rasanya kerja bareng mereka, bersama

Dini yang flat design ekspresinya
Fitri yang kaya mau nangis kalau ngomong
Fira yang udah bacok-bacokan di grup DKV
Wafa yang tukang panik
Riana yang kepala departemen propaganda Salam UI wkwk
Boim yang suka ngirim Nasyid Haroki WKWK
Oji yang semua gerak-gerik orang dicurigain HAHAHHAHAHAHHAHAHAH
Zain yang selalu bikin gue "AHELAH APAAN SIH NIH NIH ORANG"
Said yang bikin gue heran dan bersyukur "HUA NIH ORANG BEDA BANGET SAMA WA, ASIK ASIK"
Didin yang selalu merasa bersalah

=======================
itu kesan sekarang, pasti akan lebih menyenangkan ketika kesan-kesan ini mulai berubah atau terlengkapi perlahan-lahan,

ya selain kita komit lulus bareng-bareng dan nahan gak pada nikah dulu.... gak apa kali ya.
Gak sabar nunggu bulan Desember tahun ini. Menyenangkan! :D

bonus, boyband Salam UI (kurang boim yang masih jatoh di pintu masuk)
bayangkan seberapa keras perjuangan Said

Selasa, 22 November 2016

"Wajah"



Mungkin dulu begini lah yang orangtuaku rasakan saat melihat anak yang sedang ia besarkan tiba-tiba marah, kau ingin membalas marahnya namun kau khawatir menggagalkan segalanya.

Mungkin dulu beginilah rasa saat bapak melihatku tidak mau diatur karena aku sudah merasa besar dan bisa menentukan sendiri apa yang ingin ku lakukan.

Mungkin ini perasaan umi ketika anaknya lebih memilih makan di kantin sekolah dan tidak memakan bekal yang umi siapkan sejak shubuh.

Mungkin ini adalah keheranan bapak melihat anaknya bertengkar dengan saudaranya sendiri.

Apakah ini perasaan umi saat aku bahkan lebih suka menghindari dirinya karena tidak mau mendengar ceramahnya?


Pak, Mi,

Sesyahdu ini rasanya saat aku mengucapkan sayang padamu?

Semerdu ini suara tangisanku saat menceritakan masalahku? semerdu ini rasa percayaku?

Sesakit ini melihat dulu aku jatuh sakit? tak peduli berapa banyak yang akan kau korbankan agar aku sembuh dan bisa berlari lagi.

Sebergetar ini ya? Saat tak sengaja mendengar namamu terselip dalam doa anakmu.

dan....


Sebahagia ini kah dahulu, melihat seorang anak lahir dan berkembang dalam binaan tangan penuh kasih sayang?

Love you,
Umi dan Bapak.
Imam sayang kalian.